Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Berserah kepada Tuhan: Renungan Kristen tentang Melepaskan Kendali

Orang yang paling sulit menikmati hidup biasanya paling sibuk mengendalikan semuanya. Saya mengakuinya dengan jujur, waktu dulu saya termasuk golongan itu. Setiap rencana saya susun rapi sampai ke hal-hal kecil. Jadwal kerja, keuangan, bahkan bayangan lima tahun ke depan, semua saya tata sendiri. Dan setiap kali hasilnya melenceng sedikit saja, saya marah. Kepada keadaan, kepada orang lain, dan pelan-pelan kepada diri sendiri yang tidak sanggup menjaga semuanya tetap rapi. Sampai ada titik di mana tubuh dan pikiran saya menolak untuk terus waspada. Di situlah Alkitab memberi kalimat yang sebelumnya hanya saya anggap hafalan. Amsal 3:5-6 tidak pernah terdengar seberat itu sampai saya membaca pelan-pelan: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." Bagian paling mengganjal buat saya bukan kalimat "percayalah". Mengatakan percaya itu gampa...

Panduan Remaja Kristen Menemukan Jati Diri menurut Alkitab

Beberapa kali dalam sebulan terakhir saya melihat anak-anak muda berganti foto profil, berganti gaya bicara, berganti selera musik, mengikuti tren terbaru. Bukan hal yang salah, semua orang pernah melakukannya. Hanya saja di balik semua pergantian itu tersimpan pertanyaan jati diri sederhana: saya ini sebenarnya siapa? Pertanyaan itu kerap datang di malam hari, saat ponsel sudah mati dan kamar sedang sunyi. Usia remaja memang musim paling membingungkan untuk urusan identitas. Baru kemarin merasa dewasa, hari ini merasa belum siap apa-apa. Sekolah menuntut nilai, media sosial menuntut penampilan, orang tua menuntut tanggung jawab, teman menuntut kesetiaan. Di tengah tuntutan yang saling tarik itu, wajar kalau banyak anak muda Kristen bertanya-tanya di mana Allah dalam semua kebingungan ini. Tulisan ini mencoba menjawab dari sisi yang jarang dibuka: apa kata Alkitab tentang siapa kita, sebelum dunia sempat memberi label. Sebelum Dunia Memberi Label Kejadian 1:27 mencatat kalimat ...

Cara Mendidik Anak di Zaman Digital Menurut Alkitab

Perubahan paling senyap dalam keluarga modern terjadi di meja makan. Dulu tempat itu penuh cerita, sekarang sering sunyi karena tiga atau empat kepala menunduk ke layar masing-masing. Tidak ada resep sempurna di artikel ini, dan saya tidak akan berpura-pura ada. Yang ada hanyalah pengamatan seorang penulis yang ikut bergumul dengan pertanyaan yang sama: bagaimana mendidik anak zaman layar tanpa kehilangan hati mereka? Persoalan gadget sudah menjadi ujian iman keluarga zaman ini. Banyak orang tua bertanya berapa jam anak boleh memegang ponsel, padahal pertanyaan lebih tajam berbunyi: siapa yang membentuk hati anak ketika layar menyala? Alkitab memang tidak menyebut kata teknologi, tetapi prinsipnya melampaui zaman. Kehidupan yang kita jalani di depan mereka itulah yang membentuk anak, bukan program yang kita rancang. Rumah Adalah Sekolah Pertama Perintah paling tua tentang pendidikan anak ada di Ulangan 6:6-7. Musa menulis, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini har...

Kasih Karunia: Anugerah Cuma-Cuma yang Tidak Layak Kita Terima

Setiap kali melihat tulisan "gratis" di etalase toko, saya langsung curiga. Pasti ada syarat di baliknya, atau barangnya sudah kedaluwarsa. Saya membawa kecurigaan yang sama ketika membicarakan kasih karunia, dan saya duga banyak orang Kristen mengalaminya. Kedengarannya terlalu bagus untuk jadi kenyataan: Allah memberi tanpa menagih apa pun. Justru di situlah kabar baiknya berada, dan gereja selama dua ribu tahun tidak berhenti memberitakannya. Definisi yang umum berbunyi begini: kasih karunia adalah kemurahan Allah kepada orang yang tidak layak, kebaikan yang Allah berikan kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Rumusan ini saya ambil dari GotQuestions.org, dan ia menolong saya membedakan anugerah ini dari sekadar kebaikan hati. Allah memang baik kepada semua orang. Anugerah ini berbicara lebih spesifik. Ia memberkati orang yang justru pantas menerima sebaliknya. Kebaikan untuk Orang yang Tidak Layak Paulus meletakkan dasar kasih karunia dalam Roma 3:23-24: ...

Kesaksian Kristen Nyata: Keluarga Besar Bertobat Satu per Satu

Sebelas bersaudara, dan hanya satu yang percaya Yesus. Kesaksian Kristen nyata ini bermula dari pernikahan 46 tahun lalu. Suami Ibu Lily T. adalah anak kesepuluh dari sebelas, satu-satunya orang Kristen di keluarganya ketika mereka menikah. Mertuanya sudah sepuluh kali menikahkan anak-anaknya dengan upacara sembahyangan. Saat giliran pasangan muda ini tiba, mereka memilih menikah di gereja. Mama memperbolehkan. Malam itu juga salah satu anggota keluarga bermimpi melihat peti mati di rumah mereka. Bagi keluarga itu, mimpi itu pertanda buruk. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tidak ada yang terjadi. Justru Tuhan memberkati keluarga kecil baru itu berlebihan, melebihi saudara-saudara yang lain. Cerita lengkapnya saya baca di Majalah Gema Ilahi, publikasi Gereja Pantekosta Tabernakel Kristus Gembala Ajaib (GKGA) Surabaya, edisi 26 April 2026. Ibu Lily menuliskannya sendiri, tanpa hiasan. Baris demi baris ia menceritakan bagaimana Tuhan menjangkau satu keluarga besar yang menyem...

Belajar Bersyukur: Kebiasaan Kecil yang Mengubah Hati

Orang mudah bersyukur biasanya bukan tipe yang hidupnya paling mulus. Saya sudah lama menyadari itu. Setiap kali bertemu orang dengan mulut penuh ucapan terima kasih, ceritanya jarang tanpa air mata. Sebaliknya, orang dengan segalanya berjalan lancar justru sering paling cepat mengeluh. Syukur ternyata tidak menunggu keadaan baik. Ia semacam otot, tumbuh justru saat kita memakainya di tengah keadaan yang tidak kita pilih. Perintah, Bukan Pilihan Paulus menulis kalimat sederhana kepada jemaat di Tesalonika: "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu" (1 Tesalonika 5:18). Bukan "dalam keadaan baik", melainkan "dalam segala hal". Jemaat Tesalonika sendiri sedang tidak hidup enak. Paulus menulis surat ini tidak lama setelah mereka mengalami penganiayaan, dan kalimat itu tetap ia taruh di sana. Kalau syukur adalah perintah, berarti ia bukan menunggu rasa. Kita tidak perlu merasa bersyukur d...

Saat Tuhan Diam: Renungan Kristen tentang Penantian

Tidak ada yang lebih melelahkan daripada doa yang tidak kunjung mendapat jawaban. Kita sudah memohon dengan jujur, sudah menunggu berminggu-minggu, lalu langit tetap sunyi. Tuhan mendengar semuanya, hanya saja jawaban-Nya memilih waktu yang tidak pernah kita pahami. Daud pernah berada di titik itu, dan ia berani menuliskannya. Daud membuka Mazmur 13 dengan empat kali mengulang pertanyaan yang sama: "Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?" (Mazmur 13:2). Pemazmur itu duduk di hadapan Allah dan bertanya, kapan jawabannya tiba. Empat Hari di Betania Kisah Lazarus di Yohanes 11 memperlihatkan keheningan Tuhan dalam bentuk paling menusuk. Yesus menerima kabar bahwa Lazarus, sahabat yang Ia kasihi, sakit keras (Yohanes 11:3). Jawaban-Nya berbunyi: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah" (Yohanes 11:4). Lalu Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat-Nya ...

Apa Itu Keselamatan? Dasar Iman Kristen yang Perlu Dipahami

Ada satu percakapan di bukit Golgota yang selalu membuat saya berhenti lama setiap kali membacanya. Dua orang menjalani hukuman mati di kiri dan kanan Yesus. Yang satu mencaci Dia. Yang lain justru menegur temannya, lalu berpaling kepada Yesus dengan kalimat pendek: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja" (Lukas 23:42). Jawaban Yesus tidak kalah pendek: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Lukas 23:43). Hari itu keselamatan datang kepada orang yang sama sekali tidak layak. Orang itu belum sempat menerima baptisan, belum sempat berbuat baik. Ia tak bisa menggerakkan tangan, napasnya tinggal hitungan jam. Ia cuma punya pengakuan dan kepercayaan yang keluar di tengah derita. Kalau keselamatan adalah soal kelayakan, ia pasti gagal total. Lalu muncul pertanyaan yang serius: kalau begitu, apa sebenarnya keselamatan itu? Diselamatkan dari Apa? Keselamatan dalam Alkitab bu...

Kesaksian Kristen Nyata: Rumah Tangga Pulih Setelah Enam Tahun

Enam tahun mereka hidup terpisah. Seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak menuliskan kisahnya di situs Kesaksian SABDA, dan cerita nyata itu saya tulis ulang di sini karena jujur menggambarkan cara Tuhan bekerja lewat hal-hal kecil. Rumah tangganya mulai goyah di tahun kelima belas pernikahan. Perubahan emosi membuat dia dan suaminya sering bertengkar, keadaan keluarga kacau, sampai akhirnya mereka memutuskan hidup berpisah. Ia menjaga anak-anak, suaminya berkewajiban mengirim kebutuhan tiap bulan. Pekerjaan datang lewat perkenalan seorang teman. Ia bekerja di sebuah perusahaan garmen selama sepuluh tahun, dan bertahun-tahun lamanya ia menyembunyikan statusnya sebagai perempuan yang berpisah dari suami, sekadar menghindari pertanyaan rekan kerja. Pendapatan tetap membuat hidupnya terasa lebih ringan, sampai suatu ketika suaminya berhenti mengirim uang bulanan. Pertengkaran lama datang kembali. Kekhawatiran menumpuk, malam-malamnya gelisah, dan ia takut sesuatu terjadi pada anak-ana...

Membangun Kebiasaan Membaca Alkitab Setiap Hari

Bagian paling berat dari membaca Alkitab bukan membacanya, melainkan membacanya lagi keesokan harinya. Kebanyakan dari kita pernah memulai dengan semangat: Alkitab baru keluar dari kemasannya, rencana baca setahun kita unduh, hari pertama berjalan lancar. Lalu tibalah hari kesepuluh, dan rencana itu diam-diam berhenti di suatu tempat antara Keluaran dan Imamat. Saya tidak akan bilang kebiasaan ini mudah. Kalau mudah, tidak akan ada begitu banyak orang Kristen yang bergumul dengan hal yang sama. Tapi ada kabar baik: Alkitab sendiri berbicara tentang kebiasaan ini, dan jalan membangunnya tidak serumit yang kita bayangkan. Alkitab Sendiri Membicarakan Kebiasaan Ini Ketika Yosua baru saja menerima tugas memimpin Israel menggantikan Musa, Tuhan tidak memberinya strategi perang lebih dulu. Perintah pertama yang keluar justru soal kitab Taurat: "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai ...

Kasih yang Lebih Dalam: Memahami 1 Korintus 13

Kalau Anda pernah duduk di pernikahan Kristen, hampir pasti 1 Korintus 13 pernah dibacakan. Pasal ini sudah begitu melekat dengan pesta pernikahan sampai banyak orang menyebutnya nyanyian cinta. Padahal Paulus tidak menulisnya untuk dua mempelai. Ia menulis untuk jemaat yang sedang bertengkar, lengkap dengan segala kekacauannya. Jemaat Korintus waktu itu sibuk membanding-bandingkan karunia rohani. Sebagian bangga bisa berbahasa roh, sebagian lagi bangga dengan pengetahuannya, dan perpecahan mulai terasa. Di tengah suasana seperti itu Paulus menulis pasal ini, dan isinya jauh dari puisi manis. Ditulis untuk Jemaat yang Bertengkar Sebelum masuk ke pasal ini, Paulus menghabiskan satu pasal penuh membahas karunia rohani. Di ujung pasal itu ia menulis, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31). Pasal 13 adalah jalan itu, dan isinya mengejutkan. Bunyinya begini: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan baha...

Panduan Remaja Kristen Menghadapi Tekanan Zaman

Jam sepuluh malam, lampu kamar menyala, dan ponsel di atas meja bergetar dua kali dalam semenit. PR matematika belum selesai, chat grup masih ramai membahas rencana besok. Story teman sekelas baru pulang dari tempat yang tidak pernah kita datangi. Tidak ada satu pun yang berteriak, semuanya berbisik pelan. Tapi kalau kamu membiarkannya, tekanan itu menumpuk, dan dada rasanya sesak juga. Tekanan pada remaja Kristen zaman ini jarang berbentuk penganiayaan terbuka. Ia hadir sebagai standar yang terus bergeser. Nilai harus tinggi, tubuh harus mengikuti tren, dan akun media sosial harus tampak menyenangkan. Belum lagi tuntutan untuk tetap kelihatan rohani di tengah semuanya. Kajian tentang pergaulan remaja Kristen masa kini menyebutnya tantangan ganda, yaitu pengaruh media sosial terhadap sisi psikologis dan sosial, plus desakan untuk tetap berpegang pada nilai iman di lingkungan maya yang sering bertentangan dengan prinsip kekristenan. Berat. Saya tidak akan berpura-pura ini ringan. ...

Membangun Keluarga Kristen yang Kuat di Zaman Modern

Banyak orang Kristen setuju bahwa keluarga adalah tempat pertama anak belajar tentang Tuhan. Tapi persetujuan itu jarang sampai ke praktik. Rumah sering menjadi tempat tidur dan makan, sementara sekolah Minggu yang dianggap bertugas membentuk iman anak. Padahal Alkitab menaruh tanggung jawab itu di pundak orang tua, bukan guru atau pendeta. Ulangan 6:6-7 berbunyi, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." Kata "berulang-ulang" dan "duduk di rumahmu" di ayat ini yang menghentikan saya sejenak. Ini bukan jadwal ibadah mingguan. Ini pola hidup sehari-hari, di meja makan dan di ruang keluarga. Salah satu cara paling sederhana menghidupkan ayat itu adalah mezbah keluarga, kebiasaan berdoa dan membaca Alkitab bersama...

Mengenal Buah Roh: Apa Artinya Hidup Dipimpin Roh

Daftar buah Roh di Galatia 5:22-23 sering kita baca seperti daftar belanja karakter: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Kata-kata itu rapi, dan justru karena rapi kita cenderung memperlakukannya sebagai sembilan pekerjaan rumah. Bulan ini fokus melatih kesabaran, bulan depan fokus penguasaan diri, begitu seterusnya. Padahal dalam bahasa aslinya Paulus hanya memakai satu kata: buah, dalam bentuk tunggal. Pengamatan ini bukan hal baru. "Makna Buah Roh dalam Galatia 5:22-23", artikel di jurnal Manna Rafflesia dari STT Arastamar Bengkulu, merangkumnya begini: buah Roh bukanlah sembilan buah yang berbeda, melainkan satu buah yang utuh, tampil dalam sembilan rupa. Kesembilan sifat itu adalah satu karakter, dan karakter itu bernama Kristus. Berarti pertanyaannya bergeser. Kita tidak lagi bertanya bagaimana cara melatih kesabaran, tetapi bagaimana karakter ini bisa tumbuh dalam diri kita. Jawaban Paulus...

Kesaksian Kristen Nyata: Pertolongan Tuhan Tak Pernah Habis

Tahun 2020, Rosnani Sagala, seorang perempuan di Medan, menerima kabar mengejutkan dari dokter. Penyakit itu tidak ringan, dan kabarnya datang saat ia masih memendam banyak impian dan rencana. Belum sempat pulih dari keterkejutan, tahun berikutnya muncul lagi penyakit lain di organ reproduksinya. Ia menulis sendiri kisahnya di WarungSaTeKaMu.org pada akhir 2022, dan kesaksiannya saya bagikan di sini karena ceritanya jujur tentang apa artinya percaya ketika kabar buruk datang bertubi-tubi. Dua tahun itu berat secara emosional. Ada masa ketika ia bertanya mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi, masa ketika ia mengasihani diri sendiri dan berharap orang-orang terdekat mengerti. Hampir dua tahun perasaannya tidak baik-baik saja. Saya suka kejujuran semacam ini. Banyak kesaksian hanya menampilkan akhir bahagia, padahal justru di bagian tengah cerita ada banyak hal nyata. Di tengah kekalutan itu, ia teringat Filipi 1:29. Paulus menulis bahwa kepada orang percaya dikaruniakan bukan...