Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Tidak Perlu Kuatir: Pelajaran dari Burung Pipit di Matius 6

Burung pipit itu tidak membawa tas kerja Setiap pagi di halaman rumah-rumah yang saya lewati, burung pipit mulai sibuk. Mereka mencari biji-bijian, terbang dari pagar ke atap, lalu kembali lagi. Tak seorang pun menugasi mereka. Tak seorang pun membekali mereka peta tempat makan. Sampai sore hari mereka tetap makan. Yesus menunjuk pemandangan sederhana ini ketika berbicara tentang kekuatiran. "Lihatlah burung-burung di udara, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, tetapi diberi makan oleh Bapamu. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada mereka?" (Matius 6:26 TB). Perbandingan ini menusuk. Burung pipit tidak pernah belajar asuransi jiwa. Mereka tidak menyimpan uang. Mereka hidup dari tangan Bapanya, hari demi hari. Kita tidak. Kita menghitung gaji bulan depan sambil mengingat cicilan bulan lalu. Kita buka ponsel di tengah malam untuk mengecek kabar yang tidak membuat kita lebih tidur nyenyak. Kekuatiran menjadi pekerjaan sampinga...

Diamlah dan Ketahuilah: Renungan Mazmur 46 di Tengah Dunia yang Guncang

Ponsel bergetar sepanjang hari. Kabar buruk masuk lewat grup keluarga dan lini masa, kadang sampai ke notifikasi jam tidur, lalu kepala ikut ramai menyusul. Justru di tengah keriuhan macam ini Kitab Mazmur menyimpan satu perintah yang bunyinya nyaris provokatif. “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” (Mazmur 46:11 TB). Mazmur 46 tidak lahir di ruangan yang teduh. Nyanyian dari bani Korah ini membuka diri dengan pemandangan runtuh. “Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya” (Mazmur 46:2-3). Kata sekalipun diulang tiga kali berturut-turut. Penulis mazmur tidak menutup mata dari kemungkinan paling buruk. Ia menyebut bencana itu satu per satu lebih dulu, baru kemudian memutuskan untuk tidak takut. Kunci ketegarannya ada di baris pembuka. “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (Mazm...

Remaja Kristen dan Pacaran: Menjaga Hati Sebelum Waktunya Tiba

Grup chat kelas bisa berubah suasananya dalam semalam. Cukup satu anggota mulai pacaran, obrolan langsung bergeser dari PR ke drama siapa membalas pesan siapa dalam lima menit. Di luar layar, persoalannya lebih serius daripada kelihatannya. Anak muda Kristen bertanya apakah pacaran boleh, sampai mana batasnya, dan mengapa jawaban orang dewasa sering terasa mengambang. Saya ingin menjawabnya lurus sejak awal supaya tidak ada yang menggantung. Alkitab tidak pernah menyebut pacaran sebagai dosa. Kitab itu bicara soal sesuatu yang lebih dalam, yaitu arah hati di balik hubungan tersebut dan cara kita memperlakukan orang lain sebelum musim yang tepat tiba. Di titik inilah remaja perlu bekaling, bukan larangan kosong. Kidung Agung sudah memberi peringatan duluan Buku paling romantis di Alkitab ternyata juga yang paling tegas soal waktu. Kidung Agung merayakan cinta antara pengantin dengan bahasa yang berani, sampai-sampai ada pembaca yang salah tingkah. Justru dari tengah puitis itu m...

Ketika Anak Bertanya tentang Tuhan: Panduan Orang Tua Kristen

Pertanyaan anak soal Tuhan jarang datang di saat yang pas. Kadang tepat ketika sendok menyentuh piring, kadang justru setelah kita memadamkan lampu kamarnya. Mulut kecil itu bicara entah dari mana asalnya. Kenapa kita berdoa kalau Tuhan tidak kelihatan? Di mana rumah Yesus dulu? Apakah nenek masih bisa melihat kita dari surga? Orang tua sering terdiam bukan karena tidak percaya, melainkan karena takut menjawab salah. Yang sering terjadi setelahnya, orang tua hanya meloloskan pertanyaan itu. "Nanti kamu besar juga paham," begitu bunyi jawaban yang lazim. Anak menyimpan kalimat itu, dan beberapa tahun kemudian ia benar-benar berhenti bertanya. Justru saat itulah kita harus cemas. Pertanyaan macam ini sudah lama dicatat Alkitab ternyata memotret momen semacam itu dengan tepat. Dalam Ulangan 6, Musa menyampaikan perintah Allah kepada umat sebelum mereka masuk Kanaan, dan di tengah pengajarannya Allah menyiapkan skenario untuk masa depan. “Apabila di kemudian hari anakmu b...

Apa Itu Gereja Menurut Alkitab? Jawaban Kata Ekklesia yang Sering Terlewat

Tanyakan kepada anak-anak sekolah minggu apa itu gereja. Jawabannya biasanya satu, rumah Tuhan. Gedung dengan menara dan salib di puncaknya, deretan bangku kayu, papan nama besar di muka pintu. Orang dewasa menjawab dengan cara serupa, cuma bahasanya lebih panjang. Persoalan muncul saat kita ingat bahwa gedung boleh berganti pemilik, boleh dibongkar, bahkan habis terbakar. Kalau temboknya runtuh dan papan namanya turun, apakah gereja ikut lenyap bersamanya? Alkitab memberi jawaban dari arah lain, dan petunjuknya ada pada sebuah kata Yunani. Ekklesia, nama untuk orang-orang Perjanjian Baru memakai kata ekklesia untuk gereja. Preposisi ek berarti keluar, kata kerja kaleo berarti memanggil. Gabungan keduanya bermakna jemaat, sekumpulan orang yang dipanggil keluar ( SarapanPagi Biblika ). Situs tanya jawab teologi GotQuestions Indonesia merumuskannya hampir sama, perkumpulan atau jemaat yang dipanggil keluar dan dikhususkan. Dari mana pun kita memulai, kata itu menunjuk manusia. T...

Kesaksian Fellisia, Anak Nias yang Takut Kegelapan: Belajar Berani dari Daud dan Goliat

Rumah nenek di Nias menjadi sunyi begitu matahari tenggelam, dan di sanalah Fellisia Ilona Zamasi melewati sebagian masa kanak-kanaknya sementara orang tuanya merantau mencari nafkah. Orang-orang melihatnya sebagai anak sekolah minggu yang tenang dan rajin. Nyaris tak ada yang tahu bahwa setiap kali suasana gelap, pikiran anak dua belas tahun ini sibuk membentuk bayangan-bayangan yang membuat jantungnya berdebar. "Benar kak, dulu aku takut dan malu sekali," jawab Fellisia ketika ditanya apakah ia memang dulu anak yang penakut. Kesaksian ini dimuat Jawaban.com pada 24 Agustus 2026 dalam liputan pelayanan anak Superbook. Rasa minder ia rasakan begitu dekat sampai-sampai dianggapnya bagian dari dirinya. "Emang kayak gitu sifatku waktu itu," tambahnya jujur. Ketakutannya hadir dalam bentuk-bentuk sederhana. Rumah yang ditinggal orang tua. Ruangan tanpa cahaya. "Aku takutnya setan atau ada apa yang mungkin terjadi," ceritanya. Ia tidak menangis ataupun b...

Cara Mengatur Keuangan Menurut Alkitab: Panduan Praktis

Tanggal tua punya cara bicaranya sendiri. Notifikasi cicilan masuk saat saldo tinggal secuil, anak meminta tambahan uang jajan. Sebagian orang melewatinya tanpa drama, sebagian lagi menjalaninya tiap bulan dengan cerita yang sama persis. Alkitab tidak pernah menepi dari urusan uang. Penulis Kristen Randy Alcorn bahkan menghitung bahwa Yesus berbicara tentang harta lebih sering daripada gabungan tema surga dan neraka. Soal angka persisnya orang boleh berbeda pendapat, arahnya tidak. Dari pemuda kaya sampai hamba yang menerima talenta, uang terus menjadi bahan ajar, justru karena ia menyentuh bagian hati yang paling dalam. Uang Punya Daya untuk Memimpin Hati Yesus menyatakannya lugas, "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" (Matius 6:21). Kalimat ini menjelaskan mengapa satu notifikasi bank bisa mengubah suasana hati seharian. Harta tidak sekadar kita pakai, ia juga ikut memimpin. Perhatian kita mengikuti ke mana uang kita pergi, entah itu ke cicilan...

Renungan Mazmur 23: Tuhan Gembalaku di Padang dan di Lembah

Di banyak rumah Kristen di Indonesia, Mazmur 23 menghiasi bingkai dan dinding ruang tamu. Orang membacakannya di pemakaman, menghafalkannya di kelas sekolah minggu, menyalinnya ke kartu ucapan. Akrabnya sampai kita bisa membacanya tanpa mendengar apa yang kita ucapkan. Daud menulisnya dari posisi jauh dari tenang. Sebagian penafsir mengaitkan suasana mazmur ini dengan tahun-tahun Saul memburunya, masa gua dan rute malam, ketika hidupnya bergantung pada satu langkah di depan. Kalau kita baca dari titik itu, pembukaannya jadi terdengar lebih berat. Pengucap kalimat itu bukan orang dengan hidup yang sedang enak. Bunyi awalnya begini, "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang" (Mazmur 23:1-2). Padang dan air seperti itu tidak muncul sendirinya. Phillip Keller, mantan peternak domba yang menulis buku A Shepherd Looks at Psalm 23, menunjukkan bahwa lahan layak untuk domba adalah hasi...

Remaja dan Rasa Malu Mengaku Kristen di Sekolah

Adegan ini berulang di banyak sekolah dengan variasi kecil. Teman sekelas bertanya soal rencana akhir pekan. Jawaban futsal dan nongkrong keluar dengan suara normal. Begitu sampai pada kebaktian pemuda, nada bicara turun, lalu muncul kalimat penyelamat, "ada acara keluarga." Padahal yang ditunda itu cuma ibadah rutin, kegiatan yang sebenarnya ia sukai. Pola ini mudah ditemui, baik di sekolah maupun kampus. Tak seorang pun guru melarang siswa membawa Alkitab. Tak seorang pun teman menghukum kawan karena rajin ke gereja. Tekanan yang bekerja justru lebih halus. Banyak remaja menghitung cepat di kepala, label anak gereja kurang menjual, lalu acara rohani mereka bungkus dengan kata lain. Sebagian menolak menyebutnya gengsi dan memilih kata privasi. Saya memilih jujur dari awal. Menurut saya, menyembunyikan semuanya di balik kata privasi rasanya seperti pelarian rapi. Setiap orang memang berhak menjaga hal pribadinya, dan iman seseorang bukan milik umum. Tetapi kalau kita re...

Cara Bicara saat Rumah Sedang Panas: Komunikasi Suami Istri Menurut Alkitab

Pertengkaran rumah tangga jarang sebesar isinya. Tutup pasta gigi yang lupa ditutup, piring menumpuk di bak pencuci, pesan singkat yang menunggu balasan lima jam. Di atas kertas, daftar itu tampak remeh. Kenyataannya hal-hal sekecil ini sanggup membuat dua orang dewasa saling diam berhari-hari. Yang meledak sebenarnya bukan pasta giginya. Satu kalimat, "Kamu lupa menutup pasta gigi lagi," bunyinya ramah di mulut orang yang sedang senyum, dan menusuk ketika amarah ikut keluar. Isi pesannya identik. Nada bicaralah yang menentukan sore itu berakhir damai atau ribut. Menurut saya, persoalan komunikasi dalam pernikahan jarang berkaitan dengan jumlah kata. Pasangan bicara setiap hari, mulai soal harga beras sampai kabar mertua. Yang langka adalah cara bicara saat keduanya sedang berbeda pendapat, di detik ketika suhu naik dan lidah ingin menang. Orang bisa membangun rumahnya lewat cara bicara di titik ini, bisa juga merobohkannya. Lambat Berkata-kata Itu Kerja Berat Yakob...

Iman kepada Tritunggal: Satu Allah, Tiga Pribadi

Tritunggal barangkali doktrin Kristen yang paling sering membuat orang bingung. Katolik, Protestan, Pantekosta, dan aliran besar lainnya memegangnya bersama-sama, meski jarang ada yang berani menjelaskannya secara utuh. Hampir semua ibadah pembaptisan memakai kalimat dengan bentuk sama, dan kalimat itu keluar dari mulut Yesus sendiri sesaat sebelum Ia naik ke surga. Tak satu pun halaman Alkitab memuat kata "Tritunggal". Alkitab justru merekam kenyataannya, lalu gereja perdana mencetuskan istilah itu belakangan. Setelah bangkit, Yesus memberi perintah besar kepada murid-murid-Nya, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Matius 28:19). Satu kata "nama" untuk tiga pribadi yang berdiri berdampingan. Bukan "nama-nama", melainkan satu nama tunggal untuk ketiganya, tanpa jenjang. Soal jumlah Allah, Alkitab juga tak goyah. Ulangan 6:4 berbunyi, "Dengarlah, hai orang I...

Kesaksian Rifka: Dari Dunia Malam ke Hidup Baru dalam Kristus

Solusi TV baru saja menyiarkan episode Solusi Talk dengan judul panjang dan jujur, "Bertahun-tahun Hidup di Dunia Malam, Aku Akhirnya Merasa Sudah Tidak Sanggup". Tokohnya perempuan muda. Ayahnya pergi saat ia kecil, ia pun terjerumus ke kehidupan malam Jakarta, hamil di luar nikah, lalu rela melepas anaknya supaya anak itu mendapat hidup lebih layak. Jawaban.com menuliskan namanya Rifka, sedangkan keterangan tayangan Solusi TV menyebut Ribka Rahayu. Di tulisan ini saya pakai nama Rifka saja. Luka Lama dari Rumah Sendiri Kesaksian ini tidak dimulai di dunia malam, melainkan di sebuah rumah yang sepi. Ayah pergi ketika ia masih balita, dan ibunya bekerja keras mencari nafkah. Rifka ikut membantu keluarga sampai larut malam, sering jadi sasaran amarah, dan merasa orang serumah tak pernah menerima dirinya apa adanya. Luka semacam ini jarang orang ceritakan secara terbuka. Ia tumbuh diam-diam sampai pemiliknya dewasa. Pindah ke Jakarta untuk sekolah tampak seperti awal b...

Mengendalikan Amarah Menurut Alkitab Sebelum Matahari Terbenam

Dari semua perkara dalam Alkitab, amarah mungkin mendapat perlakuan paling jujur. Kitab ini tidak meminta kita berpura-pura kebal ledakan. Api itu memang akan naik; Alkitab justru mengajari cara mengurusnya sebelum nyala ini menjilat orang-orang yang kita sayangi. Dalam suratnya kepada jemaat Efesus, Paulus menulis, "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis" (Efesus 4:26-27). Di sini rasul memperlakukan marah sebagai gejolak nyata, sesuatu yang memang bisa menimpa siapa pun termasuk orang percaya. Larangannya menyasar hal lain, yaitu membiarkannya bermalam. Bara itu, kalau ikut naik ke tempat tidur, akan menyala lagi besok pagi dengan bahan bakar lebih banyak. Bahasa Paulus rupanya berakar pada Mazmur 4:4, "Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam." Mazmur menunjuk tempat tidu...

Kasih Setia Tuhan Selalu Baru Tiap Pagi: Renungan Ratapan 3:22-23

Tahun 586 sebelum Masehi, pasukan Babel meratakan Yerusalem. Bait Allah yang selama ratusan tahun menjadi pusat hidup bangsa itu runtuh, tembok kota dirobohkan, dan banyak orang yang selamat diboyong ke pembuangan. Kitab Ratapan lahir dari puing-puing peristiwa itu. Isinya nyaris sepenuhnya berupa tangisan, dan justru dari tengah kitab sedih ini keluar salah satu kalimat paling terang di seluruh Alkitab. "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23, TB) Dari tengah reruntuhan Kalimat itu gampang kita baca saat hidup sedang baik. Barulah terasa berat ketika kita ingat dari mana kalimat itu ditulis. Secara tradisi kitab ini melekat pada nama Nabi Yeremia, saksi mata kehancuran kotanya sendiri. Dia tidak menulis dari ruangan yang nyaman. Ratapan adalah puisi orang yang kehilangan hampir segalanya, sehingga pengakuan iman di tengahnya bukan basa-basi. Frasa "kasih setia" menerj...

Remaja Kristen dan Media Sosial: Melatih Mata Menurut Alkitab

Jam 23:40. Lampu kamar sudah lama mati, layar ponsel masih menyala. Ibu jari bergerak naik, lagi, lagi. Wajah-wajah di umpan media sosial berganti tanpa henti, semua tampak bahagia, semua sedang menjalani hidup yang lebih seru dari milikmu. Mata boleh saja melihat begitu saja; hati tidak wajib menelan semuanya. Di situ letak sulitnya berhenti. Tombol "suka" yang kini dianggap bagian paling alami dari internet ternyata masih muda. Facebook memasangnya baru pada 9 Februari 2009, setelah hampir dua tahun perdebatan di dalam perusahaan, sampai Mark Zuckerberg yang semula menolak akhiranya menyerah pada desakan timnya. Sejak hari itu setiap unggahan membawa ruang tunggu kecil. Berapa orang menyukai, siapa berkomentar, naik tidaknya angka. Menunggu kabar semacam ini terasa sepele, tetapi diulang lima puluh kali sehari, cukup kuat untuk mengatur suasana hati seseorang. Data besar menggambarkan skalanya. Survei nasional Common Sense Media di Amerika Serikat mencatat remaja usia...