Orang yang paling sulit menikmati hidup biasanya paling sibuk mengendalikan semuanya. Saya mengakuinya dengan jujur, waktu dulu saya termasuk golongan itu. Setiap rencana saya susun rapi sampai ke hal-hal kecil. Jadwal kerja, keuangan, bahkan bayangan lima tahun ke depan, semua saya tata sendiri. Dan setiap kali hasilnya melenceng sedikit saja, saya marah. Kepada keadaan, kepada orang lain, dan pelan-pelan kepada diri sendiri yang tidak sanggup menjaga semuanya tetap rapi. Sampai ada titik di mana tubuh dan pikiran saya menolak untuk terus waspada. Di situlah Alkitab memberi kalimat yang sebelumnya hanya saya anggap hafalan. Amsal 3:5-6 tidak pernah terdengar seberat itu sampai saya membaca pelan-pelan: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." Bagian paling mengganjal buat saya bukan kalimat "percayalah". Mengatakan percaya itu gampa...