Langsung ke konten utama

Panduan Remaja Kristen Menghadapi Tekanan Zaman

Sekelompok remaja duduk santai sambil melihat layar ponsel bersama

Jam sepuluh malam, lampu kamar menyala, dan ponsel di atas meja bergetar dua kali dalam semenit. PR matematika belum selesai, chat grup masih ramai membahas rencana besok. Story teman sekelas baru pulang dari tempat yang tidak pernah kita datangi. Tidak ada satu pun yang berteriak, semuanya berbisik pelan. Tapi kalau kamu membiarkannya, tekanan itu menumpuk, dan dada rasanya sesak juga.

Tekanan pada remaja Kristen zaman ini jarang berbentuk penganiayaan terbuka. Ia hadir sebagai standar yang terus bergeser. Nilai harus tinggi, tubuh harus mengikuti tren, dan akun media sosial harus tampak menyenangkan. Belum lagi tuntutan untuk tetap kelihatan rohani di tengah semuanya. Kajian tentang pergaulan remaja Kristen masa kini menyebutnya tantangan ganda, yaitu pengaruh media sosial terhadap sisi psikologis dan sosial, plus desakan untuk tetap berpegang pada nilai iman di lingkungan maya yang sering bertentangan dengan prinsip kekristenan.

Berat. Saya tidak akan berpura-pura ini ringan. Yang sering membuat beban makin berat justru kalimat penyemangat setengah hati, seperti "kamu kuat, Tuhan pasti menolong". Kalimat itu benar, tapi tidak menjawab kenapa malam ini rasanya masih berat. Justru bagian yang terasa berat itulah yang perlu kita bicarakan dengan jujur.

Merasa Sesak Bukan Berarti Imanmu Goyah

Salah satu ayat andalan ketika hidup terasa sesak adalah 1 Korintus 10:13, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu." Baca pelan-pelan bagian akhirnya, "Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya."

Slogan populer itu, "Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi kekuatan kita", baru setengah cerita. GotQuestions.org menjelaskan maksud ayat ini bukan "kamu pasti kuat sendiri". Maksudnya begini: ketika kamu tidak kuat, Allah tetap setia dan selalu menyediakan jalan keluar supaya kamu bisa bertahan. Yang pertama membuat kita malu mengaku lemah; yang kedua justru mengizinkan kita datang apa adanya.

Jadi kalau minggu ini kamu merasa habis, itu bukan kegagalan iman. Itu tanda kamu manusia. Pertanyaannya bukan "kenapa aku rapuh", melainkan "jalan keluar mana yang Tuhan sediakan untuk hari ini". Kadang jawabannya sederhana: berhenti membandingkan diri, tidur lebih awal, atau mengaku jujur pada satu orang yang kamu percaya.

Terus, Apa yang Bisa Kamu Lakukan?

Mulai dari hal yang paling dekat, media sosial. Sulit merasa cukup kalau setiap hari hanya melihat versi terbaik hidup orang lain. Coba periksa satu per satu akun yang kamu ikuti. Akun yang membuatmu membandingkan diri dan gelisah setiap kali terbuka, tidak salahnya berhenti mengikuti. Itu bukan tindakan benci, melainkan cara sederhana menjaga hati agar tidak terus membandingkan diri.

Hidup iman bukan urusan sendirian. Paulus menulis kepada Timotius, "Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni" (2 Timotius 2:22). Kata "bersama-sama" di situ bukan hiasan. Kejarlah semua itu dengan orang-orang yang hatinya berseru kepada Tuhan.

Carilah satu-dua teman yang bisa diajak jujur dan satu orang dewasa yang kamu percaya, entah orang tua, pembina, atau pendeta. Beban terasa lebih ringan ketika kamu membaginya dengan orang lain, bukan karena masalahnya hilang, tapi karena kamu tidak lagi memikulnya sendirian dalam diam. Soal kecemasan yang berkepanjangan, artikel terpisah sudah pernah membahasnya lebih dalam.

Mazmur 119:9 mengajukan pertanyaan yang tidak pernah usang, "Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu." Firman bekerja pelan, seperti akar di dalam tanah. Membaca beberapa ayat setiap malam sebelum tidur, sekalipun hanya satu pasal kecil, lama-lama mengubah cara kita menilai diri sendiri dan orang lain.

Muda Bukan Alasan

Paulus pernah menulis kepada Timotius, anak muda yang memimpin jemaat di Efesus, "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu" (1 Timotius 4:12). Timotius waktu itu mungkin sudah berusia sekitar tiga puluhan, tetap muda di mata Paulus dan jemaat yang lebih tua. Tapi justru di situ pesannya, usia muda bukan alasan untuk tidak berdampak.

Menjadi teladan di sini tidak berarti sempurna. Ia berarti konsisten dalam hal-hal kecil, cara bicara, cara memperlakukan orang, kesetiaan pada janji. Dunia sedang menunggu anak muda yang isinya sama dengan tampilannya.

Ada satu kalimat yang ingin saya simpan untuk penutup. Saat Yosua muda harus menggantikan Musa memimpin bangsa yang besar, Tuhan berkata, "Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke mana pun engkau pergi" (Yosua 1:9). Yosua punya alasan untuk gentar, dan Tuhan tidak menyuruhnya berpura-pura berani. Ia hanya menyuruhnya mengingat satu hal, bahwa Ia menyertai.

Besok pagi, sebelum membuka ponsel, coba baca Yosua 1:9 sekali, pelan-pelan. Lalu jalani hari itu dengan satu keyakinan, kamu tidak berjalan sendirian. Tekanan boleh datang dan pergi; penyertaan itu tidak.

Referensi

1. Alkitab TB (LAI). 1 Korintus 10:13; 2 Timotius 2:22; Mazmur 119:9; 1 Timotius 4:12; Yosua 1:9. Ayat dicek langsung di bible.com.
2. GotQuestions.org Indonesia. "Makna 1 Timotius 4:12, 'Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda'": baca artikelnya.
3. GotQuestions.org Indonesia. "Apa artinya pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan biasa (1 Korintus 10:13)?": baca artikelnya.
4. "Peran Penggunaan Media Sosial bagi Pergaulan Remaja Kristen Masa Kini", ResearchGate: lihat publikasinya.
5. Gambar: sekelompok remaja menggunakan ponsel bersama, foto oleh Vanessa Loring via Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kasih yang Lebih Dalam: Memahami 1 Korintus 13

Kalau Anda pernah duduk di pernikahan Kristen, hampir pasti 1 Korintus 13 pernah dibacakan. Pasal ini sudah begitu melekat dengan pesta pernikahan sampai banyak orang menyebutnya nyanyian cinta. Padahal Paulus tidak menulisnya untuk dua mempelai. Ia menulis untuk jemaat yang sedang bertengkar, lengkap dengan segala kekacauannya. Jemaat Korintus waktu itu sibuk membanding-bandingkan karunia rohani. Sebagian bangga bisa berbahasa roh, sebagian lagi bangga dengan pengetahuannya, dan perpecahan mulai terasa. Di tengah suasana seperti itu Paulus menulis pasal ini, dan isinya jauh dari puisi manis. Ditulis untuk Jemaat yang Bertengkar Sebelum masuk ke pasal ini, Paulus menghabiskan satu pasal penuh membahas karunia rohani. Di ujung pasal itu ia menulis, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31). Pasal 13 adalah jalan itu, dan isinya mengejutkan. Bunyinya begini: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan baha...

Kesaksian Kristen Nyata: Pertolongan Tuhan Tak Pernah Habis

Tahun 2020, Rosnani Sagala, seorang perempuan di Medan, menerima kabar mengejutkan dari dokter. Penyakit itu tidak ringan, dan kabarnya datang saat ia masih memendam banyak impian dan rencana. Belum sempat pulih dari keterkejutan, tahun berikutnya muncul lagi penyakit lain di organ reproduksinya. Ia menulis sendiri kisahnya di WarungSaTeKaMu.org pada akhir 2022, dan kesaksiannya saya bagikan di sini karena ceritanya jujur tentang apa artinya percaya ketika kabar buruk datang bertubi-tubi. Dua tahun itu berat secara emosional. Ada masa ketika ia bertanya mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi, masa ketika ia mengasihani diri sendiri dan berharap orang-orang terdekat mengerti. Hampir dua tahun perasaannya tidak baik-baik saja. Saya suka kejujuran semacam ini. Banyak kesaksian hanya menampilkan akhir bahagia, padahal justru di bagian tengah cerita ada banyak hal nyata. Di tengah kekalutan itu, ia teringat Filipi 1:29. Paulus menulis bahwa kepada orang percaya dikaruniakan bukan...