Kalau Anda pernah duduk di pernikahan Kristen, hampir pasti 1 Korintus 13 pernah dibacakan. Pasal ini sudah begitu melekat dengan pesta pernikahan sampai banyak orang menyebutnya nyanyian cinta. Padahal Paulus tidak menulisnya untuk dua mempelai. Ia menulis untuk jemaat yang sedang bertengkar, lengkap dengan segala kekacauannya.
Jemaat Korintus waktu itu sibuk membanding-bandingkan karunia rohani. Sebagian bangga bisa berbahasa roh, sebagian lagi bangga dengan pengetahuannya, dan perpecahan mulai terasa. Di tengah suasana seperti itu Paulus menulis pasal ini, dan isinya jauh dari puisi manis.
Ditulis untuk Jemaat yang Bertengkar
Sebelum masuk ke pasal ini, Paulus menghabiskan satu pasal penuh membahas karunia rohani. Di ujung pasal itu ia menulis, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31). Pasal 13 adalah jalan itu, dan isinya mengejutkan.
Bunyinya begini: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing" (1 Korintus 13:1). Gong dan canang termasuk alat musik paling keras, tapi tidak membawa pesan apa pun. Paulus tidak sedang meremehkan karunia rohani. Ia sedang menaruhnya di bawah sesuatu yang lebih utama.
Pilihannya tidak acak. Bahasa roh dan pengetahuan adalah kebanggaan utama jemaat Korintus, dua hal yang paling sering mereka jadikan alat pamer. Paulus mengambil dua kebanggaan itu dan menaruhnya di bawah satu ukuran: tanpa kasih, semua itu cuma suara.
Dicintai Tanpa Dihitung-hitung
Lalu Paulus menjabarkannya satu per satu. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri" (1 Korintus 13:4-5). Semuanya kata kerja, dan sebagian besar diawali kata "tidak". Kata untuk sabar dalam bahasa aslinya berarti lambat marah, orang yang punya ruang untuk menunggu.
Dia melanjutkan, "Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu" (1 Korintus 13:5-7). Kalimat tentang menyimpan kesalahan itu yang paling sering saya baca ulang. Terjemahan lain memakai kata yang lebih tajam: tidak memperhitungkan kesalahan. Kata itu biasa dipakai untuk pembukuan, mencatat utang piutang.
Banyak rumah tangga justru hidup dari catatan itu. Siapa lebih dulu minta maaf, siapa yang minggu lalu berkata kasar, siapa yang sudah lama tidak membantu. Semua dicatat rapi, lalu dipakai lagi saat pertengkaran berikutnya. Padahal gambaran di ayat ini tidak menyisakan ruang untuk buku catatan.
Bagian ini menuntut banyak dari kita, dan jujur saja, saya sering gagal di ayat 5. Lebih mudah mengasihi orang yang tidak pernah menyakiti kita. Paulus tahu itu, makanya ia tidak menulis "usahakan perasaan hangat", melainkan "kejarlah kasih itu" (1 Korintus 14:1). Sesuatu yang dikejar berarti tindakan, bukan perasaan yang menunggu dibangunkan.
Yang Tidak Berkesudahan
Di ujung pasal, Paulus membuat perbandingan yang jarang kita sadari: "Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap" (1 Korintus 13:8). Dua kebanggaan jemaat Korintus, bahasa roh dan pengetahuan, justru yang paling cepat berakhir. Yang tinggal hanya kasih, satu-satunya yang tidak berakhir.
Penutup pasal ini berbunyi, "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih" (1 Korintus 13:13). Saya tidak akan membedah kenapa ia lebih besar dari iman dan pengharapan. Biarkan kalimat itu berdiri sendiri dan menguji kita masing-masing. Mungkin karena iman dan pengharapan suatu hari tidak diperlukan lagi, sementara kasih tidak pernah berhenti bekerja.
Semua ini punya satu sumber. Yohanes menulis, "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita" (1 Yohanes 4:19). Yesus mengucapkan perintah yang sama tepat setelah membasuh kaki murid-murid-Nya: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi" (Yohanes 13:34). Perintah itu keluar dari seseorang yang sedang berlutut dengan handuk, bukan dari mimbar. Paulus juga menyebut kasih sebagai buah pertama Roh (Galatia 5:22), dan saya pernah membahasnya lebih panjang di artikel Mengenal Buah Roh: Apa Artinya Hidup Dipimpin Roh.
Jadi setiap kali pasal ini dibacakan di pelaminan, ingat: pasal ini pertama kali ditulis untuk jemaat yang bertengkar. Lalu pulanglah dan mulai dari hal kecil, menjawab dengan pelan padahal ingin membentak, atau memaafkan sebelum tidur. Kita bisa mulai dari sana, karena Allah memulai lebih dulu.
Referensi
1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). 1 Korintus 12:31; 13:1, 13:4-8, 13:13; 14:1; 1 Yohanes 4:19; Yohanes 13:34; Galatia 5:22. Semua ayat di atas diverifikasi langsung di bible.com.
2. "Apa artinya kasih itu sabar?", GotQuestions.org Indonesia: baca artikelnya.
3. "Apa artinya bahwa kasih tidak menyimpan kesalahan (1 Korintus 13:5)?", GotQuestions.org Indonesia: baca artikelnya.
4. "1 Korintus 13" (gambaran umum pasal), Wikipedia bahasa Indonesia: baca di sini.
5. Gambar: sepasang tangan saling menggenggam (hitam putih), foto oleh Pixabay via Pexels.
Komentar
Posting Komentar