Tahun 2020, Rosnani Sagala, seorang perempuan di Medan, menerima kabar mengejutkan dari dokter. Penyakit itu tidak ringan, dan kabarnya datang saat ia masih memendam banyak impian dan rencana. Belum sempat pulih dari keterkejutan, tahun berikutnya muncul lagi penyakit lain di organ reproduksinya. Ia menulis sendiri kisahnya di WarungSaTeKaMu.org pada akhir 2022, dan kesaksiannya saya bagikan di sini karena ceritanya jujur tentang apa artinya percaya ketika kabar buruk datang bertubi-tubi.
Dua tahun itu berat secara emosional. Ada masa ketika ia bertanya mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi, masa ketika ia mengasihani diri sendiri dan berharap orang-orang terdekat mengerti. Hampir dua tahun perasaannya tidak baik-baik saja. Saya suka kejujuran semacam ini. Banyak kesaksian hanya menampilkan akhir bahagia, padahal justru di bagian tengah cerita ada banyak hal nyata.
Di tengah kekalutan itu, ia teringat Filipi 1:29. Paulus menulis bahwa kepada orang percaya dikaruniakan bukan saja kepercayaan kepada Kristus, melainkan juga kesempatan untuk menderita bagi Dia. Baginya, menderita bagi Kristus berarti tetap berusaha hidup sesuai kehendak-Nya di tengah masa sulit, meskipun tidak mudah. Ia mengaku tidak mudah melakukan itu, dan saya pikir bagian inilah yang jarang dibicarakan orang.
Pertolongan Lewat Hal-Hal Kecil
Perlahan, hal-hal kecil mulai berubah. Tuhan mengingatkannya lewat saat teduh, doa, dan pembacaan firman bahwa masih ada harapan untuk sembuh. Banyak orang di sekitarnya mendoakan dan menguatkannya. Ketika ia butuh dana mendadak, seorang teman menolongnya. Jumlahnya tidak sedikit. Pertolongan datang lewat tangan-tangan manusia biasa, persis seperti cara Tuhan bekerja.
Rasul Paulus menulis di Roma 8:28 bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Rosnani mengalaminya secara harfiah. Lewat pertemuan dengan seorang dokter, ia mendapat pengertian baru bahwa penyakit pertamanya masih bisa disembuhkan. Sejak itu ia berani bermimpi lagi. Selama sebulan ia berdoa minta dipertemukan dengan dokter yang tepat, dan pada Maret 2022 doa itu dijawab. Pemeriksaan lanjutan dan pengobatan pun bisa dimulai. Jawaban itu jauh dari spektakuler. Tidak ada suara dari langit, tidak ada mukjizat kilat. Datangnya lewat hal-hal biasa saja, berupa jadwal rumah sakit dan tenaga medis yang menangani. Juga keberanian untuk memulai pengobatan. Bagi saya, justru di situlah Tuhan sering bekerja.
Satu bagian yang sulit saya lupakan adalah soal keuangan. Rosnani sudah bekerja tiga setengah tahun, tabungannya tipis. Pengobatan bulanan bisa menguras tabungan, apalagi bila berjalan lama. Setiap bulan ia mengalokasikan 30 sampai 50 persen penghasilannya untuk biaya pengobatan, dan ia berbicara baik-baik dengan orang tuanya bahwa fokus dananya untuk pengobatan dulu. Menurut saya, pengobatan jangka panjang sering menguji iman lewat jalur yang membosankan, yaitu anggaran bulanan. Kesaksian Rosnani membuktikan hal itu. Pada Desember 2020, saat ia masih berjuang menerima diagnosis, ia justru mendapat promosi di pekerjaan. Kenaikannya tidak signifikan, tetapi cukup untuk menabung lagi. Ia enggan memastikan promosi itu ada hubungannya dengan persiapan pengobatannya. Ia hanya yakin satu hal, Tuhan sudah menyiapkan segalanya.
Apa yang Diajarkan Proses Itu?
Pernah ia berdoa begini: "Tuhan, jika Tuhan mengizinkan sakit ini kualami, dan Tuhan mengizinkan penyakit ini sembuh, aku percaya kalau Tuhan akan cukupkan dana untuk aku bisa menjalani pengobatan sampai aku sembuh." Berani sekali doa itu. Berani karena tidak menuntut kesembuhan, melainkan meminta kecukupan untuk setia menjalani prosesnya. Saya membayangkan doa serupa diucapkan berulang setiap malam, ditemani rasa takut yang tidak pernah benar-benar pergi.
Sampai November 2022, kebutuhannya masih terpenuhi dan kondisi kesehatannya kian membaik. Ia belum sembuh total, pengobatannya masih berlangsung. Tetapi ia menulis bahwa proses itu mengajarkannya lebih dari sekadar sembuh. Dua tahun sulit itu dipakai Tuhan untuk mengubah cara pandangnya. Sebagian orang mengukur kebaikan Tuhan lewat cepatnya kesembuhan. Rosnani justru mengalami kecukupan hari demi hari, imannya bertumbuh selama dua tahun menunggu. Bagi saya, pelajaran semacam itu tidak bisa ditukar dengan kesembuhan instan. Tadinya tidak ada harapan. Sekarang harapan itu tumbuh.
Saya ingin menutup dengan ayat yang ia pakai untuk menutup tulisannya, 1 Korintus 10:13: "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu." Bagi orang yang sedang sakit, ayat ini bisa terasa seperti janji yang digantung. Rosnani memegangnya dari bulan ke bulan, dan kecukupannya nyata.
Banyak orang berkata bahwa iman yang tidak pernah diuji mudah menjadi kebiasaan belaka. Kesaksian Rosnani membuat saya berpikir ulang. Mungkin Tuhan mengizinkan masa sulit bukan untuk menjatuhkan kita, tetapi untuk membawa kita lebih dalam, dari sekadar percaya menjadi sungguh mengenal Dia. Kalau Anda sedang berada di bagian tengah cerita, saat ujungnya belum terlihat jelas, biarkan kesaksian ini mengingatkan satu hal, Allah setia dan pertolongan-Nya tidak pernah habis.
Dalam Mazmur 34:19, Daud menulis, "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya." Saya percaya itu benar. Semoga Anda merasakan kedekatan itu hari ini, apa pun keadaan Anda.
Referensi
1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). Filipi 1:29; Roma 8:28; 1 Korintus 10:13; Mazmur 34:19.
2. Kesaksian asli: Rosnani Sagala, "Dalam Kesulitan Hidup, Pertolongan Tuhan Tak Ada Habisnya", WarungSaTeKaMu.org, 2 Desember 2022: baca kesaksian aslinya.
3. Gambar: tangan menjangkau cahaya, foto oleh Liana S via Unsplash.
Komentar
Posting Komentar