Langsung ke konten utama

Membangun Kebiasaan Membaca Alkitab Setiap Hari

Seorang pria membaca Alkitab di dalam gereja

Bagian paling berat dari membaca Alkitab bukan membacanya, melainkan membacanya lagi keesokan harinya. Kebanyakan dari kita pernah memulai dengan semangat: Alkitab baru keluar dari kemasannya, rencana baca setahun kita unduh, hari pertama berjalan lancar. Lalu tibalah hari kesepuluh, dan rencana itu diam-diam berhenti di suatu tempat antara Keluaran dan Imamat.

Saya tidak akan bilang kebiasaan ini mudah. Kalau mudah, tidak akan ada begitu banyak orang Kristen yang bergumul dengan hal yang sama. Tapi ada kabar baik: Alkitab sendiri berbicara tentang kebiasaan ini, dan jalan membangunnya tidak serumit yang kita bayangkan.

Alkitab Sendiri Membicarakan Kebiasaan Ini

Ketika Yosua baru saja menerima tugas memimpin Israel menggantikan Musa, Tuhan tidak memberinya strategi perang lebih dulu. Perintah pertama yang keluar justru soal kitab Taurat: "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung" (Yosua 1:8).

Bukan kebetulan perintah itu datang di awal masa kepemimpinannya. Sebelum Yosua berhadapan dengan tembok Yerikho, ia harus lebih dulu akrab dengan perkataan Tuhan. Kata "renungkanlah" di situ tidak berarti membaca cepat lalu menutup buku. Artinya memikirkan kembali apa yang dibaca dan membiarkannya tinggal di pikiran.

Mazmur 1 menggambarkan orang yang berbahagia dengan cara yang sama: "yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam" (Mazmur 1:2). Orang itu lalu seperti pohon di tepi aliran air, berbuah pada musimnya dan tidak layu daunnya (Mazmur 1:3). Akar dari gambaran itu adalah kesukaan, bukan kewajiban. Ia senang dengan Taurat Tuhan, jadi merenungkannya siang dan malam terasa wajar, bukan paksaan.

Di Kisah Para Rasul ada contoh lain. Orang-orang Yahudi di Berea disebut lebih baik hatinya daripada orang-orang di Tesalonika, dan alasannya gamblang: "setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian" (Kisah Para Rasul 17:11). Mereka membaca setiap hari, dengan sikap mau menguji: apakah khotbah Paulus benar atau tidak. Membaca Alkitab bagi mereka bukan ritual, melainkan cara mencerna dan memahami.

Jadi kebiasaan membaca setiap hari bukan penemuan orang Kristen modern. Jemaat mula-mula dan orang-orang saleh sebelum mereka sudah menjalankannya, dan Alkitab menyebutnya dengan kata yang sama: merenungkan.

Paulus menjelaskan kenapa kegiatan ini layak dijalani setiap hari. Ia menulis kepada Timotius bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran, supaya tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Timotius 3:16-17). Kalau kita jarang membuka kitab itu, kita melewatkan alat yang Tuhan sediakan untuk memperlengkapi kita.

Pemazmur menyebut firman Tuhan "pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku" (Mazmur 119:105). Pelita tidak menerangi seluruh jalan sekaligus; ia menerangi satu langkah di depan. Begitulah cara firman Tuhan bekerja dalam hidup sehari-hari. Ia bukan peta seluruh masa depan, tapi cukup terang untuk langkah hari ini.

Mulai dari yang Kecil Saja

Kalau boleh jujur, sebagian besar rencana baca Alkitab gagal bukan karena malas, tapi karena ambisius. Rencana satu tahun menuntut tiga sampai empat pasal sehari, dan begitu ketinggalan dua hari, angkanya menumpuk sampai terasa mustahil mengejarnya. Lalu kita menyerah, merasa gagal, dan menunggu momentum baru di bulan Januari.

Padahal Alkitab tidak pernah menuntut target sebesar itu. Perintah untuk Yosua adalah merenungkan, bukan menuntaskan. Orang Berea menyelidiki setiap hari, dan tidak ada catatan berapa pasal yang mereka habiskan. Satu pasal yang direnungkan lebih berharga daripada lima pasal yang kita baca sambil lalu.

Ambillah ukuran kecil, bahkan konyol: satu pasal, atau sepuluh menit. Tempelkan pada kebiasaan yang sudah ada, misalnya di meja sarapan atau tepat sebelum lampu kamar padam. Kuncinya keteraturan, bukan durasi.

Kalau suatu hari bolong, jangan menarik diri dari permainan. Ini bukan kontes nilai. Besoknya tinggal lanjut dari tempat berhenti, tanpa perlu balas dendam membaca enam pasal sekaligus. Rasa bersalah justru musuh utama kebiasaan ini, karena ia mengubah waktu bersama Tuhan menjadi utang yang harus kita bayar.

Baca dengan satu pertanyaan di kepala: apa yang ayat ini katakan tentang Allah, atau apa yang harus saya ubah minggu ini. Cara ini mengubah membaca dari menerima informasi menjadi percakapan. Sebagian orang suka menulis satu ayat yang menohok di buku catatan atau di catatan ponsel, lalu membacanya lagi menjelang siang.

Kalau waktu benar-benar sempit, aplikasi Alkitab berfitur audio bisa menemani perjalanan ke kantor. Mendengar sambil menyetir tetap lebih baik daripada tidak sama sekali, meski saya pribadi percaya membaca sambil duduk diam punya tempatnya sendiri. Ada kalanya kita perlu berhenti dan membiarkan satu kalimat mengendap.

Mulai dari pasal kesukaan juga sah. Kitab yang pendek dan penuh cerita cocok untuk pemula. Pasal seperti 1 Korintus 13 bisa kita baca berulang-ulang tanpa habis, dan saya pernah membahasnya lebih panjang di artikel Kasih yang Lebih Dalam: Memahami 1 Korintus 13. Kitab Galatia juga ramah untuk pembaca baru, khususnya bagian tentang buah Roh yang saya tulis di Mengenal Buah Roh: Apa Artinya Hidup Dipimpin Roh.

Yesaya 55 menyimpan janji yang jarang kita sadari: "demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya" (Yesaya 55:11). Firman yang keluar dari mulut-Nya tidak pernah pulang dengan tangan kosong. Kalau itu benar untuk firman yang diucapkan ribuan tahun lalu, ia juga benar untuk pasal yang Anda baca besok pagi. Jadi jangan sibuk memikirkan berapa banyak yang harus dibaca. Buka saja, mulai dari satu ayat, dan biarkan Tuhan yang bekerja.

Referensi

1. Alkitab TB (LAI). Yosua 1:8; Mazmur 1:2-3; 119:105; 2 Timotius 3:16-17; Kisah Para Rasul 17:11; Yesaya 55:11. Semua ayat saya cek langsung di bible.com.
2. "Why should we read the Bible / study the Bible?", GotQuestions.org: baca artikelnya.
3. "What is a quiet time?", GotQuestions.org: baca artikelnya.
4. Gambar: pria membaca Alkitab di dalam gereja, foto oleh RDNE Stock project via Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kasih yang Lebih Dalam: Memahami 1 Korintus 13

Kalau Anda pernah duduk di pernikahan Kristen, hampir pasti 1 Korintus 13 pernah dibacakan. Pasal ini sudah begitu melekat dengan pesta pernikahan sampai banyak orang menyebutnya nyanyian cinta. Padahal Paulus tidak menulisnya untuk dua mempelai. Ia menulis untuk jemaat yang sedang bertengkar, lengkap dengan segala kekacauannya. Jemaat Korintus waktu itu sibuk membanding-bandingkan karunia rohani. Sebagian bangga bisa berbahasa roh, sebagian lagi bangga dengan pengetahuannya, dan perpecahan mulai terasa. Di tengah suasana seperti itu Paulus menulis pasal ini, dan isinya jauh dari puisi manis. Ditulis untuk Jemaat yang Bertengkar Sebelum masuk ke pasal ini, Paulus menghabiskan satu pasal penuh membahas karunia rohani. Di ujung pasal itu ia menulis, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31). Pasal 13 adalah jalan itu, dan isinya mengejutkan. Bunyinya begini: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan baha...

Panduan Remaja Kristen Menghadapi Tekanan Zaman

Jam sepuluh malam, lampu kamar menyala, dan ponsel di atas meja bergetar dua kali dalam semenit. PR matematika belum selesai, chat grup masih ramai membahas rencana besok. Story teman sekelas baru pulang dari tempat yang tidak pernah kita datangi. Tidak ada satu pun yang berteriak, semuanya berbisik pelan. Tapi kalau kamu membiarkannya, tekanan itu menumpuk, dan dada rasanya sesak juga. Tekanan pada remaja Kristen zaman ini jarang berbentuk penganiayaan terbuka. Ia hadir sebagai standar yang terus bergeser. Nilai harus tinggi, tubuh harus mengikuti tren, dan akun media sosial harus tampak menyenangkan. Belum lagi tuntutan untuk tetap kelihatan rohani di tengah semuanya. Kajian tentang pergaulan remaja Kristen masa kini menyebutnya tantangan ganda, yaitu pengaruh media sosial terhadap sisi psikologis dan sosial, plus desakan untuk tetap berpegang pada nilai iman di lingkungan maya yang sering bertentangan dengan prinsip kekristenan. Berat. Saya tidak akan berpura-pura ini ringan. ...

Kesaksian Kristen Nyata: Pertolongan Tuhan Tak Pernah Habis

Tahun 2020, Rosnani Sagala, seorang perempuan di Medan, menerima kabar mengejutkan dari dokter. Penyakit itu tidak ringan, dan kabarnya datang saat ia masih memendam banyak impian dan rencana. Belum sempat pulih dari keterkejutan, tahun berikutnya muncul lagi penyakit lain di organ reproduksinya. Ia menulis sendiri kisahnya di WarungSaTeKaMu.org pada akhir 2022, dan kesaksiannya saya bagikan di sini karena ceritanya jujur tentang apa artinya percaya ketika kabar buruk datang bertubi-tubi. Dua tahun itu berat secara emosional. Ada masa ketika ia bertanya mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi, masa ketika ia mengasihani diri sendiri dan berharap orang-orang terdekat mengerti. Hampir dua tahun perasaannya tidak baik-baik saja. Saya suka kejujuran semacam ini. Banyak kesaksian hanya menampilkan akhir bahagia, padahal justru di bagian tengah cerita ada banyak hal nyata. Di tengah kekalutan itu, ia teringat Filipi 1:29. Paulus menulis bahwa kepada orang percaya dikaruniakan bukan...