Langsung ke konten utama

Mengenal Buah Roh: Apa Artinya Hidup Dipimpin Roh

Tandan anggur hijau menggantung di cabang pohon anggur

Daftar buah Roh di Galatia 5:22-23 sering kita baca seperti daftar belanja karakter: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Kata-kata itu rapi, dan justru karena rapi kita cenderung memperlakukannya sebagai sembilan pekerjaan rumah. Bulan ini fokus melatih kesabaran, bulan depan fokus penguasaan diri, begitu seterusnya.

Padahal dalam bahasa aslinya Paulus hanya memakai satu kata: buah, dalam bentuk tunggal. Pengamatan ini bukan hal baru. "Makna Buah Roh dalam Galatia 5:22-23", artikel di jurnal Manna Rafflesia dari STT Arastamar Bengkulu, merangkumnya begini: buah Roh bukanlah sembilan buah yang berbeda, melainkan satu buah yang utuh, tampil dalam sembilan rupa. Kesembilan sifat itu adalah satu karakter, dan karakter itu bernama Kristus.

Berarti pertanyaannya bergeser. Kita tidak lagi bertanya bagaimana cara melatih kesabaran, tetapi bagaimana karakter ini bisa tumbuh dalam diri kita. Jawaban Paulus tegas: karakter itu datang dari Roh, bukan hasil usaha kita. GotQuestions.org menyebut buah Roh sebagai hasil karya Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya, dan setiap orang percaya sudah menerima Roh Kudus (Roma 8:9; 1 Korintus 12:13; Efesus 1:13-14).

Kalau Begitu, Apa Bagian Kita?

Saya pernah membayangkan hidup dipimpin Roh seperti menunggu sinyal dari langit. Alkitab menggambarkannya jauh lebih sederhana. "Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging" (Galatia 5:16). Kata asli Paulus dekat artinya dengan "berjalan", dan sebagian versi Alkitab memang menuliskannya begitu. Berjalan itu lambat, tidak dramatis, tapi tetap bergerak.

Dua ayat setelah daftar buah itu, Paulus menutup bagian ini dengan kalimat hampir sama: "Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh" (Galatia 5:25). Paulus memakai kedua ungkapan itu bergantian, dua sisi dari satu hal yang sama.

Bagian kita bukan memproduksi. Bagian kita adalah tidak menolak pimpinan itu, dan itu kita jalani hari demi hari dalam keputusan-keputusan kecil. Pimpinan-Nya jarang dramatis. Kadang berupa dorongan untuk menahan kata-kata yang sudah di ujung lidah, kadang kesediaan minta maaf lebih dulu. Sering kali bentuknya sepi: keputusan kecil untuk tidak ikut menyebarkan gosip di grup kantor. Orang yang berjalan oleh Roh tidak selalu tampak sedang dipimpin. Kadang ia justru kelihatan sedang belajar mengalah, dan itu lebih sulit daripada menang.

Paulus sengaja menaruh daftar ini tepat sesudah daftar perbuatan daging di Galatia 5:19-21, yang bunyinya jauh dari kata indah: percabulan, iri hati, amarah, pesta pora. Dua daftar itu menggambarkan dua pohon. Yang satu tumbuh sendiri dari tanah lama kita; yang lain hanya bisa tumbuh kalau akarnya berpindah.

Perlahan, dan Itu Wajar

Ada bagian dari ajaran ini yang jarang kita dengar dari mimbar: pertumbuhannya lambat. Paulus sendiri mengakui pergumulannya. "Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat" (Roma 7:15). Penulis kalimat itu juga penulis Galatia 5:22-23. Dua-duanya keluar dari satu hati yang sama.

GotQuestions juga mengingatkan bahwa orang Kristen tidak selalu memperlihatkan buah itu dalam hidupnya. Tidak jarang ada musim kering, hari ketika kesabaran habis sebelum jam makan siang. Banyak orang malu mengaku sedang tidak baik-baik saja, seolah iman sehat berarti wajah selalu tenang. Saya pribadi lega membaca pengakuan Paulus. Kalau ukuran kedewasaan adalah penampilan sempurna setiap saat, kita semua gagal sebelum mulai.

Ketika kita memaksakan buah, yang lahir biasanya kepura-puraan: senyum di luar, amarah menumpuk di dalam. Buah yang asli tumbuh pelan, tanpa paksaan. Yesus bahkan pernah bilang Bapa memangkas ranting berbuah, supaya makin banyak berbuah (Yohanes 15:2). Pemangkasan itu kadang berbentuk masa menunggu yang panjang, kritik pedas dari orang terdekat, atau kegagalan yang memalukan. Prosesnya tidak enak, tapi justru di situ buah matang. Anggur tidak matang dalam semalam; ia butuh musim, dan tidak ada yang bisa mempercepatnya.

Tanda Anak Allah

Roma 8:14 menautkan semuanya. "Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah." Dipimpin Roh bukan status khusus untuk segelintir orang super rohani; itu tanda keluarga. Setiap anak Allah mengalami pimpinan-Nya, dan setiap orang yang dipimpin adalah anak Allah. Karakter itu tumbuh di dalam relasi, bukan di dalam perlombaan.

Yesus pernah memakai gambar yang sama. "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yohanes 15:5). Ranting tidak pernah memeras diri sendiri; ia berbuah karena hidupnya menyatu dengan pokok. Kita tinggal di dalam Kristus lewat hal-hal membosankan tapi nyata: doa, firman, dan persekutuan dengan orang percaya lain. Soal doa, artikel terpisah sudah pernah membahasnya lebih dalam.

Jadi pertanyaan paling jujur di penghujung hari bukan "sudah cukup sabarkah aku hari ini?", melainkan "apakah aku masih melekat pada Pokok Anggur?". Buah akan menyusul dengan sendirinya.

Referensi

1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). Galatia 5:16, 5:19-21, 5:22-23, 5:25; Roma 7:15, 8:14; Yohanes 15:2, 15:5. Ayat dicek langsung di bible.com.
2. "Apakah buah Roh Kudus itu?", GotQuestions.org Indonesia: baca artikelnya.
3. "Makna Buah Roh dalam Galatia 5:22-23", Jurnal Manna Rafflesia, STT Arastamar Bengkulu: unduh jurnalnya.
4. Gambar: tandan anggur hijau di pohon anggur, foto oleh Lucinda Wang via Unsplash.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kasih yang Lebih Dalam: Memahami 1 Korintus 13

Kalau Anda pernah duduk di pernikahan Kristen, hampir pasti 1 Korintus 13 pernah dibacakan. Pasal ini sudah begitu melekat dengan pesta pernikahan sampai banyak orang menyebutnya nyanyian cinta. Padahal Paulus tidak menulisnya untuk dua mempelai. Ia menulis untuk jemaat yang sedang bertengkar, lengkap dengan segala kekacauannya. Jemaat Korintus waktu itu sibuk membanding-bandingkan karunia rohani. Sebagian bangga bisa berbahasa roh, sebagian lagi bangga dengan pengetahuannya, dan perpecahan mulai terasa. Di tengah suasana seperti itu Paulus menulis pasal ini, dan isinya jauh dari puisi manis. Ditulis untuk Jemaat yang Bertengkar Sebelum masuk ke pasal ini, Paulus menghabiskan satu pasal penuh membahas karunia rohani. Di ujung pasal itu ia menulis, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31). Pasal 13 adalah jalan itu, dan isinya mengejutkan. Bunyinya begini: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan baha...

Panduan Remaja Kristen Menghadapi Tekanan Zaman

Jam sepuluh malam, lampu kamar menyala, dan ponsel di atas meja bergetar dua kali dalam semenit. PR matematika belum selesai, chat grup masih ramai membahas rencana besok. Story teman sekelas baru pulang dari tempat yang tidak pernah kita datangi. Tidak ada satu pun yang berteriak, semuanya berbisik pelan. Tapi kalau kamu membiarkannya, tekanan itu menumpuk, dan dada rasanya sesak juga. Tekanan pada remaja Kristen zaman ini jarang berbentuk penganiayaan terbuka. Ia hadir sebagai standar yang terus bergeser. Nilai harus tinggi, tubuh harus mengikuti tren, dan akun media sosial harus tampak menyenangkan. Belum lagi tuntutan untuk tetap kelihatan rohani di tengah semuanya. Kajian tentang pergaulan remaja Kristen masa kini menyebutnya tantangan ganda, yaitu pengaruh media sosial terhadap sisi psikologis dan sosial, plus desakan untuk tetap berpegang pada nilai iman di lingkungan maya yang sering bertentangan dengan prinsip kekristenan. Berat. Saya tidak akan berpura-pura ini ringan. ...

Kesaksian Kristen Nyata: Pertolongan Tuhan Tak Pernah Habis

Tahun 2020, Rosnani Sagala, seorang perempuan di Medan, menerima kabar mengejutkan dari dokter. Penyakit itu tidak ringan, dan kabarnya datang saat ia masih memendam banyak impian dan rencana. Belum sempat pulih dari keterkejutan, tahun berikutnya muncul lagi penyakit lain di organ reproduksinya. Ia menulis sendiri kisahnya di WarungSaTeKaMu.org pada akhir 2022, dan kesaksiannya saya bagikan di sini karena ceritanya jujur tentang apa artinya percaya ketika kabar buruk datang bertubi-tubi. Dua tahun itu berat secara emosional. Ada masa ketika ia bertanya mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi, masa ketika ia mengasihani diri sendiri dan berharap orang-orang terdekat mengerti. Hampir dua tahun perasaannya tidak baik-baik saja. Saya suka kejujuran semacam ini. Banyak kesaksian hanya menampilkan akhir bahagia, padahal justru di bagian tengah cerita ada banyak hal nyata. Di tengah kekalutan itu, ia teringat Filipi 1:29. Paulus menulis bahwa kepada orang percaya dikaruniakan bukan...