Tidak ada yang lebih melelahkan daripada doa yang tidak kunjung mendapat jawaban. Kita sudah memohon dengan jujur, sudah menunggu berminggu-minggu, lalu langit tetap sunyi. Tuhan mendengar semuanya, hanya saja jawaban-Nya memilih waktu yang tidak pernah kita pahami. Daud pernah berada di titik itu, dan ia berani menuliskannya. Daud membuka Mazmur 13 dengan empat kali mengulang pertanyaan yang sama: "Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?" (Mazmur 13:2). Pemazmur itu duduk di hadapan Allah dan bertanya, kapan jawabannya tiba.
Empat Hari di Betania
Kisah Lazarus di Yohanes 11 memperlihatkan keheningan Tuhan dalam bentuk paling menusuk. Yesus menerima kabar bahwa Lazarus, sahabat yang Ia kasihi, sakit keras (Yohanes 11:3). Jawaban-Nya berbunyi: "Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah" (Yohanes 11:4). Lalu Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat-Nya berada (Yohanes 11:6). Dua hari. Sementara di Betania, keadaan Lazarus makin buruk dari hari ke hari.
Ketika Yesus tiba, Lazarus sudah empat hari berbaring di dalam kubur (Yohanes 11:17). Marta menyambut-Nya dengan kalimat yang pasti pernah kita ucapkan dalam versi masing-masing: "Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati" (Yohanes 11:21). Maria mengulang kalimat yang sama (Yohanes 11:32). Kedua perempuan itu tidak menuduh Yesus, meski kekecewaan mereka nyata. Mereka sudah mengirim kabar, dan rasanya kabar itu tidak pernah sampai. Betania terletak hanya dua mil dari Yerusalem (Yohanes 11:18). Dekat. Tetap terasa jauh bagi dua perempuan yang sedang berduka.
Lalu ada satu detail: Yesus menangis (Yohanes 11:35). Keheningan Allah di Betania tidak berarti hati-Nya kering. Ia menangis di depan kubur sahabat-Nya, lalu memanggil: "Lazarus, marilah ke luar!" (Yohanes 11:43). Sebelumnya Ia berkata kepada Marta: "Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati" (Yohanes 11:25). Empat hari keterlambatan itu ternyata bagian dari rencana yang lebih besar daripada sekadar kesembuhan.
Menanti Itu Pekerjaan
Habakuk menggambarkan penantian dengan cara yang lain. Ia berdiri di tempat pengintaiannya, siap menantikan apa yang akan Tuhan katakan atas pengaduannya (Habakuk 2:1). Tuhan menjawab dengan kalimat yang menjadi pegangan banyak orang: "apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh" (Habakuk 2:3).
Menanti dalam Alkitab bukan duduk diam berpangku tangan. Pemazmur menulis: "Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!" (Mazmur 27:14). Perintah itu muncul dua kali, seolah penulisnya tahu kita perlu mendengarnya dua kali. Menanti Tuhan berarti tetap berdoa dan tetap membaca firman. Dua hal sederhana, dua hal yang paling berat saat hati sedang gusar. Kami pernah membahasnya di artikel Membangun Kebiasaan Membaca Alkitab Setiap Hari, dan salah satu alasannya justru masa-masa menunggu ini. Doa di masa penantian sering menyusut menjadi satu kalimat yang sama, diulang-ulang, dan itu tidak apa-apa. Para pemazmur mengadukan hal yang sama berulang kali sampai Tuhan menjawab. Alkitab tidak pernah malu mencatat doa yang berulang, jadi kita juga tidak perlu malu. Jaga satu hal saja: jangan berhenti datang. Sering kali yang bertahan justru orang yang jujur mengakui bahwa ia masih menunggu. Menunggu bukan berarti berhenti. Sambil menanti jawaban, hidup tetap berjalan: kita tetap bekerja, tetap mengasihi orang-orang di dekat kita, dan mengerjakan bagian yang bisa dikerjakan hari ini. Penantian yang tidak melumpuhkan selalu melangkah, sekalipun perlahan.
Penantian panjang juga menggarap kesabaran, buah Roh yang tidak tumbuh dalam semalam (Galatia 5:22-23). Kesabaran tidak pernah lahir dari jadwal yang nyaman; ia tumbuh dari hari-hari yang jawabannya belum datang. Yesaya 40:31 mencatat janji kekuatan baru bagi orang yang menanti-nantikan Tuhan, dan baris terakhirnya justru sering terlewat: "mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." Rajawali memang terbang tinggi dengan kekuatan sayapnya, sedangkan penantian sehari-hari itu berjalan kaki, perlahan, satu langkah demi satu langkah.
Allah yang Pernah Mengalami Diam
Ada satu hal yang membuat penantian kita tidak pernah berjalan sendirian. Di kayu salib, Yesus berseru dengan suara nyaring: "Eli, Eli, lama sabakhtani? Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Matius 27:46). Anak Allah mengalami sendiri keheningan yang sama; sulit membayangkan bagaimana rasanya bagi-Nya. Kalau kita bertanya di mana Allah saat langit terasa kosong, jawaban paling jujur yang saya tahu adalah salib. Ia pernah berdiri di tempat itu lebih dulu.
Yang mengherankan dari Mazmur 13 ada di bagian akhirnya. Setelah empat kali bertanya "berapa lama lagi", Daud menutup mazmurnya dengan nyanyian: "Aku mau menyanyi untuk Tuhan, karena Ia telah berbuat baik kepadaku" (Mazmur 13:6). Situasinya belum berubah. Musuh masih ada di sekeliling. Daud memilih bernyanyi lebih dulu, sebelum jawabannya tiba. Kalau Daud bisa bernyanyi sebelum pagi tiba, kita bisa mulai dari nyanyian kecil. Penantian panjang selalu berujung pada pilihan: menunggu dalam kepahitan, atau menunggu sambil berharap. Sampai nanti, saat keheningan itu pecah dan Tuhan memanggil nama kita, seperti Ia memanggil Lazarus keluar dari kubur.
Referensi
1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). Ayat yang dipakai: Mazmur 13:2,6; Mazmur 27:14; Yesaya 40:31; Habakuk 2:1,3; Yohanes 11:3-6,17,21,25,32,35,43; Matius 27:46; Galatia 5:22-23. Semua ayat di atas dicek langsung di bible.com.
2. "Apa yang Alkitab katakan tentang menantikan atau menunggu?", GotQuestions.org Indonesia: baca artikelnya.
3. Gambar: orang duduk di dekat jendela berjeruji saat cahaya matahari masuk, foto oleh Feyza Gönülal via Pexels.
Komentar
Posting Komentar