Langsung ke konten utama

Kasih Karunia: Anugerah Cuma-Cuma yang Tidak Layak Kita Terima

Sinar matahari menembus awan gelap

Setiap kali melihat tulisan "gratis" di etalase toko, saya langsung curiga. Pasti ada syarat di baliknya, atau barangnya sudah kedaluwarsa. Saya membawa kecurigaan yang sama ketika membicarakan kasih karunia, dan saya duga banyak orang Kristen mengalaminya. Kedengarannya terlalu bagus untuk jadi kenyataan: Allah memberi tanpa menagih apa pun. Justru di situlah kabar baiknya berada, dan gereja selama dua ribu tahun tidak berhenti memberitakannya.

Definisi yang umum berbunyi begini: kasih karunia adalah kemurahan Allah kepada orang yang tidak layak, kebaikan yang Allah berikan kepada orang yang tidak berhak menerimanya. Rumusan ini saya ambil dari GotQuestions.org, dan ia menolong saya membedakan anugerah ini dari sekadar kebaikan hati. Allah memang baik kepada semua orang. Anugerah ini berbicara lebih spesifik. Ia memberkati orang yang justru pantas menerima sebaliknya.

Kebaikan untuk Orang yang Tidak Layak

Paulus meletakkan dasar kasih karunia dalam Roma 3:23-24: "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." Banyak orang melewatkan urutan dua kalimat ini. Semua orang berbuat dosa, tanpa kecuali. Lalu kalimat berikutnya tidak berbunyi, "orang baik akan selamat". Bunyinya: dibenarkan dengan cuma-cuma, tanpa syarat yang bisa kita penuhi.

Kata "cuma-cuma" menutup semua tawar-menawar. Kalau perbuatan baik bisa membayar keselamatan, ia tidak lagi cuma-cuma, dan kematian Kristus menjadi sia-sia. Paulus mengulang pokok ini di Efesus 2:8-9: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." Pemberian, bukan gaji. Banyak orang hidup dengan ketakutan diam-diam, bertanya-tanya apakah hari ini mereka sudah cukup baik. Efesus 2 menjawab bahwa dasar keselamatan tidak bergantung pada kinerja kita. Dasar itu bernama pemberian Allah, dan pemberian tidak bisa kita tukar dengan jasa apa pun.

Kalau keselamatan tidak bisa diusahakan, lantas untuk apa perbuatan baik? Jawabannya justru membebaskan. Perbuatan baik tidak lagi menjadi alat tawar-menawar dengan Allah, melainkan respons orang yang sudah percaya. Penjelasan yang lebih utuh tentang keselamatan bisa Anda baca di artikel kami tentang keselamatan.

Gratis bagi Kita, Mahal bagi Dia

Satu sisi kasih karunia sering membuat orang tidak nyaman: ia gratis bagi penerima, mahal bagi pemberi. 2 Korintus 8:9 menangkapnya begini: "Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya."

Yesus tidak membayar dengan sesuatu yang murah; Ia menyerahkan diri-Nya sendiri. Di kayu salib, kasih karunia dan keadilan bertemu. Allah tidak menutup mata terhadap dosa, melainkan menanggung sendiri hukuman dosa itu. Roma 5:8 menyebut kapan anugerah ini bekerja: Kristus mati untuk kita ketika kita masih berdosa, sebelum kita berubah ke arah yang benar.

Kasih Karunia yang Terus Mengalir

Kesalahpahaman kedua yang umum: anugerah hanya urusan pengampunan di masa lalu. Alkitab menggambarkannya sebagai aliran yang tidak pernah berhenti. Yohanes menulis bahwa dari kepenuhan Kristus kita menerima kasih karunia demi kasih karunia (Yohanes 1:16). Satu anugerah menyusul anugerah berikutnya, dan aliran ini tidak putus sepanjang hidup. Kita tidak hanya diselamatkan oleh anugerah; kita juga hidup dari anugerah yang sama.

Anugerah ini juga mendidik. Paulus menulis kepada Titus bahwa kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata, dan anugerah itulah yang mengajar orang percaya meninggalkan kefasikan serta hidup bijaksana (Titus 2:11-12). Orang sering khawatir ajaran gratis membuat hidup sembrono. Paulus berkata sebaliknya: kasih karunia adalah guru, bukan izin. Kebebasan dari tuntutan membuktikan diri, bukan kebebasan berbuat semaunya. Anugerah yang mendidik kita menghasilkan buah yang kelihatan dalam hidup, seperti yang kami bahas di artikel kami tentang buah Roh.

Bagian paling sulit dari doktrin ini, bagi saya pribadi, adalah mempercayainya hari demi hari. 2 Korintus 12:9 berbicara tentang kasih karunia di tengah kelemahan. Tuhan menjawab Paulus: kasih karunia-Ku cukup bagimu, justru dalam kelemahan kuasa-Ku menjadi sempurna.

Paulus menulis ayat itu setelah tiga kali meminta Tuhan mengambil "duri dalam daging"-nya. Jawaban yang ia terima bukan penghapusan masalah; ia menerima jaminan anugerah yang cukup. Ibrani 4:16 mengundang kita menghampiri takhta kasih karunia dengan penuh keberanian, supaya kita menerima rahmat dan pertolongan pada waktunya. Berdoa dengan keberanian seperti itu mengubah doa dari laporan prestasi menjadi percakapan anak dengan Bapanya.

Kasih karunia mengubah cara kita berdoa, cara kita gagal, dan cara kita memperlakukan orang lain. Saya masih belajar menerimanya; ada hari-hari ketika saya lebih nyaman menghitung jasa daripada sekadar menerima. Setiap kali saya kembali ke Efesus 2, saya sadar kembali bahwa pemberian tidak perlu kita usahakan, cukup kita terima. Malam ini, coba berhenti bertanya apakah Anda layak. Jawabannya jelas: tidak. Justru orang yang tidak layak itulah yang menerima kasih karunia. Besok pagi, ketika dosa kemarin masih terasa berat, ingatlah bahwa anugerah bekerja lebih dulu daripada usaha kita.

Referensi

1. Alkitab TB (LAI): Roma 3:23-24; Efesus 2:8-9; 2 Korintus 8:9; Roma 5:8; 2 Korintus 12:9; Yohanes 1:16; Titus 2:11-12; Ibrani 4:16. Semua ayat dicek langsung di bible.com.
2. "Apakah definisi dari kasih karunia (anugerah)?", GotQuestions.org: baca artikelnya.
3. Gambar utama: sinar matahari menembus awan gelap, foto oleh Ankit Rainloure via Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kasih yang Lebih Dalam: Memahami 1 Korintus 13

Kalau Anda pernah duduk di pernikahan Kristen, hampir pasti 1 Korintus 13 pernah dibacakan. Pasal ini sudah begitu melekat dengan pesta pernikahan sampai banyak orang menyebutnya nyanyian cinta. Padahal Paulus tidak menulisnya untuk dua mempelai. Ia menulis untuk jemaat yang sedang bertengkar, lengkap dengan segala kekacauannya. Jemaat Korintus waktu itu sibuk membanding-bandingkan karunia rohani. Sebagian bangga bisa berbahasa roh, sebagian lagi bangga dengan pengetahuannya, dan perpecahan mulai terasa. Di tengah suasana seperti itu Paulus menulis pasal ini, dan isinya jauh dari puisi manis. Ditulis untuk Jemaat yang Bertengkar Sebelum masuk ke pasal ini, Paulus menghabiskan satu pasal penuh membahas karunia rohani. Di ujung pasal itu ia menulis, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31). Pasal 13 adalah jalan itu, dan isinya mengejutkan. Bunyinya begini: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan baha...

Panduan Remaja Kristen Menghadapi Tekanan Zaman

Jam sepuluh malam, lampu kamar menyala, dan ponsel di atas meja bergetar dua kali dalam semenit. PR matematika belum selesai, chat grup masih ramai membahas rencana besok. Story teman sekelas baru pulang dari tempat yang tidak pernah kita datangi. Tidak ada satu pun yang berteriak, semuanya berbisik pelan. Tapi kalau kamu membiarkannya, tekanan itu menumpuk, dan dada rasanya sesak juga. Tekanan pada remaja Kristen zaman ini jarang berbentuk penganiayaan terbuka. Ia hadir sebagai standar yang terus bergeser. Nilai harus tinggi, tubuh harus mengikuti tren, dan akun media sosial harus tampak menyenangkan. Belum lagi tuntutan untuk tetap kelihatan rohani di tengah semuanya. Kajian tentang pergaulan remaja Kristen masa kini menyebutnya tantangan ganda, yaitu pengaruh media sosial terhadap sisi psikologis dan sosial, plus desakan untuk tetap berpegang pada nilai iman di lingkungan maya yang sering bertentangan dengan prinsip kekristenan. Berat. Saya tidak akan berpura-pura ini ringan. ...

Kesaksian Kristen Nyata: Pertolongan Tuhan Tak Pernah Habis

Tahun 2020, Rosnani Sagala, seorang perempuan di Medan, menerima kabar mengejutkan dari dokter. Penyakit itu tidak ringan, dan kabarnya datang saat ia masih memendam banyak impian dan rencana. Belum sempat pulih dari keterkejutan, tahun berikutnya muncul lagi penyakit lain di organ reproduksinya. Ia menulis sendiri kisahnya di WarungSaTeKaMu.org pada akhir 2022, dan kesaksiannya saya bagikan di sini karena ceritanya jujur tentang apa artinya percaya ketika kabar buruk datang bertubi-tubi. Dua tahun itu berat secara emosional. Ada masa ketika ia bertanya mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi, masa ketika ia mengasihani diri sendiri dan berharap orang-orang terdekat mengerti. Hampir dua tahun perasaannya tidak baik-baik saja. Saya suka kejujuran semacam ini. Banyak kesaksian hanya menampilkan akhir bahagia, padahal justru di bagian tengah cerita ada banyak hal nyata. Di tengah kekalutan itu, ia teringat Filipi 1:29. Paulus menulis bahwa kepada orang percaya dikaruniakan bukan...