Langsung ke konten utama

Belajar Bersyukur: Kebiasaan Kecil yang Mengubah Hati

Perempuan berdoa dengan tangan terkunci dan kepala tertunduk

Orang mudah bersyukur biasanya bukan tipe yang hidupnya paling mulus. Saya sudah lama menyadari itu. Setiap kali bertemu orang dengan mulut penuh ucapan terima kasih, ceritanya jarang tanpa air mata. Sebaliknya, orang dengan segalanya berjalan lancar justru sering paling cepat mengeluh. Syukur ternyata tidak menunggu keadaan baik. Ia semacam otot, tumbuh justru saat kita memakainya di tengah keadaan yang tidak kita pilih.

Perintah, Bukan Pilihan

Paulus menulis kalimat sederhana kepada jemaat di Tesalonika adalah "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu" (1 Tesalonika 5:18). Bukan "dalam keadaan baik", melainkan "dalam segala hal". Jemaat Tesalonika sendiri sedang tidak hidup enak. Paulus menulis surat ini tidak lama setelah mereka mengalami penganiayaan, dan kalimat itu tetap ia taruh di sana.

Kalau syukur adalah perintah, berarti ia bukan menunggu rasa. Kita tidak perlu merasa bersyukur dulu untuk mengucap syukur, justru sebaliknya. Ucapan syukur yang keluar lebih dulu, perasaan perlahan ikut berubah. Saya pribadi sering menemukan ini benar adalah kata terima kasih dari mulut kita bisa menuntun hati yang sedang kacau, bukan sebaliknya.

Yang Sembilan Orang Itu ke Mana?

Yesus pernah menyembuhkan sepuluh orang kusta dalam satu hari. Mereka berdiri agak jauh, berteriak minta kasihan, lalu Yesus menyuruh mereka pergi memperlihatkan diri kepada imam. Di tengah jalan mereka sembuh semuanya (Lukas 17:12-14). Sepuluh orang mendapat hal yang sama. Satu orang kembali, tersungkur di depan kaki Yesus, dan mengucap syukur dengan suara nyaring. Yesus bertanya dengan nada tak mudah dilupakan adalah "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?" (Lukas 17:17).

Kesembilan orang itu tidak jahat. Mereka sembuh, patuh pada perintah, mungkin langsung pulang menemui keluarga masing-masing. Hanya saja mereka lupa berbalik. Pemazmur menulis tentang bahaya lupa ini adalah "Pujilah Tuhan, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!" (Mazmur 103:2). Lupa adalah musuh syukur paling senyap. Kita tidak kehilangan berkat, kita kehilangan ingatan atas berkat itu.

Latihan Kecil yang Bisa Dimulai Hari Ini

Bersyukur bisa dilatih seperti kebiasaan lain. Caranya tidak perlu dramatis, dan tidak harus menunggu hari Minggu di gereja. Beberapa hal ini bisa dicoba mulai hari ini:

  • Ucapkan satu kalimat syukur dengan suara jelas setiap bangun tidur, sebelum menyentuh ponsel. Kalimatnya boleh sederhana, misalnya "terima kasih, Tuhan, untuk napas yang masih Kau beri".
  • Sebut satu hal konkret di malam hari. Bukan "terima kasih untuk semuanya", melainkan hal yang bisa ditunjuk adalah makanan cukup, teman yang mau mendengar, atau pekerjaan yang selesai.
  • Ubah doa yang selama ini berisi permintaan, sisipkan kalimat syukur di dalamnya. Paulus menulis adalah "nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur" (Filipi 4:6). Permintaan dan ucapan syukur bisa berjalan dalam satu doa.

Latihan ini terdengar sepele. Tapi ada pola menarik di Mazmur 107: pemazmur mengingat kembali pertolongan Tuhan, lalu menulis, "Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya" (Mazmur 107:1). Mazmur ini memuat kisah orang-orang tersesat, dipenjara, sakit, diterpa badai di laut. Tuhan menebus semuanya, dan baris yang sama muncul berulang-ulang adalah biarlah mereka bersyukur kepada Tuhan. Mengingat adalah bagian dari beribadah.

Kalau terasa sulit memulai, kebiasaan membaca firman setiap hari bisa menjadi pintu masuknya. Kami pernah membahasnya di artikel Membangun Kebiasaan Membaca Alkitab Setiap Hari. Semakin sering kita membaca kisah kebaikan Tuhan, semakin banyak bahan untuk bersyukur.

Syukur juga mengubah cara kita berdoa. Doa penuh keluhan terasa berat, doa dengan selingan ucapan syukur lebih ringan, meski masalahnya belum selesai. Filipi 4:7 melanjutkan kalimat tadi dengan janji: "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Damai itu datang bukan sesudah masalah beres, melainkan di tengah doa yang disertai syukur.

Malam ini, sebelum tidur, coba hitung satu hari yang baru lewat. Bukan untuk mencari masalah, cukup temukan satu hal yang layak diucapkan syukur. Satu saja cukup. Kesepuluh orang kusta itu semuanya sembuh, tetapi hanya satu yang pulang untuk mengucap syukur, dan Yesus berkata kepadanya adalah "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau" (Lukas 17:19). Berbalik untuk bersyukur ternyata membawa sesuatu yang tidak didapat sembilan orang lainnya.

Referensi

1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). Ayat yang dipakai: 1 Tesalonika 5:18; Filipi 4:6-7; Mazmur 103:2; Mazmur 107:1; Lukas 17:11-19. Semua ayat dicek langsung di bible.com.
2. "Apa kata Alkitab mengenai bersyukur / berterima kasih?", GotQuestions.org Indonesia: baca artikelnya.
3. Gambar: perempuan berdoa dengan tangan terkunci, foto oleh Corey Dupree via Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...