Langsung ke konten utama

Panduan Remaja Kristen Menemukan Jati Diri menurut Alkitab

Pria muda merenung di dekat jendela kafe

Beberapa kali dalam sebulan terakhir saya melihat anak-anak muda berganti foto profil, berganti gaya bicara, berganti selera musik, mengikuti tren terbaru. Bukan hal yang salah, semua orang pernah melakukannya. Hanya saja di balik semua pergantian itu tersimpan pertanyaan jati diri sederhana: saya ini sebenarnya siapa? Pertanyaan itu kerap datang di malam hari, saat ponsel sudah mati dan kamar sedang sunyi.

Usia remaja memang musim paling membingungkan untuk urusan identitas. Baru kemarin merasa dewasa, hari ini merasa belum siap apa-apa. Sekolah menuntut nilai, media sosial menuntut penampilan, orang tua menuntut tanggung jawab, teman menuntut kesetiaan. Di tengah tuntutan yang saling tarik itu, wajar kalau banyak anak muda Kristen bertanya-tanya di mana Allah dalam semua kebingungan ini. Tulisan ini mencoba menjawab dari sisi yang jarang dibuka: apa kata Alkitab tentang siapa kita, sebelum dunia sempat memberi label.

Sebelum Dunia Memberi Label

Kejadian 1:27 mencatat kalimat yang sering kita hafal tanpa meresapi: "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." Sebelum ada sekolah, sebelum ada akun media sosial, sebelum ada nilai rapor, manusia sudah punya identitas. Kita diciptakan segambar dengan Allah. Jumlah pengikut atau nilai ujian tidak menentukan nilai kita. Nilai kita berakar pada fakta bahwa tangan Allah sendiri yang membuat kita.

Mazmur 139:13-14 mengungkapkan hal serupa dari sisi yang lebih pribadi. Daud menulis, "Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya." Daud tidak berbicara tentang orang lain. Ia berbicara tentang dirinya sendiri, tentang tubuh dan kehidupannya, keduanya buatan Allah. Kalau pemazmur bisa bersyukur atas dirinya sendiri, anak muda hari ini juga bisa belajar melihat dirinya dengan cara yang sama. Keanehan fisik yang membuat kita malu, sifat pendiam yang membuat kita merasa aneh, semuanya masuk dalam rancangan yang Allah sebut dahsyat dan ajaib.

Di titik ini saya ingin jujur: membaca ayat itu mudah, mempercayainya untuk diri sendiri itu perjalanan panjang. Saya tidak menulis seolah semua remaja Kristen langsung beres masalah percaya dirinya setelah membaca dua ayat. Saya meyakini identitas tidak selesai dalam sehari, dan Alkitab memberi kita fondasi, bukan sekadar kata-kata penyemangat. Fondasi itu berbunyi: kita ini buatan Allah, dan buatan Allah tidak pernah gagal.

Jangan Biarkan Zaman Menentukan

Roma 12:2 memberi perintah yang tegas: "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." Ayat ini sering muncul dalam khotbah orang dewasa, padahal Paulus menulisnya untuk jemaat yang berisi banyak orang muda. Dunia zaman Paulus dan dunia zaman kita sama-sama punya cara halus untuk membentuk orang: lewat tren, lewat standar kecantikan, lewat definisi sukses yang diulang-ulang sampai orang mempercayainya.

Menjadi serupa dengan dunia bukan soal penampilan semata. Ia soal membiarkan dunia menentukan apa yang berharga. Anak muda yang tidak pernah belajar membedakan kehendak Allah akan mudah hanyut: mengejar nilai demi pujian, atau tampil demi perhatian. Pembaharuan budi bekerja pelan: lewat membaca Alkitab, berdoa, dan bergaul dengan orang-orang yang mengasihi Tuhan. Hasilnya bukan menjadi aneh di mata teman, melainkan menjadi jelas tentang apa yang baik dan apa yang tidak.

Muda Bukan Alasan untuk Menunda

Satu hal yang sering keliru dipahami: anggapan bahwa masa muda adalah masa menunggu, dan pelayanan serius baru dimulai nanti setelah dewasa. Paulus menulis kepada Timotius, pemimpin jemaat yang masih muda, "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu" (1 Timotius 4:12).

Konteksnya menarik. Timotius memimpin jemaat di Efesus, kota besar, dan sebagian jemaat meremehkannya karena usianya. Paulus tidak menyuruh Timotius menunggu lebih tua. Ia menyuruhnya menjadi teladan, di dalam perkataan, tingkah laku, kasih, kesetiaan, dan kesucian. Lima bidang itu tidak menuntut usia tertentu. Remaja bisa jujur dalam perkataan hari ini, bisa setia dalam hal kecil hari ini, bisa menjaga kesucian hari ini. Menjadi teladan di usia muda bukan perkara jabatan; ini soal karakter yang tumbuh sejak dini.

Saya pribadi percaya banyak remaja Kristen salah sasaran ketika mengejar jati diri. Mereka sibuk mencari pengakuan teman, prestasi, dan gaya hidup, padahal Alkitab menunjukkan arah sebaliknya. Jati diri ditemukan ke atas, bukan ke samping. Ketika kita tahu kita anak Allah, ketika kita tahu diri kita buatan tangan-Nya, barulah tekanan untuk membuktikan diri ke mana-mana mulai kehilangan kuasanya. Artikel kami tentang apa itu keselamatan bisa membantu membuka bagian ini lebih jauh: menjadi anak Allah bukan gelar, melainkan kenyataan.

Pertanyaan "siapa saya" tidak akan hilang dalam semalam. Ia akan datang lagi di usia dua puluh, tiga puluh, bahkan lima puluh. Bedanya, orang yang pernah belajar menjawabnya di dalam Kristus tidak akan mudah goyah ketika dunia menawarkan identitas yang lebih mengkilap. Identitas yang berpijak pada buatan Allah tidak akan goyah hanya karena tren. Dan bagi remaja yang hari ini merasa kehilangan arah di antara begitu banyak versi diri, ada kabar baik: Allah tidak pernah bingung tentang siapa Anda. Ia menciptakan Anda, dan Ia mengenal rancangan-Nya.

Kalau Anda sedang bergumul dengan tekanan menjadi diri sendiri di tengah teman-teman, kami pernah menulis panduan untuk remaja Kristen menghadapi tekanan zaman. Baca pelan-pelan, dan mulai dari satu langkah kecil: berdoa dan bertanya kepada Tuhan, siapa Engkau menciptakan aku?

Referensi

1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI): Kejadian 1:27; Mazmur 139:13-14; Roma 12:2; 1 Timotius 4:12. Semua ayat dicek langsung di bible.com.
2. Gambar utama: pria muda merenung di dekat jendela kafe, foto via Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kasih yang Lebih Dalam: Memahami 1 Korintus 13

Kalau Anda pernah duduk di pernikahan Kristen, hampir pasti 1 Korintus 13 pernah dibacakan. Pasal ini sudah begitu melekat dengan pesta pernikahan sampai banyak orang menyebutnya nyanyian cinta. Padahal Paulus tidak menulisnya untuk dua mempelai. Ia menulis untuk jemaat yang sedang bertengkar, lengkap dengan segala kekacauannya. Jemaat Korintus waktu itu sibuk membanding-bandingkan karunia rohani. Sebagian bangga bisa berbahasa roh, sebagian lagi bangga dengan pengetahuannya, dan perpecahan mulai terasa. Di tengah suasana seperti itu Paulus menulis pasal ini, dan isinya jauh dari puisi manis. Ditulis untuk Jemaat yang Bertengkar Sebelum masuk ke pasal ini, Paulus menghabiskan satu pasal penuh membahas karunia rohani. Di ujung pasal itu ia menulis, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31). Pasal 13 adalah jalan itu, dan isinya mengejutkan. Bunyinya begini: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan baha...

Panduan Remaja Kristen Menghadapi Tekanan Zaman

Jam sepuluh malam, lampu kamar menyala, dan ponsel di atas meja bergetar dua kali dalam semenit. PR matematika belum selesai, chat grup masih ramai membahas rencana besok. Story teman sekelas baru pulang dari tempat yang tidak pernah kita datangi. Tidak ada satu pun yang berteriak, semuanya berbisik pelan. Tapi kalau kamu membiarkannya, tekanan itu menumpuk, dan dada rasanya sesak juga. Tekanan pada remaja Kristen zaman ini jarang berbentuk penganiayaan terbuka. Ia hadir sebagai standar yang terus bergeser. Nilai harus tinggi, tubuh harus mengikuti tren, dan akun media sosial harus tampak menyenangkan. Belum lagi tuntutan untuk tetap kelihatan rohani di tengah semuanya. Kajian tentang pergaulan remaja Kristen masa kini menyebutnya tantangan ganda, yaitu pengaruh media sosial terhadap sisi psikologis dan sosial, plus desakan untuk tetap berpegang pada nilai iman di lingkungan maya yang sering bertentangan dengan prinsip kekristenan. Berat. Saya tidak akan berpura-pura ini ringan. ...

Kesaksian Kristen Nyata: Pertolongan Tuhan Tak Pernah Habis

Tahun 2020, Rosnani Sagala, seorang perempuan di Medan, menerima kabar mengejutkan dari dokter. Penyakit itu tidak ringan, dan kabarnya datang saat ia masih memendam banyak impian dan rencana. Belum sempat pulih dari keterkejutan, tahun berikutnya muncul lagi penyakit lain di organ reproduksinya. Ia menulis sendiri kisahnya di WarungSaTeKaMu.org pada akhir 2022, dan kesaksiannya saya bagikan di sini karena ceritanya jujur tentang apa artinya percaya ketika kabar buruk datang bertubi-tubi. Dua tahun itu berat secara emosional. Ada masa ketika ia bertanya mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi, masa ketika ia mengasihani diri sendiri dan berharap orang-orang terdekat mengerti. Hampir dua tahun perasaannya tidak baik-baik saja. Saya suka kejujuran semacam ini. Banyak kesaksian hanya menampilkan akhir bahagia, padahal justru di bagian tengah cerita ada banyak hal nyata. Di tengah kekalutan itu, ia teringat Filipi 1:29. Paulus menulis bahwa kepada orang percaya dikaruniakan bukan...