Langsung ke konten utama

Berserah kepada Tuhan: Renungan Kristen tentang Melepaskan Kendali

Orang yang paling sulit menikmati hidup biasanya paling sibuk mengendalikan semuanya. Saya mengakuinya dengan jujur, waktu dulu saya termasuk golongan itu. Setiap rencana saya susun rapi sampai ke hal-hal kecil. Jadwal kerja, keuangan, bahkan bayangan lima tahun ke depan, semua saya tata sendiri. Dan setiap kali hasilnya melenceng sedikit saja, saya marah. Kepada keadaan, kepada orang lain, dan pelan-pelan kepada diri sendiri yang tidak sanggup menjaga semuanya tetap rapi.

Cahaya matahari menembus awan putih di langit biru

Sampai ada titik di mana tubuh dan pikiran saya menolak untuk terus waspada. Di situlah Alkitab memberi kalimat yang sebelumnya hanya saya anggap hafalan. Amsal 3:5-6 tidak pernah terdengar seberat itu sampai saya membaca pelan-pelan adalah "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."

Bagian paling mengganjal buat saya bukan kalimat "percayalah". Mengatakan percaya itu gampang, bahkan bisa diucapkan sambil tetap mencemaskan semuanya. Bagian berat justru ada di kalimat kedua adalah jangan bersandar kepada pengertian sendiri. Kita terbiasa berpikir, menghitung, mempersiapkan. Bukan berarti akal harus dimatikan. Yang diminta hanya menggesernya dari posisi hakim terakhir atas hidup kita, supaya ada ruang bagi Tuhan untuk menunjukkan jalan di luar dugaan kita.

Kendali itu nyaman, dan itu justru bahayanya

Selama merasa memegang kemudi, orang bisa tidur nyenyak. Saya dulu begitu. Padahal kemudi itu sebagian besar hanya dugaan. Detak jantung, cuaca besok, keputusan orang di kantor, semua di luar jangkauan saya. Saya pura-pura tidak melihatnya, lalu gusar waktu salah satu di antaranya berjalan tidak sesuai selera saya. Menyerahkan kendali rasanya seperti terjun dari tempat tinggi, padahal Alkitab menggambarkannya sebaliknya adalah jatuh ke tangan yang memelihara.

Serahkan, bukan titip sebentar

Satu Petrus memakai kata yang menarik. "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu" (1 Petrus 5:7). Kata serahkan di sini bukan titip sebentar lalu diambil lagi. Serahkan berarti menaruh beban di tempat yang tepat dan membiarkannya ada di sana. Saya masih sering kedapatan menarik kembali hal yang barusan saya doakan, dan rasanya menggelikan sekaligus lega waktu menyadari kebiasaan itu. Tuhan tidak marah karena kita bolak-balik. Ia hanya meminta supaya bebannya tidak kita pikul sendirian.

Yesus berkata hal serupa di Matius 11:28, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." Barangkali kelegaan yang dimaksud bukan hidup tanpa persoalan. Sebagian masalah memang tinggal. Kelegaan itu lebih pada terbebas dari keharusan menopang semuanya sendirian. Ada yang mau menanggung bersama, dan dekat dengan orang yang menanggung itu, hati justru berubah ringan.

Bayangkan anak kecil di kursi belakang sepeda motor yang mencengkeram erat jaket ayahnya. Pegangannya kuat, tetapi bukan dia yang mengemudi. Ia tetap ikut dalam perjalanan sambil tahu bahwa yang memegang kemudi mengenal jalan. Berserah kepada Tuhan sedikit mirip begitu. Kita tetap berusaha, tetap bertindak, tetapi arah dan hasil tidak lagi sepenuhnya tanggung jawab kita. Pengertian yang terbatas tidak dipaksa menyelesaikan apa yang memang di luar jangkauannya.

Orang dalam masa menunggu jawaban lama, misalnya soal pekerjaan atau kesembuhan, biasanya paling sulit melakukan ini. Renungan kami sebelumnya tentang saat Tuhan diam menyentuh bagian itu, dan berserah ternyata bersinggungan erat dengannya. Kita boleh tetap berdoa memohon, sambil melonggarkan genggaman, karena ada kelekatan yang lebih besar daripada sekadar harapan supaya permintaan kita dikabulkan.

Untuk saya, titik baliknya bukan ketika semua berjalan rapi. Justru ketika keadaan tetap tidak menentu dan saya memilih untuk tetap tenang karena percaya ada yang memegang semuanya. Hidup tidak selalu menjadi lebih mudah setelah itu, tetapi tidur jadi lebih nyenyak. Kelegaan itu nyata, dan rasanya mirip cahaya yang menembus awan setelah sekian lama hanya melihat langit kelabu.

Ada satu pertanyaan untuk ditimbang hari ini. Di bagian mana Anda masih menggenggam dengan kaku sesuatu yang seharusnya sudah diserahkan? Mungkin pekerjaan, mungkin anak, mungkin gambaran hidup yang diinginkan. Melepaskan bukan tanda kalah. Dalam keyakinan Kristen, itu justru sikap percaya yang paling jujur. Amsal 3:6 menutup dengan janji, Tuhan akan meluruskan jalanmu. Jalan itu tidak selalu persis dengan peta yang kita buat, tetapi arahnya diketahui oleh Dia yang menuntun.


Referensi

Ayat Alkitab adalah Amsal 3:5-6; Matius 11:28; 1 Petrus 5:7 (TB, LAI). Bacaan lengkap dapat dicek di Amsal 3:5-6 pada Alkitab YouVersion.

Gambar: "Sunlight With White Clouds" oleh Lukas, dari Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...