Langsung ke konten utama

Membangun Keluarga Kristen yang Kuat di Zaman Modern

Keluarga makan malam bersama di ruang keluarga

Banyak orang Kristen setuju bahwa keluarga adalah tempat pertama anak belajar tentang Tuhan. Tapi persetujuan itu jarang sampai ke praktik. Rumah sering menjadi tempat tidur dan makan, sementara sekolah Minggu yang dianggap bertugas membentuk iman anak. Padahal Alkitab menaruh tanggung jawab itu di pundak orang tua, bukan guru atau pendeta.

Ulangan 6:6-7 berbunyi, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." Kata "berulang-ulang" dan "duduk di rumahmu" di ayat ini yang menghentikan saya sejenak. Ini bukan jadwal ibadah mingguan. Ini pola hidup sehari-hari, di meja makan dan di ruang keluarga.

Salah satu cara paling sederhana menghidupkan ayat itu adalah mezbah keluarga, kebiasaan berdoa dan membaca Alkitab bersama di rumah. Bentuknya tidak perlu rumit. Sepuluh sampai lima belas menit, satu bagian Alkitab, satu doa bergantian. Sebagian keluarga memilih membaca satu mazmur secara bergiliran, sebagian lain cukup berdoa syukur sebelum tidur. Yang lebih penting daripada durasinya adalah keteraturannya. Kebiasaan kecil yang berjalan setiap hari menanamkan sesuatu. Ibadah yang hanya terjadi sekali seminggu tidak akan pernah bisa menanamkannya.

Keputusan Lebih Penting dari Suasana Hati

Yosua menetapkan arah keluarganya dengan tegas. "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN" (Yosua 24:15). Kalimat itu ia ucapkan bukan karena semua orang di rumahnya sudah sepakat. Ia memutuskan lebih dulu, dan keputusan itu yang menuntun keluarganya.

Memimpin keluarga secara rohani jarang berangkat dari perasaan. Biasanya dari keputusan. Hari ini memilih bersabar ketika anak rewel, esok memilih tidak membentak ketika pasangan lelah, lusa memilih mengucapkan terima kasih untuk hal-hal kecil. Keputusan-keputusan kecil semacam itu luput dari mata orang, tapi pelan-pelan membentuk arah rumah tangga.

Masalah Itu Ujian, Bukan Akhir

Keluarga Kristen tidak kebal masalah. Keuangan bisa sulit, anak bisa sakit, pekerjaan bisa hilang. Yang membedakan keluarga yang bertahan adalah cara mereka melewati masa sulit itu. Mereka membicarakan masalah secara terbuka atau menyembunyikannya? Pasangan saling mendukung atau saling menyalahkan? Anak-anak mendengar versi jujur atau dibiarkan menebak-nebak? Rumah tangga yang jujur tentang kesulitannya, sambil tetap percaya Tuhan memelihara, biasanya keluar lebih kuat dari badai.

Dan ada satu hal lagi yang sering hilang di tengah masalah adalah pengampunan. Kata "maaf" seharusnya bukan kekalahan dalam keluarga, melainkan kebiasaan. Sulit memang, terutama saat kita merasa paling benar. Tapi anak yang setiap hari melihat pengampunan terjadi di rumahnya akan lebih mudah percaya bahwa Tuhan mengampuni.

Kehadiran Itu Bahasa Kasih

Anak-anak memahami kasih dari waktu yang orang tua berikan, bukan dari ceramah. Lima belas menit bermain bersama, satu percakapan serius sebelum tidur, satu perhatian penuh tanpa gawai di tangan, semuanya lebih berbicara daripada nasihat panjang. Efesus 5 menulis tentang suami yang mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat, dan istri yang menghormati suami. Dalam praktik sehari-hari, itu berarti suami ikut mencuci piring atas kemauan sendiri, istri tidak merendahkan suaminya di depan anak, dan keduanya memilih kata-kata yang membangun ketika lelah menyerang.

Zaman modern menambahkan satu musuh yang tidak ada di zaman orang tua generasi sebelumnya adalah layar. Anak-anak sibuk dengan gawainya, orang tua sibuk dengan gawainya sendiri. Banyak ayah pulang ke rumah dan duduk di sofa. Badannya hadir, jiwanya masih menempel pada pekerjaan atau beranda media sosial. Anak-anak meniru itu. Mereka belajar bahwa orang tua bisa hadir sambil memikirkan hal lain, dan orang yang paling dekat sekalipun hanya berhak mendapat perhatian separuh-separuh. Keputusan kecil bisa mulai dari situ adalah mengumpulkan semua ponsel di satu keranjang selama makan malam. Tampak sepele, tetapi dari kebiasaan sekecil itu anak belajar bahwa mereka tidak perlu bersaing dengan notifikasi.

Jangan Berjalan Sendiri

Keluarga yang kuat butuh komunitas. Manusia bukan untuk berjalan sendirian, dan keluarga yang mengasingkan diri akan mudah goyah. Ijinkan beberapa orang masuk adalah teman seperjalanan, orang tua rohani, keluarga-keluarga lain untuk berbagi cerita. Bukan berarti membuka semua hal kepada semua orang. Cukup ada beberapa orang yang kita percaya, yang bisa mendoakan dan menopang. Banyak gereja menyediakan kelompok kecil untuk itu. Sayangnya, keluarga sering menganggapnya pilihan, bukan kebutuhan. Padahal banyak keluarga selamat dari masa sulit karena ada tangan-tangan lain di belakang layar.

Saya tidak tahu keadaan keluarga Anda sekarang. Mungkin hangat, mungkin retak, mungkin berjalan dalam kabut. Membangun keluarga yang kuat tidak harus mulai dari hal besar. Mulai dari satu kebiasaan minggu ini. Sekali makan malam tanpa gawai. Satu doa singkat sebelum tidur bersama anak. Satu permintaan maaf yang jujur kepada pasangan. Dari hal-hal kecil seperti itu, perlahan Tuhan menumbuhkan rumah yang teduh.

Referensi

1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). Ulangan 6:6-7; Yosua 24:15; Efesus 5:22-33.
2. Bagaimana cara Alkitab menggambarkan keluarga Kristen yang baik?, GotQuestions.org Indonesia.
3. Pondasi Keluarga Kristen: 3 Kunci Membangun Rumah Tangga yang Berpusat pada Injil, Living Word Indonesia.
4. Gambar: keluarga makan malam bersama, foto oleh cottonbro (Pexels).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...