Sebelas bersaudara, dan hanya satu yang percaya Yesus. Kesaksian Kristen nyata ini bermula dari pernikahan 46 tahun lalu. Suami Ibu Lily T. adalah anak kesepuluh dari sebelas, satu-satunya orang Kristen di keluarganya ketika mereka menikah. Mertuanya sudah sepuluh kali menikahkan anak-anaknya dengan upacara sembahyangan. Saat giliran pasangan muda ini tiba, mereka memilih menikah di gereja. Mama memperbolehkan. Malam itu juga salah satu anggota keluarga bermimpi melihat peti mati di rumah mereka. Bagi keluarga itu, mimpi itu pertanda buruk. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tidak ada yang terjadi. Justru Tuhan memberkati keluarga kecil baru itu berlebihan, melebihi saudara-saudara yang lain.
Cerita lengkapnya saya baca di Majalah Gema Ilahi, publikasi Gereja Pantekosta Tabernakel Kristus Gembala Ajaib (GKGA) Surabaya, edisi 26 April 2026. Ibu Lily menuliskannya sendiri, tanpa hiasan. Baris demi baris ia menceritakan bagaimana Tuhan menjangkau satu keluarga besar yang menyembah berhala, satu orang demi satu orang, dalam puluhan tahun.
Pertobatan yang Tidak Masuk Perhitungan
Kakak laki-laki yang ketiga adalah orang paling kuat memegang keyakinannya. Ia punya kamar khusus untuk berdoa kepada berhalanya, sampai dinding kamar itu menguning oleh asap hio. Pertobatannya, tulis Ibu Lily, tidak pernah masuk perhitungan mereka. Suatu hari kakak itu menghadiri kebaktian kebangunan rohani di daerah Kertajaya, Surabaya. Firman Tuhan menjamahnya, ia maju saat altar call, menerima Yesus, lalu bersedia dibaptis. Keesokan harinya ia menemui Mama dan berkata bahwa ia sekarang orang Kristen, kemudian menurunkan semua berhalanya.
Saudara perempuan yang jauh lebih tua menemui Tuhan lewat jalan lain. Suaminya menderita tumor otak stadium lanjut, dokter di dalam maupun luar negeri sudah angkat tangan, tubuhnya tinggal kurus dan lemah. Anak-anak mereka sudah lebih dulu percaya dan terus bercerita tentang Yesus. Akhirnya perempuan itu menyerahkan diri dan mau dibaptis. Istrinya ketakutan, khawatir tubuh ringkih itu makin sakit kalau masuk kolam. Yang terjadi sebaliknya. Begitu keluar dari kolam baptisan, suaminya segar, sehat, dan sembuh dari sakitnya. Keluarga itu kemudian mengenal Yesus secara pribadi, dan rumahnya ia buka menjadi tempat persekutuan doa.
Mama yang Bilang Tidak Bisa Nunut
Pertobatan paling mengharukan datang dari Mama mertua sendiri. Ia wanita tua yang tidak terpelajar, tetapi bijak dan saleh dalam kepercayaannya. Ketika Ibu Lily mengajaknya percaya Yesus, jawabnya singkat: kan anak dan cucu sudah percaya, punya rumah di surga, Mama bisa ikut mereka. Ibu Lily menjawab dengan kalimat yang sulit saya lupakan: di surga tidak bisa nunut. Masing-masing harus punya rumah sendiri, artinya percaya sendiri-sendiri. Mama akhirnya dibaptis, langkah yang dulu tidak pernah masuk akal bagi siapa pun di keluarga itu.
Beberapa tahun kemudian Mama sakit, dan Tuhan memanggilnya. Saat memilih peti mati, keluarga mengambil peti bermotif bunga yang netral, karena masih ada saudara yang belum percaya. Uang sudah dibayar, tetapi peti itu tidak ada di gudang, padahal catatan stok bilang masih ada. Sebagai gantinya mereka menerima peti bergambar Yesus bersama murid-murid-Nya pada Perjamuan Malam Terakhir. Mungkin bagi orang lain ini hal sepele, tetapi bagi keluarga itu peti itu menjadi tanda yang sangat berarti, dan Ibu Lily mengutip 1 Korintus 2:9: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."
Saudara perempuan di Hongkong bersikeras mengadakan upacara sembahyangan untuk pemakaman Mama dan siap membawa semua peralatannya. Keluarga tidak berdebat, menyerahkan saja sebagai bentuk penghormatan. Hari ketika mereka menelepon, perempuan itu turun dari bus dan kakinya patah. Ia tidak bisa datang, upacara sembahyangan yang mereka rencanakan itu batal, dan Ibu Lily menulis bahwa Tuhan sendiri yang menghentikannya.
Baptisan yang Hampir Batal
Kakak perempuan lainnya suatu hari Natal menyatakan ingin ikut ke gereja. Ia menerima Yesus dan mendaftar untuk menerima baptisan. Lalu ia jatuh di rumah, tulang pinggulnya bermasalah dan harus menjalani operasi. Ibu Lily mengaku marah waktu itu, mengira ada kuasa gelap yang mencoba menghentikan baptisan kakaknya. Ia mengajak hamba-hamba Tuhan mendoakannya. Seminggu setelah operasi, kakaknya sudah bisa berjalan. Dokter heran melihat pemulihan secepat itu, dan baptisan berlangsung tepat waktu.
Sekarang seluruh keluarga suami Ibu Lily menjadi pengikut Kristus. Anak cucu percaya dan melayani. Salah satu dari keluarga itu bahkan menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu.
Yang Bisa Kita Bawa Pulang
Membaca kesaksian ini, saya makin yakin bahwa janji dalam Kisah Para Rasul 16:31 itu nyata: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." Paulus mengucapkan kalimat itu kepada kepala penjara di Filipi, tetapi polanya sama: satu orang percaya, rumah tangganya ikut selamat. Keselamatan memang urusan pribadi, kita tidak bisa mewariskannya kepada siapa pun. Tetapi doa dan kesaksian bisa membukakan jalan, satu hati demi satu hati.
Dari cerita ini saya paling kagum pada kesetiaan pasangan muda itu, bukan pada mujizatnya. Mereka tidak punya kuasa atas keluarga besar itu. Modal mereka cuma komitmen seperti Yosua: "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN" (Yosua 24:15). Lalu mereka berdoa dan bersaksi, perlahan, bertahun-tahun, sementara Tuhan mengerjakan sisanya.
Banyak keluarga di sekitar kita sedang bergumul seperti ini. Ada orang tua yang berdoa puluhan tahun untuk anaknya yang belum percaya, ada istri sendirian di tengah keluarga besar suaminya. Kesaksian Ibu Lily menawarkan harapan yang jujur: Tuhan tidak terburu-buru, tetapi Ia bekerja. Pemazmur mengajak kita bercerita: "Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa! Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!" (Mazmur 105:1-2).
Kisah pemulihan keluarga lain sudah kami tulis di artikel Kesaksian Kristen Nyata: Rumah Tangga Pulih Setelah Enam Tahun. Untuk pergumulan membangun keluarga sehari-hari, ada Membangun Keluarga Kristen yang Kuat di Zaman Modern.
Kalau keluarga Anda belum sepenuhnya percaya, kesaksian ini untuk Anda. Mulai dari satu orang, doakan dia, dan biarkan hidup Anda yang bercerita. Untuk hasilnya, kita serahkan kepada Tuhan, sambil terus berdoa dan terus bercerita tentang kebaikan-Nya.
Referensi
1. Lily T., "Mukjizat Masih Terjadi", Majalah Gema Ilahi, GKGA Surabaya, 26 April 2026: baca artikel aslinya.
2. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). Ayat yang dipakai: Kisah Para Rasul 16:31; 1 Korintus 2:9; Yosua 24:15; Mazmur 105:1-2. Semua ayat dicek di bible.com.
3. Gambar: ayah dan anak berdoa bersama, foto oleh Timur Weber via Pexels.
Komentar
Posting Komentar