Enam tahun mereka hidup terpisah. Seorang ibu rumah tangga dengan tiga anak menuliskan kisahnya di situs Kesaksian SABDA, dan cerita nyata itu saya tulis ulang di sini karena jujur menggambarkan cara Tuhan bekerja lewat hal-hal kecil. Rumah tangganya mulai goyah di tahun kelima belas pernikahan. Perubahan emosi membuat dia dan suaminya sering bertengkar, keadaan keluarga kacau, sampai akhirnya mereka memutuskan hidup berpisah. Ia menjaga anak-anak, suaminya berkewajiban mengirim kebutuhan tiap bulan.
Pekerjaan datang lewat perkenalan seorang teman. Ia bekerja di sebuah perusahaan garmen selama sepuluh tahun, dan bertahun-tahun lamanya ia menyembunyikan statusnya sebagai perempuan yang berpisah dari suami, sekadar menghindari pertanyaan rekan kerja. Pendapatan tetap membuat hidupnya terasa lebih ringan, sampai suatu ketika suaminya berhenti mengirim uang bulanan. Pertengkaran lama datang kembali. Kekhawatiran menumpuk, malam-malamnya gelisah, dan ia takut sesuatu terjadi pada anak-anaknya di rumah yang ia jaga seorang diri.
Di perusahaan itu ada majikannya, Ibu Tan. Ia selalu membagikan Injil, memutar kaset penginjilan di tempat kerja, dan mengadakan persekutuan setelah makan siang. Perempuan ini menolak setiap undangan. Ibu Tan tidak memaksa. Ia hanya meminta dengan hormat agar anak-anaknya boleh ikut sekolah minggu.
Yang membuatnya tercengang justru perubahan pada anak-anaknya. Mereka menjadi penurut dan baik, dan rasa heran itu perlahan menumbuhkan minatnya pada kekristenan, walau hatinya masih keras menolak ikut kebaktian. Ibu Tan lalu mengubah persekutuan siang menjadi persekutuan berbahasa Inggris. Karena ingin belajar bahasa, ia mulai ikut. Di sana ada puji-pujian, doa, dan hafalan ayat Alkitab, dan siapa yang hafal dengan baik mendapat hadiah. Ingin memberi hadiah itu untuk anak-anaknya, ia tekun menghafal.
Tanpa disadarinya, ayat-ayat yang ia hafal demi hadiah itu diam-diam bekerja. Firman Tuhan masuk ke hatinya lewat rutinitas yang sederhana. Dalam sebuah kebaktian kebangunan rohani, ia mengambil keputusan menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya. Lima tahun setelah pertama kali mendengar Injil, ia mengikuti kursus pemuridan dan mengenal Tuhan lebih dalam.
Justru di situ muncul pergumulan baru. Ia merasa menjadi orang Kristen tanpa kesaksian karena masih hidup terpisah dari suami, dan kesedihan itu ia bawa dalam doa. Jawaban Tuhan datang lewat jalan tak terduga. Suatu hari ia bertemu suaminya. Sang suami melihat perempuan yang sama, tetapi sikapnya sudah berbeda, dan ia mulai mendekat untuk memulihkan hubungan yang semula hancur. Setelah enam tahun berpisah, rumah tangga itu kembali utuh.
Pintu Masuk yang Tidak Disangka
Kalau saya membaca kisah ini sekali jalan, bagian paling mengesankan bukan pertemuan kembali di akhir cerita, melainkan pintu masuknya: hadiah hafalan ayat untuk anak-anak. Tuhan memakai hal kecil yang tampak tidak rohani sama sekali, bahkan motivasi setengah-setengah, untuk menanam firman di hati. Saya pikir banyak dari kita menunggu Tuhan bertindak dramatis, padahal Ia sering datang lewat rutinitas yang membosankan.
Ibu Tan juga mengajar saya sesuatu. Ia tidak berdebat, tidak memaksa. Ia membuka pintu sekolah minggu untuk anak-anak, menyediakan persekutuan berbahasa Inggris, lalu membiarkan firman bekerja dengan waktunya sendiri. Kesabaran semacam ini jarang dihargai, tetapi hasilnya nyata, dan itu cukup bagi saya.
Tahun-Tahun Itu Tidak Hilang
Enam tahun berpisah terasa hilang begitu saja. Anak-anak tumbuh tanpa ayah di rumah, hari raya dirayakan terpisah, dan banyak momen tidak bisa diulang. Tentang tahun-tahun hilang itu, Tuhan berbicara melalui nabi Yoel: "Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan..." (Yoel 2:25). Bagi keluarga ini, ayat itu terjadi secara harfiah.
Perubahan pada perempuan ini tidak berhenti di keputusan pertobatan. Paulus menulis, "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2 Korintus 5:17). Suaminya bertemu istri yang berbeda, dan perbedaan itulah pembuka jalan pemulihan. Hidup yang diubahkan sulit dibantah.
Saya tidak ingin menutup mata pada bagian yang sulit. Tidak semua rumah tangga dipulihkan dengan cara serupa. Ada pasangan berpisah selamanya, ada yang bertahan dalam luka panjang. Kesaksian ini bukan formula, dan menyebutnya formula tidak adil bagi yang masih menunggu. Tapi satu pola jelas terlihat dari cerita ini: Tuhan tidak pernah berhenti bekerja, bahkan ketika hubungan manusia sedang berantakan.
Kalau Anda sedang bertanya apakah langkah kecil hari ini berarti, kisah ini menjawabnya. Hafalan ayat yang awalnya hanya demi hadiah berubah menjadi benih iman. Sekolah minggu mengubah anak-anaknya menjadi penurut. Persekutuan berbahasa Inggris membawanya pada pertobatan. Tuhan memakai hal-hal sepele, dan itu seharusnya membuat kita tenang.
Saya pernah menulis tentang membangun keluarga Kristen yang kuat di artikel lain, dan cerita ini sejalan dengan isi artikel itu: fondasi keluarga memang dibangun dari hal-hal kecil. Bagi Anda yang menanti pemulihan, kesaksian pertolongan Tuhan yang tak pernah habis dari pembaca lain mungkin ikut menguatkan.
Perempuan itu menutup kesaksiannya dengan ucapan syukur: "Rencana-Mu sangat indah dan sempurna bagi hidupku, terima kasih Tuhan." Saya ingin mengucapkan hal serupa untuk setiap orang yang membaca artikel ini, apa pun babak cerita Anda. Tuhan yang memulihkan rumah tangga itu sanggup bekerja dalam keadaan Anda juga.
Referensi
1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). Yoel 2:25; 2 Korintus 5:17.
2. Kesaksian asli: "Dipulihkan dari Kehancuran", situs Kesaksian SABDA (YLSA), disadur dari buku Jalan Tuhan Terindah karya Pdt. Paulus Daun, M.Div., Th.M. (Yayasan Daun Family, Manado, hlm. 101-103): baca kesaksiannya di Kesaksian SABDA.
3. Gambar: pasangan berpegangan tangan, foto oleh Pixabay via Pexels.
Komentar
Posting Komentar