Langsung ke konten utama

Apa Itu Keselamatan? Dasar Iman Kristen yang Perlu Dipahami

Tiga salib di atas bukit

Ada satu percakapan di bukit Golgota yang selalu membuat saya berhenti lama setiap kali membacanya. Dua orang menjalani hukuman mati di kiri dan kanan Yesus. Yang satu mencaci Dia. Yang lain justru menegur temannya, lalu berpaling kepada Yesus dengan kalimat pendek: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja" (Lukas 23:42). Jawaban Yesus tidak kalah pendek: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Lukas 23:43). Hari itu keselamatan datang kepada orang yang sama sekali tidak layak.

Orang itu belum sempat menerima baptisan, belum sempat berbuat baik. Ia tak bisa menggerakkan tangan, napasnya tinggal hitungan jam. Ia cuma punya pengakuan dan kepercayaan yang keluar di tengah derita. Kalau keselamatan adalah soal kelayakan, ia pasti gagal total. Lalu muncul pertanyaan yang serius: kalau begitu, apa sebenarnya keselamatan itu?

Diselamatkan dari Apa?

Keselamatan dalam Alkitab bukan sekadar tiket masuk surga. Alkitab memakai kata ini untuk hal yang lebih luas, yakni pertolongan dan pembebasan dari bahaya. Dalam Yohanes 3:16 kita membaca: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Ayat itu berakhir dengan dua kemungkinan, binasa atau hidup kekal. Kata "dunia" di sini mengejutkan, sebab ia tidak sedang berbicara tentang planet, melainkan tentang umat manusia yang sedang bermusuhan dengan Penciptanya. Manusia berdiri di ambang kebinasaan, dan Allah bertindak lebih dulu.

Teologi Kristen merangkumnya begini. Keselamatan melepaskan kita dari murka Allah atas dosa, bukan sekadar dari perasaan bersalah. Penjelasan lengkapnya ada di artikel doktrin keselamatan dari GotQuestions.org. Akar dari semuanya bukan kepatuhan kita, melainkan kasih Allah. Paulus menggambarkan kasih itu panjang lebar di Kasih yang Lebih Dalam: Memahami 1 Korintus 13; kasih yang sama bekerja di Golgota.

Pemberian, Bukan Gaji

Efesus 2:8-9 menutup pintu pada semua usaha manusia: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." Paulus menulis kalimat ini kepada orang-orang yang tadinya hidup jauh dari Allah. Mereka tahu betul betapa kotornya masa lalu mereka. Lalu ia berkata, kasih karunia yang menyelamatkanmu, lewat iman, bukan karena jasa. Pemberian.

Logika pemberian berbeda dari gaji. Gaji harus kita usahakan, kita tagih, dan bisa hilang kalau kinerja buruk; pemberian cukup kita terima. Penjahat di kayu salib itu menerimanya dalam keadaan paling buruk, beberapa jam sebelum mati. Kalau perbuatan baik bisa membeli keselamatan, kematian Kristus jadi tidak masuk akal. Menurut saya pribadi, ini kesalahan berpikir yang paling umum di zaman kita: banyak orang mengira Allah menerima orang baik. Alkitab membalik logika itu: orang baik tidak akan pernah cukup baik, dan orang berdosa justru selamat ketika ia percaya.

Satu Nama, Satu Tanggapan

Petrus mengucapkan kalimat yang paling tidak populer di zamannya ketika ia berdiri di hadapan mahkamah agama: "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan" (Kisah Para Rasul 4:12). Ia mengucapkannya tidak lama setelah ia dan Yohanes menyembuhkan orang lumpuh di depan Bait Allah, dan para pemimpin agama menangkap keduanya. Kalimat itu keluar di ruang interogasi, bukan dalam ruang diskusi. Petrus tidak menawarkan jalan alternatif, dan ia tahu betul taruhan nyawanya sendiri.

Lalu bagaimana seseorang menanggapinya? Roma 10:9 menjawab: "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan." Permintaannya sederhana: pengakuan yang jujur dan kepercayaan yang nyata. Tidak lebih dari itu.

Penjahat di salib melakukan persis itu. Ia mengaku Yesus sebagai Raja, dan percaya meski matanya melihat Raja itu sekarat di sebelahnya. Tidak ada tuntutan tanda atau mukjizat; cuma satu permintaan, supaya Yesus ingat padanya. Iman tidak menuntut pengertian yang sempurna. Ia hanya perlu kepercayaan kepada pribadi yang tepat.

Saya sering mendengar orang menunda percaya sambil menunggu pengertian yang lengkap. Padahal penjahat itu percaya tanpa teologi yang rapi. Ia tahu Yesus tidak bersalah, dan ia menyebut Yesus Raja. Sisanya ia serahkan. Kadang iman lahir justru dari titik tidak berdaya, saat kita berhenti mengatur dan mulai meminta.

Keselamatan tidak berhenti di pintu masuk. Paulus menulis: "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang" (2 Korintus 5:17). Orang yang diselamatkan menerima hidup baru, dan hidup baru itu bertumbuh. Tanda pertumbuhannya bisa kita baca di Mengenal Buah Roh: Apa Artinya Hidup Dipimpin Roh, artikel kami tentang buah Roh.

Saya berhenti mengukur keselamatan dari seberapa baik saya hari ini. Ukurannya satu, apakah saya percaya kepada Yesus yang mati dan bangkit untuk saya. Kalau ya, sisanya perjalanan belajar, lengkap dengan jatuh bangun. Di kayu salib, satu orang binasa dan satu orang selamat dalam hitungan jam. Malam ini, ke mana kita berpaling?

Referensi

1. Alkitab TB (LAI). Yohanes 3:16; Efesus 2:8-9; Roma 10:9; Kisah Para Rasul 4:12; 2 Korintus 5:17; Lukas 23:42-43. Semua ayat dicek langsung di bible.com.
2. "Apa itu keselamatan? Apakah doktrin Kristen mengenai keselamatan?", GotQuestions.org: baca artikelnya.
3. "Apakah makna dari Efesus 2:8-9?", GotQuestions.org: baca artikelnya.
4. Gambar: tiga salib saat matahari terbenam, foto oleh Pixabay via Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kasih yang Lebih Dalam: Memahami 1 Korintus 13

Kalau Anda pernah duduk di pernikahan Kristen, hampir pasti 1 Korintus 13 pernah dibacakan. Pasal ini sudah begitu melekat dengan pesta pernikahan sampai banyak orang menyebutnya nyanyian cinta. Padahal Paulus tidak menulisnya untuk dua mempelai. Ia menulis untuk jemaat yang sedang bertengkar, lengkap dengan segala kekacauannya. Jemaat Korintus waktu itu sibuk membanding-bandingkan karunia rohani. Sebagian bangga bisa berbahasa roh, sebagian lagi bangga dengan pengetahuannya, dan perpecahan mulai terasa. Di tengah suasana seperti itu Paulus menulis pasal ini, dan isinya jauh dari puisi manis. Ditulis untuk Jemaat yang Bertengkar Sebelum masuk ke pasal ini, Paulus menghabiskan satu pasal penuh membahas karunia rohani. Di ujung pasal itu ia menulis, "Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi" (1 Korintus 12:31). Pasal 13 adalah jalan itu, dan isinya mengejutkan. Bunyinya begini: "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan baha...

Panduan Remaja Kristen Menghadapi Tekanan Zaman

Jam sepuluh malam, lampu kamar menyala, dan ponsel di atas meja bergetar dua kali dalam semenit. PR matematika belum selesai, chat grup masih ramai membahas rencana besok. Story teman sekelas baru pulang dari tempat yang tidak pernah kita datangi. Tidak ada satu pun yang berteriak, semuanya berbisik pelan. Tapi kalau kamu membiarkannya, tekanan itu menumpuk, dan dada rasanya sesak juga. Tekanan pada remaja Kristen zaman ini jarang berbentuk penganiayaan terbuka. Ia hadir sebagai standar yang terus bergeser. Nilai harus tinggi, tubuh harus mengikuti tren, dan akun media sosial harus tampak menyenangkan. Belum lagi tuntutan untuk tetap kelihatan rohani di tengah semuanya. Kajian tentang pergaulan remaja Kristen masa kini menyebutnya tantangan ganda, yaitu pengaruh media sosial terhadap sisi psikologis dan sosial, plus desakan untuk tetap berpegang pada nilai iman di lingkungan maya yang sering bertentangan dengan prinsip kekristenan. Berat. Saya tidak akan berpura-pura ini ringan. ...

Kesaksian Kristen Nyata: Pertolongan Tuhan Tak Pernah Habis

Tahun 2020, Rosnani Sagala, seorang perempuan di Medan, menerima kabar mengejutkan dari dokter. Penyakit itu tidak ringan, dan kabarnya datang saat ia masih memendam banyak impian dan rencana. Belum sempat pulih dari keterkejutan, tahun berikutnya muncul lagi penyakit lain di organ reproduksinya. Ia menulis sendiri kisahnya di WarungSaTeKaMu.org pada akhir 2022, dan kesaksiannya saya bagikan di sini karena ceritanya jujur tentang apa artinya percaya ketika kabar buruk datang bertubi-tubi. Dua tahun itu berat secara emosional. Ada masa ketika ia bertanya mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi, masa ketika ia mengasihani diri sendiri dan berharap orang-orang terdekat mengerti. Hampir dua tahun perasaannya tidak baik-baik saja. Saya suka kejujuran semacam ini. Banyak kesaksian hanya menampilkan akhir bahagia, padahal justru di bagian tengah cerita ada banyak hal nyata. Di tengah kekalutan itu, ia teringat Filipi 1:29. Paulus menulis bahwa kepada orang percaya dikaruniakan bukan...