Langsung ke konten utama

Postingan

Mendidik Anak Menurut Amsal 22:6: Meresmikan Rumah bagi Tuhan

Sebuah rumah berdiri baru; kuncinya masih di tangan pemiliknya, keluarganya belum pindah ke dalamnya. Hukum perang Israel kuno memuat ketentuan yang mungkin janggal hari ini. Sebelum pasukan maju, para petugas wajib memanggil satu golongan untuk pulang, yakni orang yang telah mendirikan rumah baru tetapi belum menempatinya (Ulangan 20:5). Negara itu rela kekurangan satu prajurit daripada satu rumah luput dari peresmian. Kata Ibrani di ayat itu ialah chanak. Chanak muncul lagi di ayat yang jauh lebih akrab di telinga kita. "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" (Amsal 22:6). Kata kerja itu hanya muncul lima kali di seluruh Alkitab, empat di antaranya menyangkut peresmian rumah atau altar, satu menyangkut anak. Nasihat Salomo jadi punya bobot baru. Mendidik anak setara meresmikan sebuah bangunan bagi Tuhan; kita menyerahkan hidupnya kepada Sang Pemilik sejak dini, bukan sekadar menghasil...

Apa Itu Iman Menurut Alkitab? Makna Dasar yang Sering Disalahpahami

Kata "percaya" sekarang begitu murah sampai kehilangan bobotnya. Kita memercayai prakiraan hujan di layar ponsel, mengikuti rekomendasi orang asing di aplikasi belanja, lalu berkata "aku percaya kepada Allah" dengan nada sama datarnya. Padahal keduanya tidak sama. Alkitab tidak sedang membahas ramalan cuaca ketika bicara soal iman; taruhannya jauh lebih besar, menyangkut hidup kita. Definisinya sendiri justru singkat. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1). Dua pilihan kata penulisnya sama-sama kuat. Dasar, dalam bahasa Yunani hypostasis, berarti pijakan kokoh di bawah bangunan. Bukti, elegchos, mirip istilah pembuktian di ruang sidang. Suasana hati boleh naik turun mengikuti kabar harian; iman bukan itu. Seluruh harapan orang percaya boleh bertumpu penuh di atasnya. Banyak orang tua bekerja bertahun-tahun di kota lain demi biaya sekolah anaknya. Hari ini mereka han...

Cara Menghadapi Godaan Menurut Alkitab: Panduan Orang Percaya

Pintu masuk godaan jarang tampak menyeramkan. Ia hadir sebagai kembalian belanja yang kelebihan lima ribu rupiah, pesan pribadi rekan kerja yang pelan-pelan melampaui batas, atau layar ponsel yang menyala sendiri di jam satu pagi. Kecil, masuk akal, gampang kita benarkan. Beberapa langkah kemudian barulah kita sadar sudah berjalan jauh di jalan yang seharusnya tidak kita lewati. Paulus punya kalimat keras untuk orang yang merasa kebal. Kepada jemaat Korintus ia menulis: "Siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Peringatan ini ditujukan kepada orang percaya, bukan kepada orang luar. Artinya, pergumulan dengan godaan bukan tanda iman yang gagal; setiap murid harus melewatinya, dan Alkitab tidak pernah menyembunyikan hal itu. Medan pertempuran ada di dalam Yakobus membongkar cara kerjanya dengan jujur: "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan a...

Kekuatan Baru untuk Orang yang Lelah: Renungan Yesaya 40:31

Jam sembilan malam, lampu kantor masih menyala, dan kereta terakhir membawa orang-orang yang wajahnya sudah selesai menghitung sisa tenaga. Sampai di rumah, hari belum usai juga. Ada cucian, ada PR anak yang belum selesai, ada grup kerja yang menyapa pukul sepuluh malam tanpa rasa bersalah. Lelah lama berhenti menjadi keluhan. Ia jadi udara yang kita hirup bersama. Orang percaya tidak kebal dari kondisi ini. Kadang justru tambah berat, sebab di luar pekerjaan ada pelayanan, ada ibadah malam, ada permintaan tolong dari saudara seiman. Tubuh hadir di bangku gereja, sementara batin kosong sampai dasar. Kalau Anda pernah membaca doa malam hanya sebagai rutinitas karena tenaga tinggal secuil, tulisan ini memang untuk situasi itu. Janji ini turun bagi orang yang sudah di ujung Yesaya 40 berbicara kepada umat yang lelah secara kolektif. Pembuka pasalnya berupa perintah untuk menghibur umat Allah, lalu di tengah pasal itu bangsa tersebut mengeluh seolah TUHAN mengabaikan hak mereka dan...

Bolehkah Remaja Kristen Merasa Ragu? Panduan Alkitab untuk Musim Pertanyaan Iman

Pertanyaan-pertanyaan terberat biasanya datang di kamar, malam-malam biasa, setelah tugas selesai dan ponsel kembali senyap. Kalau Tuhan memang ada, kenapa kadang rasanya Dia jauh? Kalau semua agama mengaku benar, apa istimewanya jadi Kristen? Pertanyaan semacam ini jarang naik sampai ke kelas Sekolah Minggu, dan banyak anak memilih menyimpannya sendiri. Ketakutannya pun sederhana adalah bicara, lalu dicap kurang iman. Padahal Alkitab tidak pernah menyembunyikan orang-orang bertanya. Abraham tertawa ketika Allah mengulang janji tentang keturunan kepadanya yang sudah berumur sembilan puluh sembilan tahun, dan ia bertanya bagaimana mungkin. Dari balik jeruji penjara, Yohanes Pembaptis mengirim murid-muridnya supaya mereka memastikan sendiri apakah Yesus sungguh Mesias yang dinanti Israel. Jawaban Yesus berisi bukti pekerjaan, bukan omelan. Kalau orang sebesar itu punya musim bertanya, remaja Kristen hari ini tidak perlu malu saat gilirannya datang. Ragu bukan sama artinya dengan ja...

Membangun Doa Keluarga: Menghidupkan Altar Keluarga di Rumah

Meja makan yang ditutup doa dulu hampir menjadi ciri rumah tangga Kristen di Indonesia. Ayah memimpin, anak-anak saling memegang tangan, doanya pendek adalah syukur untuk makanan, mohon berkat, amin. Kebiasaan itu sekarang pelan-pelan menguap. Makan bergantian karena jadwal berbeda-beda, doa pun kadang hanya berjalan sendiri-sendiri dalam hati. Saya menduga banyak keluarga mengalami hal serupa, dan tidak ada yang perlu malu karenanya. Doa bersama keluarga bukan tradisi kosong. Yosua menempatkannya sebagai keputusan hidup adalah "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN" (Yosua 24:15). Kalimat itu ia ucapkan di depan seluruh bangsa Israel, bukan di kamar pribadi. Ibadah Yosua mencakup rumahnya. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana menghidupkan doa keluarga di rumah sibuk seperti sekarang? Kenapa Doa Keluarga Sering Mati Sendiri Penyebabnya jarang dramatis. Ayah pulang larut, ibu sibuk mengurus keperluan anak. Anak-anak tenggelam di layar masing...

Kebangkitan Kristus: Dasar Iman Kristen yang Tidak Bisa Ditawar

Pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, beberapa perempuan berangkat ke kubur sambil membawa rempah-rempah untuk merawat jenazah (Markus 16:1-2). Mereka tidak sedang menunggu mukjizat. Mereka menjalankan pekerjaan duka yang paling biasa, sampai batu kubur yang terguling dan seorang malaikat mengubah rencana mereka. "Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit" (Matius 28:6). Kalimat itu adalah titik tumpu seluruh iman Kristen. Bukan sekadar peristiwa ajaib yang kita rayakan setiap Paskah. Seluruh keyakinan kita, dari pengampunan dosa sampai harapan hidup kekal, berputar di sekitar satu pertanyaan, yaitu apakah kubur itu kosong. Orang boleh berbeda pendapat tentang banyak hal dalam kekristenan, tetapi kalau kebangkitan gugur, hanya tinggal moralitas dan harapan yang rapuh. Kalau Kristus Tidak Bangkit Rasul Paulus tidak pernah menawar-nawar soal ini. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, dia menulis bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, dikuburkan, lalu d...