Pertanyaan-pertanyaan terberat biasanya datang di kamar, malam-malam biasa, setelah tugas selesai dan ponsel kembali senyap. Kalau Tuhan memang ada, kenapa kadang rasanya Dia jauh? Kalau semua agama mengaku benar, apa istimewanya jadi Kristen? Pertanyaan semacam ini jarang naik sampai ke kelas Sekolah Minggu, dan banyak anak memilih menyimpannya sendiri. Ketakutannya pun sederhana adalah bicara, lalu dicap kurang iman.
Padahal Alkitab tidak pernah menyembunyikan orang-orang bertanya. Abraham tertawa ketika Allah mengulang janji tentang keturunan kepadanya yang sudah berumur sembilan puluh sembilan tahun, dan ia bertanya bagaimana mungkin. Dari balik jeruji penjara, Yohanes Pembaptis mengirim murid-muridnya supaya mereka memastikan sendiri apakah Yesus sungguh Mesias yang dinanti Israel. Jawaban Yesus berisi bukti pekerjaan, bukan omelan. Kalau orang sebesar itu punya musim bertanya, remaja Kristen hari ini tidak perlu malu saat gilirannya datang.
Ragu bukan sama artinya dengan jatuh
Yakobus 1:6 sering kita pakai untuk membungkam orang bertanya: "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin." Sepintas bunyinya memarahi. Konteksnya justru ajakan berdoa memohon hikmat. Satu ayat sebelumnya berbunyi, "Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah" (Yakobus 1:5). Yakobus sedang mengajarkan cara meminta; ia tidak menutup pintu bagi orang dengan iman yang masih dalam proses.
Peringatan gelombang laut itu tetap harus kita dengar. Hati yang mendua memang mudah goyah ke mana-mana. Bedanya, Yakobus tidak melarang orang bertanya; ia mengajaknya mendekat, sebab Allah memberi hikmat "dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit". Tuhan tidak membuka pintu-Nya setengah bagi orang yang sedang goyah.
Injil Markus mencatat salah satu doa paling jujur di seluruh Alkitab. Seorang ayah datang membawa anaknya yang menderita keras oleh roh jahat, dan murid-murid gagal menolongnya. Ketika Yesus berkata, "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!", ayah itu berteriak adalah "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" (Markus 9:23-24). Dalam satu tarikan napas ia mengaku iman sekaligus mengakui keraguannya. Yesus lalu mengusir roh itu dan memulihkan anak itu; doa campur aduk seperti ini Ia terima.
Bahaya yang sesungguhnya
Kalau begitu, apakah semua keraguan aman? Menurut saya belum tentu. Bedanya terletak pada arah adalah bertanya sambil terus melangkah, lawan berhenti dan menutup pintu dari dalam. Mazmur memuat keluhan-keluhan getir, dan hampir semuanya berbalik lagi ke kepercayaan, walau pelan-pelan. Membahayakan justru keputusan diam-diam untuk berhenti mencari.
Surat Yudas memperlihatkan sikap yang gereja harus tunjukkan adalah "Tunjukkanlah belas kasihan kepada mereka yang ragu-ragu" (Yudas 1:22). Yudas menulis perintah ini untuk gereja-gereja muda; di tengahnya ada warga bergumul, dan responsnya bukan vonis, melainkan kasih. Untuk remaja, lingkaran terdekat memegang peranan serupa. Satu komentar mengejek bisa menutup pintu bertahun-tahun; satu teman yang mau mendengar sampai selesai bisa menjaganya tetap terbuka.
Pergumulan ragu sering berkelindan dengan pertanyaan identitas. Siapa aku sebenarnya kalau dibanding teman-temanku? Apa nilai di depan Tuhan kalau nilaiku di sekolah biasa-biasa saja? Tulisan kami tentang menemukan jati diri menurut Alkitab membahas akarnya lebih lengkap.
Langkah kecil di musim ragu
Bagi kamu yang sedang berada di musim ini, kebiasaan kecil memberi bantuan lebih nyata daripada debat panjang. Ceritakan pergumulanmu kepada satu orang dewasa tepercaya, guru Sekolah Minggu atau kakak rohani, tanpa menunggu semua ceritamu rapi. Pertahankan ritme ringkas adalah satu pasal pendek tiap hari, doa singkat yang boleh berantakan, ibadah yang tetap kamu hadiri meski hati kering. Tuliskan pertanyaan-pertanyaanmu, lalu kejar jawabannya satu per satu lewat percakapan dan bacaan yang baik. Simpan satu prinsip lagi adalah jangan mengambil keputusan besar tentang iman di titik terlempar, sebab keputusan yang lahir dari kelelahan kerap membuat kita menyesal kemudian.
Tinggal satu keluhan lagi adalah rasa jauh dari Tuhan yang tidak kunjung hilang. Renungan kami tentang saat Tuhan diam persis membahas musim itu. Diam tidak berarti Dia absen; penantian punya tempat dalam cara Tuhan mendidik iman orang muda.
Tomas berkata ia tidak akan percaya sebelum melihat bekas paku di tangan Yesus. Yesus tidak mengucilkannya; Ia datang, mempersilakan Tomas melihat serta menyentuh, dan keraguan itu berakhir di depan kehadiran yang sabar. Untuk malam ini, doa singkat sang ayah di Markus 9 cukup sebagai pembuka jalur adalah "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" Doa pendek dan jujur seperti itu cukup untuk memulai; sisanya biarlah Tuhan yang menyelesaikan dalam waktu-Nya.
Referensi
1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). Ayat yang dipakai adalah Yakobus 1:5-6; Markus 9:23-24; Yudas 1:22. Teks diverifikasi di Alkitab SABDA.
2. Kisah Abraham (Kejadian 17), Yohanes Pembaptis (Matius 11), dan Tomas (Yohanes 20) dirujuk sebagai narasi, bukan kutipan langsung.
3. Gambar: "Pensive Teenager Sitting by Window in Cozy Room", foto dari Pexels, lisensi Pexels (bebas dipakai, atribusi tidak diwajibkan).
Komentar
Posting Komentar