Langsung ke konten utama

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan.

Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu.

dua orang saling menggenggam tangan sebagai simbol rekonsiliasi dan pengampunan

Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak

Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali" (Matius 18:21-22, TB).

Tujuh puluh kali tujuh kali bukan hitungan yang harus kita tuntaskan. Awalnya saya mengira itu angka yang besar, lalu sadar bahwa Yesus sedang berkata "berhentilah menghitung." Pengampunan yang kita hitung-hitung bukan pengampunan; ia berubah jadi transaksi: sudah tiga kali aku maafkan, kali ini tidak.

Menurut saya, Yesus sedang menggeser sesuatu yang lebih mendasar. Pengampunan adalah keputusan, bukan perasaan. Perasaan sembuh perlahan, bahkan bisa saja tidak ikut. Tapi keputusan bisa kita ambil hari ini juga, meski hati masih remuk.

Mulai dari mengakui lukanya

Banyak nasihat pengampunan berbunyi "lupakan saja" atau "jangan dipikir-pikir." Omong kosong, kalau Anda bertanya kepada saya. Memaksa lupa pada luka justru membuatnya mengendap dan membusuk diam-diam. Langkah pertama adalah mengakui dengan jujur bahwa Anda terluka. Beri nama lukanya di hadapan Tuhan, bukan untuk mengutuk, tetapi supaya Dia masuk ke bagian yang paling sakit.

Praktiknya begini. Tuliskan atau ucapkan dalam doa apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana rasanya, tanpa diperhalus. Pemazmur sendiri menangis dan mempertanyakan segalanya kepada Tuhan; doa jujur lebih berkenan daripada doa rapi yang palsu. Langkah kedua sama beratnya: serahkan orang itu kepada Tuhan. Berhenti memegang hak untuk membalas adalah awal dari lepas.

Paulus menulis kepada jemaat di Efesus: "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu" (Efesus 4:32, TB). Satu kata kunci dalam ayat itu ialah "sebagaimana." Allah tidak mengampuni kita karena kita pantas, melainkan karena Ia memilih melakukannya di dalam Kristus. Pengampunan yang kita berikan kepada orang lain lahir dari pengampunan yang lebih dulu kita terima. Tentang anugerah cuma-cuma ini, kami pernah menulis lebih panjang di artikel Kasih Karunia: Anugerah Cuma-Cuma yang Tidak Layak Kita Terima.

Melepaskan bukan berarti setuju

Sering kali kita menyamakan mengampuni dengan membenarkan, dan kesalahan ini membuat orang terjebak bertahun-tahun. Mengampuni tidak berarti kita berkata "tidak apa-apa" atas perbuatan salah yang dilakukan orang itu. Yusuf berbicara terus terang kepada saudara-saudaranya yang dulu menjualnya: "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar" (Kejadian 50:20, TB).

Yusuf tidak berkata bahwa kejahatan saudara-saudaranya itu baik. Ia menyebutnya jahat. Tapi ia melepaskan hak untuk membalas dan membiarkan Allah menulis babak akhir dari ceritanya. Inilah bedanya: mengampuni mengakui bahwa ada yang salah, sekaligus menolak untuk hidup selamanya di bawah kuasa kesalahan itu.

Bedakan juga antara mengampuni dan berdamai. Pengampunan bisa Anda lakukan sendiri, kapan saja, di hadapan Tuhan. Berdamai butuh dua pihak, dan tidak selalu mungkin. Ada hubungan yang tetap rusak biarpun Anda sudah memaafkan, sebab pihak lain menolak bertanggung jawab atau terus melukai. Menjaga jarak dalam keadaan ini bukan kegagalan pengampunan, melainkan bagian dari kewaspadaan sehat. Melepaskan hak atas orang itu sebenarnya bagian dari pergumulan berserah, yang juga pernah kami bahas di Berserah kepada Tuhan: Renungan Kristen tentang Melepaskan Kendali.

Pengampunan jarang terjadi sekali jadi. Kita memaafkan, lalu lukanya menganga lagi di malam-malam yang sepi, dan kita harus memilih untuk melepaskan lagi. Jangan jadikan itu alasan menyerah. Setiap kali pilihan itu diulang, hati kita dibentuk sedikit demi sedikit, sampai suatu hari beban yang dulu seberat karung terasa ringan.

Kalau hari ini Anda membaca ini sambil menahan beban yang sudah bertahun-tahun, coba mulai dari hal kecil. Satu doa saja untuk orang itu minggu ini, tanpa agenda, tanpa mengharapkan apa pun darinya. Doakan dia di hadapan Tuhan dan katakan dengan jujur bahwa Anda ingin lepas, kendati rasanya belum bisa. Sering kali Tuhan tidak menuntut perasaan kita selesai; Ia hanya menunggu kita mengambil satu langkah keputusan, dan sisanya Dia kerjakan perlahan di dalam hati.

Saya tidak bilang ini gampang. Tidak ada rumus ajaib untuk membuat luka hilang dalam semalam. Tapi saya percaya pengampunan adalah salah satu jalan paling nyata menuju pembebasan yang Alkitab janjikan, dan Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan ketaatan yang kecil sekalipun.

Referensi

Ayat Alkitab dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru (LAI): Matius 18:21-22, Efesus 4:32, Kejadian 50:20.

Foto: fauxels dari Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesaksian Nyata Kevin Aprilio: Utang Rp17 Miliar Lunas

Kevin Aprilio berusia 25 tahun ketika hidupnya runtuh. Keyboardis Vierratale ini gagal besar di bisnis forex, dan semua yang ia miliki harus dijual: rumah, Ferrari 430, tabungan, sampai penghasilan musiknya. Yang tinggal hanyalah utang Rp17 miliar dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Kesaksian ini ia buka sendiri di Instagram pada 19 Juni 2019, empat tahun setelah kejadian itu. Pengakuannya waktu itu mengejutkan banyak orang, termasuk orang-orang yang selama ini hanya mengenalnya dari panggung. "Empat tahun yang lalu saya pernah sangat-sangat bangkrut," tulisnya. Liputan6.com mengutip unggahan itu. Ia menyebut dirinya korban kegagalan di industri forex. Orang-orang terdekatnya ikut jatuh, sebagian lalu menjauh. Ia sempat menerima ancaman. Di usia semuda itu, dengan utang sebesar itu dan tanpa modal, bunuh diri sempat tampak sebagai satu-satunya jalan keluar. Angka 17 Miliar di Usia 25 Sulit membayangkan tekanan seseorang yang harus mengembalikan 17 miliar tanpa pegan...

Cara Mendidik Anak di Zaman Digital Menurut Alkitab

Perubahan paling senyap dalam keluarga modern terjadi di meja makan. Dulu tempat itu penuh cerita, sekarang sering sunyi karena tiga atau empat kepala menunduk ke layar masing-masing. Tidak ada resep sempurna di artikel ini, dan saya tidak akan berpura-pura ada. Yang ada hanyalah pengamatan seorang penulis yang ikut bergumul dengan pertanyaan yang sama: bagaimana mendidik anak zaman layar tanpa kehilangan hati mereka? Persoalan gadget sudah menjadi ujian iman keluarga zaman ini. Banyak orang tua bertanya berapa jam anak boleh memegang ponsel, padahal pertanyaan lebih tajam berbunyi: siapa yang membentuk hati anak ketika layar menyala? Alkitab memang tidak menyebut kata teknologi, tetapi prinsipnya melampaui zaman. Kehidupan yang kita jalani di depan mereka itulah yang membentuk anak, bukan program yang kita rancang. Rumah Adalah Sekolah Pertama Perintah paling tua tentang pendidikan anak ada di Ulangan 6:6-7. Musa menulis, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini har...