Langsung ke konten utama

Kesaksian Nyata Kevin Aprilio: Utang Rp17 Miliar Lunas

Tangan menjangkau cahaya terang, simbol pengharapan

Kevin Aprilio berusia 25 tahun ketika hidupnya runtuh. Keyboardis Vierratale ini gagal besar di bisnis forex, dan semua yang ia miliki harus dijual adalah rumah, Ferrari 430, tabungan, sampai penghasilan musiknya. Yang tinggal hanyalah utang Rp17 miliar dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Kesaksian ini ia buka sendiri di Instagram pada 19 Juni 2019, empat tahun setelah kejadian itu. Pengakuannya waktu itu mengejutkan banyak orang, termasuk orang-orang yang selama ini hanya mengenalnya dari panggung.

"Empat tahun yang lalu saya pernah sangat-sangat bangkrut," tulisnya. Liputan6.com mengutip unggahan itu. Ia menyebut dirinya korban kegagalan di industri forex. Orang-orang terdekatnya ikut jatuh, sebagian lalu menjauh. Ia sempat menerima ancaman. Di usia semuda itu, dengan utang sebesar itu dan tanpa modal, bunuh diri sempat tampak sebagai satu-satunya jalan keluar.

Angka 17 Miliar di Usia 25

Sulit membayangkan tekanan seseorang yang harus mengembalikan 17 miliar tanpa pegangan apa pun. Dalam unggahannya, Kevin menulis kebingungan yang jujur tentang bagaimana mungkin ia, di usia 25 tahun, mengembalikan uang sebesar itu dalam waktu singkat. Ia sempat ingin menyerah. Yang menahannya adalah orang-orang yang memilih tetap tinggal. Kekasihnya, Vicy Melanie, berjanji menemani tiga tahun untuk menyelesaikan masalah ini, dan jika tidak selesai, Kevin bebas meninggalkannya. Sang ayah, Addie MS, menulis komentar yang sulit dilupakan adalah seumur hidupnya, ini drama paling menegangkan.

Satu hal yang penting dicatat adalah Kevin tidak bangkit dalam sekejap. Keluarganya mendukung, tetapi dukungan itu tidak menghapus utangnya. Ia tetap harus melewati tahun-tahun gelap itu sendiri, hari demi hari.

Dari Mana Dia Mulai?

Titik baliknya sederhana, seperti diulas Jawaban.com awal tahun ini adalah ia berhenti lari dari masalah. Ia mulai jujur tentang kondisi keuangannya kepada orang tua, pasangan, dan rekan bisnis. Ia bekerja apa saja. Dalam wawancaranya dengan media hiburan, ia mengaku sempat menjadi pemasar rumah dan pemasar asuransi, sambil mengumpulkan royalti dari lagu-lagunya adalah nada sambung, karaoke, platform digital, panggung manggung.

Gengsi ia buang. Gaya hidup ia ubah total. Aset mewah ia jual, kendaraan ia ganti dengan yang sederhana, dan hampir semua penghasilan ia arahkan untuk mencicil kewajiban. Ia menjaga komunikasi dengan kreditur, tidak menghindar, bernegosiasi dengan jujur, dan kepercayaan itu perlahan tumbuh lagi. Empat tahun kemudian, utang Rp17 miliar itu lunas.

Doa Menjadi Salah Satu Kekuatannya

Dalam wawancara dengan Haibunda, Kevin mengakui dukungan orang tua sangat berarti baginya. Lalu ia menambahkan satu hal lagi adalah berdoa kepada Tuhan menjadi salah satu kekuatan utama baginya selama masa itu. Kalimat itu penting, setidaknya buat saya. Sering kali kita membayangkan pemulihan finansial sebagai dongeng adalah berdoa, lalu semua beres. Kenyataannya tidak begitu. Kevin berdoa sambil bekerja serabutan, bernegosiasi dengan kreditur, menunda kenyamanan bertahun-tahun.

Pemazmur menulis, "TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya" (Mazmur 34:19). Orang yang patah hati karena utang, yang kehilangan orang-orangnya, yang gagal, ada di dalam kalimat itu. Tuhan tidak menjauh dari orang yang hancur. Paulus juga mengingatkan jemaat di Filipi supaya tidak kuatir tentang apa pun, melainkan menyampaikan keinginan mereka kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiran mereka (Filipi 4:6-7).

Saya tidak sedang berkata semua utang akan lunas kalau kita berdoa. Ada orang yang berdoa bertahun-tahun dan tetap bergumul. Roma 8:28 mengingatkan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, dan kebaikan itu tidak selalu berbentuk rekening yang pulih. Kadang yang Tuhan pulihkan lebih dulu adalah hati yang remuk, keberanian untuk jujur, dan ketenangan di tengah badai. Itu juga pemulihan.

Dari Kevin kita bisa belajar satu hal adalah ia tidak menyembunyikan kondisinya. Ia mengaku gagal di depan publik, menangis di depan orang tuanya, dan meminta tolong. Di dunia yang gemar memamerkan kesuksesan, pengakuan semacam itu langka. Justru di situlah doanya mulai mendapat jawaban adalah bukan lewat jalan pintas, melainkan lewat kekuatan untuk terus berjalan.

Kalau Anda sedang bergumul dengan utang, atau sedang berada di titik yang membuat Anda ingin menyerah, kisah ini untuk Anda. Mulailah dengan kejujuran kepada diri sendiri, orang terdekat, dan Tuhan. Renungan kami tentang penantian saat Tuhan diam bisa menemani masa-masa sunyi, dan kebiasaan bersyukur membantu Anda melihat hal-hal kecil yang tetap baik di tengah pergumulan.

Tidak ada yang tahu kapan pergumulan Anda berakhir. Yang pasti, Tuhan dekat kepada orang yang patah hati, dan Ia tidak meninggalkan orang yang terus berdoa sambil terus melangkah.

Referensi

1. Liputan6.com, "Kisah Hidup Kevin Aprilio, Pernah Punya Utang Rp 17 Miliar Hingga Nyaris Bunuh Diri", 20 Juni 2019: baca di Liputan6.
2. WowKeren, "Sempat Nangis ke Orang Tua, Kevin Aprilio Beber Cara Bayar Hutang Rp 17 Miliar selama 4 Tahun": baca di WowKeren.
3. Haibunda, "Cerita Kevin Aprilio Berhasil Lunasi Utang 17 M dalam Waktu 4 Tahun", 25 September 2021: baca di Haibunda.
4. Jawaban.com, "Hutang 17 Miliar di Usia Muda Lunas Gara-Gara Lakukan Hal Ini", 3 Februari 2026: baca di Jawaban.com.
5. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). Ayat yang dipakai adalah Mazmur 34:19; Filipi 4:6-7; Roma 8:28. Dicek di bible.com.
6. Gambar: tangan menjangkau cahaya, foto oleh Liana S via Unsplash.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...