Langsung ke konten utama

Kebangkitan Kristus: Dasar Iman Kristen yang Tidak Bisa Ditawar

Cahaya matahari menembus pepohonan di hutan

Pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, beberapa perempuan berangkat ke kubur sambil membawa rempah-rempah untuk merawat jenazah (Markus 16:1-2). Mereka tidak sedang menunggu mukjizat. Mereka menjalankan pekerjaan duka yang paling biasa, sampai batu kubur yang terguling dan seorang malaikat mengubah rencana mereka. "Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit" (Matius 28:6).

Kalimat itu adalah titik tumpu seluruh iman Kristen. Bukan sekadar peristiwa ajaib yang kita rayakan setiap Paskah. Seluruh keyakinan kita, dari pengampunan dosa sampai harapan hidup kekal, berputar di sekitar satu pertanyaan, yaitu apakah kubur itu kosong. Orang boleh berbeda pendapat tentang banyak hal dalam kekristenan, tetapi kalau kebangkitan gugur, hanya tinggal moralitas dan harapan yang rapuh.

Kalau Kristus Tidak Bangkit

Rasul Paulus tidak pernah menawar-nawar soal ini. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, dia menulis bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, dikuburkan, lalu dibangkitkan pada hari ketiga, sesuai dengan Kitab Suci (1 Korintus 15:3-4). Kemudian dia mengajukan logika yang tidak nyaman. "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu" (1 Korintus 15:14).

Paulus tidak berkata iman kita tinggal sedikit berkurang. Katanya tegas, sia-sia. Kalau Kristus tidak bangkit, orang percaya masih hidup dalam dosa (1 Korintus 15:17), dan mereka yang meninggal dalam Kristus binasa tanpa harapan. Kata-kata itu keras, dan Paulus tidak minta maaf untuk itu.

Saya suka keberanian Paulus di sini. Kebanyakan orang, termasuk saya, kalau menghadapi keraguan, cenderung melunakkan pembahasan. "Yang penting percaya saja, soal fakta sejarah jangan diganggu." Paulus justru mengambil jalan sebaliknya. Iman Kristen berdiri atau roboh pada satu fakta sejarah, kubur itu kosong.

Apa Taruhannya di Kubur Kosong

Kebangkitan bukan bukti belaka bahwa Yesus orang hebat. Dalam kerangka Paulus, peristiwa ini adalah pernyataan Allah atas karya salib. Roma 4:25 merangkumnya begini. Yesus diserahkan untuk menanggung pelanggaran kita dan dibangkitkan demi pembenaran kita. Salib menanggung dosa, dan peristiwa Minggu pagi menyatakan bahwa Bapa menerima pengorbanan itu. Karya salib tanpa kebangkitan hanyalah tragedi yang menyedihkan.

Kalau Anda baru mulai belajar iman Kristen, kami pernah membahas dasar-dasar keselamatan secara lebih utuh di artikel lain. Kebangkitan dan keselamatan memang dua sisi dari satu kabar.

Lalu ada lapisan kedua yang sering terlewat. Paulus menyebut Kristus "yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal" (1 Korintus 15:20). Sulung dalam budaya Perjanjian Lama bukan sekadar gelar. Buah sulung adalah jaminan bahwa seluruh panen akan menyusul. Kebangkitan Yesus menjamin hal yang sama untuk kita semua.

Ada satu hal yang jarang orang pikirkan. Kubur kosong itu bisa diperiksa siapa saja pada waktu itu. Yerusalem dekat saja, dan para imam kepala bisa membuktikan cerita murid-murid salah kalau jenazahnya masih ada. Mereka tidak pernah melakukannya. Mereka justru menyebar kabar bahwa mayatnya dicuri murid-murid (Matius 28:11-15). Cerita pencurian itu sendiri mengakui satu fakta: kuburnya kosong.

Hidup yang Berubah oleh Kebangkitan

Doktrin ini tidak tinggal di atas kertas. Murid-murid Yesus adalah contoh yang paling jelas. Jumat malam mereka bersembunyi di balik pintu terkunci, ketakutan setengah mati. Petrus, si penyangkal tiga kali pada malam penangkapan Yesus (Matius 26:69-75), beberapa minggu kemudian berdiri di tengah Yerusalem dan berkhotbah tentang kebangkitan, sampai ribuan orang percaya (Kisah Para Rasul 2:41). Perubahan sebesar itu tidak terjadi hanya demi mempertahankan kebohongan yang sudah kedaluwarsa.

Paulus juga mengingatkan jemaat di Tesalonika supaya mereka tidak berdukacita seperti orang yang tidak punya pengharapan (1 Tesalonika 4:13-14). Pengharapan Kristen bukan optimisme kosong. Ia bertumpu pada peristiwa yang bisa diperiksa, Yesus mati dan Yesus bangkit.

Dalam hidup sehari-hari, peristiwa itu mengubah cara kita memandang kegagalan. Kalau Yesus menang atas maut, tidak ada kekalahan yang final. Pekerjaan yang gagal bisa diulang dari awal. Dosa lama bisa ditinggalkan, dan relasi yang hancur berpeluang dipulihkan pelan-pelan. Semua itu mungkin karena ada hidup di balik kematian.

Tomas sempat meragukan kabar itu, sampai dia melihat sendiri bekas paku di tangan-Nya. Lalu Yesus berkata kepadanya, "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya" (Yohanes 20:29). Saya termasuk kelompok itu. Saya tidak pernah melihat kubur kosong itu, juga tidak pernah berjumpa langsung dengan Dia yang bangkit. Modal saya cuma catatan para saksi dan kesaksian orang-orang yang hidupnya berubah. Semakin lama saya membacanya, semakin saya yakin cerita ini bukan karangan. Kalau palsu, tidak ada alasan bagi orang-orang itu untuk mati mempertahankannya.

Minggu pagi selalu datang setelah Jumat yang kelam. Bukan slogan, melainkan ringkasan peristiwa yang dicatat empat kali dalam Injil. Di atasnya iman kita berdiri, dan tidak ada yang bisa menggantinya.

Referensi

  • Alkitab (TB, LAI). Rujukan ayat: Markus 16:1-2; Matius 28:6, 11-15; Matius 26:69-75; 1 Korintus 15:3-4, 14, 17, 20; Roma 4:25; Yohanes 20:29; 1 Tesalonika 4:13-14; Kisah Para Rasul 2:41.
  • Gambar utama: Rays of Sunlight Passing Through the Trees oleh Nikolett Emmert, Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesaksian Nyata Kevin Aprilio: Utang Rp17 Miliar Lunas

Kevin Aprilio berusia 25 tahun ketika hidupnya runtuh. Keyboardis Vierratale ini gagal besar di bisnis forex, dan semua yang ia miliki harus dijual: rumah, Ferrari 430, tabungan, sampai penghasilan musiknya. Yang tinggal hanyalah utang Rp17 miliar dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Kesaksian ini ia buka sendiri di Instagram pada 19 Juni 2019, empat tahun setelah kejadian itu. Pengakuannya waktu itu mengejutkan banyak orang, termasuk orang-orang yang selama ini hanya mengenalnya dari panggung. "Empat tahun yang lalu saya pernah sangat-sangat bangkrut," tulisnya. Liputan6.com mengutip unggahan itu. Ia menyebut dirinya korban kegagalan di industri forex. Orang-orang terdekatnya ikut jatuh, sebagian lalu menjauh. Ia sempat menerima ancaman. Di usia semuda itu, dengan utang sebesar itu dan tanpa modal, bunuh diri sempat tampak sebagai satu-satunya jalan keluar. Angka 17 Miliar di Usia 25 Sulit membayangkan tekanan seseorang yang harus mengembalikan 17 miliar tanpa pegan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan: "Bukan! Aku berkata ke...

Cara Mendidik Anak di Zaman Digital Menurut Alkitab

Perubahan paling senyap dalam keluarga modern terjadi di meja makan. Dulu tempat itu penuh cerita, sekarang sering sunyi karena tiga atau empat kepala menunduk ke layar masing-masing. Tidak ada resep sempurna di artikel ini, dan saya tidak akan berpura-pura ada. Yang ada hanyalah pengamatan seorang penulis yang ikut bergumul dengan pertanyaan yang sama: bagaimana mendidik anak zaman layar tanpa kehilangan hati mereka? Persoalan gadget sudah menjadi ujian iman keluarga zaman ini. Banyak orang tua bertanya berapa jam anak boleh memegang ponsel, padahal pertanyaan lebih tajam berbunyi: siapa yang membentuk hati anak ketika layar menyala? Alkitab memang tidak menyebut kata teknologi, tetapi prinsipnya melampaui zaman. Kehidupan yang kita jalani di depan mereka itulah yang membentuk anak, bukan program yang kita rancang. Rumah Adalah Sekolah Pertama Perintah paling tua tentang pendidikan anak ada di Ulangan 6:6-7. Musa menulis, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini har...