Kata "percaya" sekarang begitu murah sampai kehilangan bobotnya. Kita memercayai prakiraan hujan di layar ponsel, mengikuti rekomendasi orang asing di aplikasi belanja, lalu berkata "aku percaya kepada Allah" dengan nada sama datarnya. Padahal keduanya tidak sama. Alkitab tidak sedang membahas ramalan cuaca ketika bicara soal iman; taruhannya jauh lebih besar, menyangkut hidup kita.
Definisinya sendiri justru singkat. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1). Dua pilihan kata penulisnya sama-sama kuat. Dasar, dalam bahasa Yunani hypostasis, berarti pijakan kokoh di bawah bangunan. Bukti, elegchos, mirip istilah pembuktian di ruang sidang. Suasana hati boleh naik turun mengikuti kabar harian; iman bukan itu. Seluruh harapan orang percaya boleh bertumpu penuh di atasnya.
Banyak orang tua bekerja bertahun-tahun di kota lain demi biaya sekolah anaknya. Hari ini mereka hanya merasakan lelah dan hidup hemat. Menopangnya justru keyakinan pada hal yang belum kelihatan. Mereka tidak sedang berkhayal; mereka berdiri di atas dasar, persis bahasa Ibrani 11:1.
Setuju saja belum cukup
Yakobus memberi peringatan tidak nyaman. Engkau percaya bahwa Allah itu satu? Itu baik, jawabnya, tetapi "setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar" (Yakobus 2:19). Kalau iblis pun sanggup mengisi formulir akidah dengan benar, iman sejati pasti lebih dari persetujuan otak. Ia mengubah cara orang membelanjakan uangnya, merespons penghinaan, dan memperlakukan orang rumah pada hari-hari buruk. Banyak dari kita kena di titik ini, hafal dan setuju sementara hidupnya tak bergeser.
Taruhannya juga tinggi. Ibrani melanjutkan, "tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah", sebab siapa yang berpaling kepada Dia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Ia memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Ibrani 11:6). Kita tidak berkenan kepada Allah lewat prestasi; titik tolaknya justru kepercayaan, dan dari situ seluruh hidup rohani bergerak.
Dari mana iman datang
Banyak orang mencoba memaksa dirinya supaya beriman lebih keras, lalu frustrasi karena hasilnya nol. Paulus menunjuk arah lain. "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus" (Roma 10:17). Sumbernya kabar tentang Kristus, bukan perasaan yang dipompa. Orang yang jarang menyentuh Alkitab biasanya cepat goyah saat cobaan datang; persediaan di dalam hatinya memang kosong. Sebaliknya, orang yang tiap hari membaca dan mendengarkan firman sedang membangun fondasi diam-diam, walau prosesnya tak terasa dramatis.
Praktiknya sederhana dan tidak glamor. Satu bagian pembacaan tiap hari, doa singkat sebelum tidur, percakapan firman bersama teman sepersekutuan seminggu sekali. Prosesnya lambat, mirip jalannya olahraga. Namun enam bulan kemudian, dua orang dengan persediaan berbeda akan bereaksi berbeda pula ketika kabar buruk datang.
Berangkat tanpa peta
Ibrani 11 lalu berisi daftar manusia-manusia biasa. Abraham meninggalkan rumahnya menuju negeri janji Tuhan, "lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui" (Ibrani 11:8). Peta maupun jaminan rinci tidak dia pegang; pegangannya cuma janji dan Sang Pemanggil. Iman sejati selalu berujung pada langkah kaki. Ia taat masuk wilayah belum tentu nyaman, entah dalam bentuk kejujuran yang mahal, entah pilihan memberi saat tabungan sendiri menipis.
Ada kekeliruan umum soal hubungan iman dengan keselamatan. Keselamatan bukan hadiah bagi para juara iman; siapa pun menerimanya lewat bersandar kepada Kristus. Uraian lengkapnya ada di tulisan tentang apa itu keselamatan menurut Alkitab. Singkatnya, iman berperan sebagai tangan yang menerima, bukan otot yang pamer.
Iman pun bekerja saat doa masih menunggu. Orang yang menaruh harapannya kepada TUHAN mendapat janji kekuatan baru, terbang layaknya rajawali (Yesaya 40:31). Janji ini saya kupas lebih jauh di renungan tentang kekuatan bagi orang yang lelah. Doa yang menggantung lama bukan berarti Allah lupa. Ruang penantian justru sering menjadi tempat akar iman menusuk makin dalam.
Lalu apa bedanya iman Kristen dengan kepercayaan santai pada ramalan cuaca? Ramalan boleh meleset dan hidup kita tetap utuh. Iman tidak. Segalanya bergantung pada Siapa yang menjamin, dan jaminan-Nya sudah teruji ribuan tahun tanpa pernah gagal. Karena itu orang percaya boleh berdiri tenang di zaman sesulit apa pun. Pijakan itu tak tampak di mata, namun nyata menopang.
Pertanyaannya kini berbalik kepada kita, dan tidak menyangkut seberapa besar perasaan pagi ini. Sudahkah kita mendengarkan Dia? Beranikah kita melangkah?
Ayat kunci
"Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1)
Referensi
- Alkitab Terjemahan Baru (LAI): Ibrani 11:1, 11:6, 11:8; Yakobus 2:19; Roma 10:17; Yesaya 40:31. Verifikasi teks TB melalui Alkitab Mobi (TB), YouVersion Bible App (TB), dan Alkitab SABDA.
- Foto utama: Sunrise Sky Photo via Pexels, lisensi Pexels (bebas atribusi).
Komentar
Posting Komentar