Jam sembilan malam, lampu kantor masih menyala, dan kereta terakhir membawa orang-orang yang wajahnya sudah selesai menghitung sisa tenaga. Sampai di rumah, hari belum usai juga. Ada cucian, ada PR anak yang belum selesai, ada grup kerja yang menyapa pukul sepuluh malam tanpa rasa bersalah. Lelah lama berhenti menjadi keluhan. Ia jadi udara yang kita hirup bersama.
Orang percaya tidak kebal dari kondisi ini. Kadang justru tambah berat, sebab di luar pekerjaan ada pelayanan, ada ibadah malam, ada permintaan tolong dari saudara seiman. Tubuh hadir di bangku gereja, sementara batin kosong sampai dasar. Kalau Anda pernah membaca doa malam hanya sebagai rutinitas karena tenaga tinggal secuil, tulisan ini memang untuk situasi itu.
Janji ini turun bagi orang yang sudah di ujung
Yesaya 40 berbicara kepada umat yang lelah secara kolektif. Pembuka pasalnya berupa perintah untuk menghibur umat Allah, lalu di tengah pasal itu bangsa tersebut mengeluh seolah TUHAN mengabaikan hak mereka dan menyembunyikan jalan mereka dari mata-Nya (ay. 27). Pengeluhannya masuk akal. Mereka berada jauh dari tanah sendiri, dan para nabi menyebut jalan pulang yang tampak mustahil bagi mata biasa.
Jawaban Allah atas keluhan itu tidak berupa ceramah panjang. Ia menunjuk siapa diri-Nya adalah TUHAN itu Allah kekal, Pencipta ujung bumi, yang tidak lelah dan tidak jemu (ay. 28). Baru setelah identitas itu tegak, janji turun. Dan perhatikan siapa penerimanya. Bukan orang-orang paling kuat, bukan mereka dengan cadangan energi paling tebal. "Tetapi orang-orang yang menantikan TUHAN mendapat kekuatan baru adalah mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31)
Menantikan dalam ayat ini bukan duduk diam menunggu nasib. Nuansanya mengarahkan seluruh harapan kepada-Nya, cara menunggu orang yang yakin pertolongan pasti datang. Perbedaannya dengan gaya hidup kita ada di sumber tenaga. Kita cenderung menggali lebih dalam ke diri sendiri adalah tidur lebih larut, mengejar lebih giat, memaksa jadwal lebih padat. Ayat ini menawarkan arah sebaliknya. Kekuatan baru itu pemberian, bukan produk. Kata "mendapat" mengandaikan pemberi, dan pemberinya bukan kita.
Gambar rajawali juga pantas kita tengok lebih dekat. Rajawali bukan burung yang pantang lelah. Ia sanggup menempuh jarak jauh justru karena tahu kapan harus mengepak dan kapan membiarkan arus angin memikul tubuhnya. Kekuatan sayap tetap ia gunakan, hanya saja sumber daya utamanya bukan otot semata, melainkan posisinya terhadap angin. Begitulah orang yang menantikan TUHAN. Ia tetap bergerak, tetapi tenaganya tidak lagi ia gali dari dalam diri sendiri.
Lalu bagaimana bentuk nyatanya di pagi Senin? Saya curigai jawabannya lebih sederhana daripada bayangan kita, sekaligus lebih sulit kita jalani. Bisa berupa lima menit diam sebelum tangan meraih ponsel. Bisa berupa satu ayat yang kita baca pelan sampai benar-benar masuk, bukan sekadar kita coret dari daftar bacaan. Atau keberanian mengatakan tidak pada satu agenda supaya kita tidak melayani dari sisa-sisa kekuatan. Dalam logika Injil, berhenti sejenak bukan kemewahan rohani. Ia bagian dari ketaatan.
Datang, bukan menguatkan diri sendiri
Yesus menawarkan hal senada dalam skala yang lebih personal. Kepada orang-orang letih lesu Ia berkata, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28). Kata yang membuat saya berhenti adalah "marilah". Tidak ada syarat membersihkan diri lebih dulu, tidak ada tuntutan mengumpulkan tenaga dari tempat lain. Langkah pertama bagi orang yang hampir habis ialah datang.
Tawaran berikutnya pun bukan liburan tanpa akhir. Ia menawarkan kuk-Nya dan meminta kita belajar dari-Nya, sebab Ia lembut hati dan rendah hati (ay. 29-30). Kuk tetap sebuah alat kerja. Kristus tidak mencabut panggilan dan tanggung jawab kita; Ia menukar cara kita memikulnya. Dulu kita memikul beban dengan gaya sendiri, penuh kecemasan dan gengsi. Kini Dia ikut memikulnya, dan iramanya jadi lain.
Ayat-ayat itu berakhir pada janji yang bunyinya aneh bagi telinga zaman ini adalah beban-Nya ringan. Ringan bukan sebab pekerjaannya sedikit, melainkan karena kita tidak lagi sendirian di bawahnya. Kalau musim Anda saat ini justru musim Allah tampak diam, renungan tentang penantian saat Tuhan diam menulis sisi pengalaman itu lebih dalam. Soal melepaskan kendali, tulisan tentang berserah kepada Tuhan jadi pelengkapnya.
Sore nanti daftar tugas pasti kembali memanjang. Biarkan. Sebelum semua itu dijalani, ada satu undangan yang tidak menuntut kekuatan, justru ditujukan bagi yang kehabisan adalah datang. Orang yang pulang ke sana sore ini akan membawa pulang beban yang sama, tetapi tidak lagi dengan pundak yang sama.
Referensi
- Alkitab Terjemahan Baru, Yesaya 40:27-31; Matius 11:28-30. Lembaga Alkitab Indonesia. Teks TB juga bisa dicek melalui Wordproject (TB, Yesaya 40) dan Wordproject (TB, Matius 11).
- Foto: Bald Eagle Flying Under Blue Sky, Pexels.
Komentar
Posting Komentar