Langsung ke konten utama

Kekuatan Baru untuk Orang yang Lelah: Renungan Yesaya 40:31

Rajawali mengembangkan sayapnya di langit biru

Jam sembilan malam, lampu kantor masih menyala, dan kereta terakhir membawa orang-orang yang wajahnya sudah selesai menghitung sisa tenaga. Sampai di rumah, hari belum usai juga. Ada cucian, ada PR anak yang belum selesai, ada grup kerja yang menyapa pukul sepuluh malam tanpa rasa bersalah. Lelah lama berhenti menjadi keluhan. Ia jadi udara yang kita hirup bersama.

Orang percaya tidak kebal dari kondisi ini. Kadang justru tambah berat, sebab di luar pekerjaan ada pelayanan, ada ibadah malam, ada permintaan tolong dari saudara seiman. Tubuh hadir di bangku gereja, sementara batin kosong sampai dasar. Kalau Anda pernah membaca doa malam hanya sebagai rutinitas karena tenaga tinggal secuil, tulisan ini memang untuk situasi itu.

Janji ini turun bagi orang yang sudah di ujung

Yesaya 40 berbicara kepada umat yang lelah secara kolektif. Pembuka pasalnya berupa perintah untuk menghibur umat Allah, lalu di tengah pasal itu bangsa tersebut mengeluh seolah TUHAN mengabaikan hak mereka dan menyembunyikan jalan mereka dari mata-Nya (ay. 27). Pengeluhannya masuk akal. Mereka berada jauh dari tanah sendiri, dan para nabi menyebut jalan pulang yang tampak mustahil bagi mata biasa.

Jawaban Allah atas keluhan itu tidak berupa ceramah panjang. Ia menunjuk siapa diri-Nya adalah TUHAN itu Allah kekal, Pencipta ujung bumi, yang tidak lelah dan tidak jemu (ay. 28). Baru setelah identitas itu tegak, janji turun. Dan perhatikan siapa penerimanya. Bukan orang-orang paling kuat, bukan mereka dengan cadangan energi paling tebal. "Tetapi orang-orang yang menantikan TUHAN mendapat kekuatan baru adalah mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31)

Menantikan dalam ayat ini bukan duduk diam menunggu nasib. Nuansanya mengarahkan seluruh harapan kepada-Nya, cara menunggu orang yang yakin pertolongan pasti datang. Perbedaannya dengan gaya hidup kita ada di sumber tenaga. Kita cenderung menggali lebih dalam ke diri sendiri adalah tidur lebih larut, mengejar lebih giat, memaksa jadwal lebih padat. Ayat ini menawarkan arah sebaliknya. Kekuatan baru itu pemberian, bukan produk. Kata "mendapat" mengandaikan pemberi, dan pemberinya bukan kita.

Gambar rajawali juga pantas kita tengok lebih dekat. Rajawali bukan burung yang pantang lelah. Ia sanggup menempuh jarak jauh justru karena tahu kapan harus mengepak dan kapan membiarkan arus angin memikul tubuhnya. Kekuatan sayap tetap ia gunakan, hanya saja sumber daya utamanya bukan otot semata, melainkan posisinya terhadap angin. Begitulah orang yang menantikan TUHAN. Ia tetap bergerak, tetapi tenaganya tidak lagi ia gali dari dalam diri sendiri.

Lalu bagaimana bentuk nyatanya di pagi Senin? Saya curigai jawabannya lebih sederhana daripada bayangan kita, sekaligus lebih sulit kita jalani. Bisa berupa lima menit diam sebelum tangan meraih ponsel. Bisa berupa satu ayat yang kita baca pelan sampai benar-benar masuk, bukan sekadar kita coret dari daftar bacaan. Atau keberanian mengatakan tidak pada satu agenda supaya kita tidak melayani dari sisa-sisa kekuatan. Dalam logika Injil, berhenti sejenak bukan kemewahan rohani. Ia bagian dari ketaatan.

Datang, bukan menguatkan diri sendiri

Yesus menawarkan hal senada dalam skala yang lebih personal. Kepada orang-orang letih lesu Ia berkata, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28). Kata yang membuat saya berhenti adalah "marilah". Tidak ada syarat membersihkan diri lebih dulu, tidak ada tuntutan mengumpulkan tenaga dari tempat lain. Langkah pertama bagi orang yang hampir habis ialah datang.

Tawaran berikutnya pun bukan liburan tanpa akhir. Ia menawarkan kuk-Nya dan meminta kita belajar dari-Nya, sebab Ia lembut hati dan rendah hati (ay. 29-30). Kuk tetap sebuah alat kerja. Kristus tidak mencabut panggilan dan tanggung jawab kita; Ia menukar cara kita memikulnya. Dulu kita memikul beban dengan gaya sendiri, penuh kecemasan dan gengsi. Kini Dia ikut memikulnya, dan iramanya jadi lain.

Ayat-ayat itu berakhir pada janji yang bunyinya aneh bagi telinga zaman ini adalah beban-Nya ringan. Ringan bukan sebab pekerjaannya sedikit, melainkan karena kita tidak lagi sendirian di bawahnya. Kalau musim Anda saat ini justru musim Allah tampak diam, renungan tentang penantian saat Tuhan diam menulis sisi pengalaman itu lebih dalam. Soal melepaskan kendali, tulisan tentang berserah kepada Tuhan jadi pelengkapnya.

Sore nanti daftar tugas pasti kembali memanjang. Biarkan. Sebelum semua itu dijalani, ada satu undangan yang tidak menuntut kekuatan, justru ditujukan bagi yang kehabisan adalah datang. Orang yang pulang ke sana sore ini akan membawa pulang beban yang sama, tetapi tidak lagi dengan pundak yang sama.

Referensi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...