Sebuah rumah berdiri baru; kuncinya masih di tangan pemiliknya, keluarganya belum pindah ke dalamnya. Hukum perang Israel kuno memuat ketentuan yang mungkin janggal hari ini. Sebelum pasukan maju, para petugas wajib memanggil satu golongan untuk pulang, yakni orang yang telah mendirikan rumah baru tetapi belum menempatinya (Ulangan 20:5). Negara itu rela kekurangan satu prajurit daripada satu rumah luput dari peresmian. Kata Ibrani di ayat itu ialah chanak.
Chanak muncul lagi di ayat yang jauh lebih akrab di telinga kita. "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" (Amsal 22:6). Kata kerja itu hanya muncul lima kali di seluruh Alkitab, empat di antaranya menyangkut peresmian rumah atau altar, satu menyangkut anak. Nasihat Salomo jadi punya bobot baru. Mendidik anak setara meresmikan sebuah bangunan bagi Tuhan; kita menyerahkan hidupnya kepada Sang Pemilik sejak dini, bukan sekadar menghasilkan anak yang patuh dan berprestasi.
Menurut jalannya, bukan menurut jalan kita
Frasa "menurut jalan yang patut baginya" dalam teks aslinya berbunyi al-pi darko, kurang lebih "sesuai caranya sendiri". Kata "baginya" itu penting. Jalan itu melekat pada si anak, bukan pada cita-cita bapaknya ataupun resep yang sukses pada kakaknya. Bayangkan dua bersaudara dalam satu rumah. Kakak betah duduk lama membaca, adiknya belajar sambil bergerak dan bertanya tanpa henti. Metode ibadah yang sama bisa menyuburkan yang satu sambil mencekik yang lain. Tugas orang tua jadi mirip tukang kayu membaca arah serat kayu sebelum memukul pahatnya.
Menurut saya, banyak rumah Kristen justru kebalik. Jadwal anak penuh, les berjajar, hafalan ayat dijadikan lomba, sementara isi hatinya jarang kita tanyakan. Kerja kerasnya nyata, arahnya sering lahir dari kecemasan orang tua, bukan dari pengenalan akan anak itu sendiri. Fondasi rumah tangga yang sehat menjadi prasyarat sebelum bicara metode; saya kupas lebih rinci di tulisan tentang membangun keluarga Kristen yang kuat.
Tuhan membangun, orang tua menanam
Nyanyian ziarah Salomo memberi rangka bagi ayat tadi. "Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya" (Mazmur 127:1). Ayat sesudahnya menertawakan kerja lembur penuh cemas, sebab Tuhan justru memberi tidur kepada orang yang dikasihi-Nya (Mazmur 127:2). Pasal yang sama menyebut anak-anak sebagai anak panah di tangan pahlawan (Mazmur 127:4). Panah memang dilempar, penerbangannya keluar dari genggaman, sasarannya kembali ke tangan TUHAN.
Gabungan kedua ayat itu menenangkan. Orang tua wajib mendidik dengan tekun, namun beban hasil akhir tidak tergantung di leher mereka. Allah memanggil kesetiaan kita; kendali mutlak atas masa depan anak bukan bagian dari tugas. Bagi saya, penghiburan semacam ini menyelamatkan banyak orang tua dari perfeksionisme yang menggerogoti.
Bentuk harian pendidikan yang mentahbiskan
Efesus 6:4 memperlihatkan sisi lain pekerjaan ini. "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." Paulus tahu pendidikan bisa berubah jadi luka kalau amarah ikut campur. Anak yang dibesarkan dengan teriakan bisa hafal kisah-kisah heroik Alkitab sambil menyimpan ketakutan pada ayahnya. Peringatan rasul itu belum kedaluwarsa sedikit pun.
Wujudnya sehari-hari biasanya biasa saja. Obrolan lima menit menjelang tidur tentang apa yang membuatnya sedih hari itu. Ayah yang sanggup mengakui kesalahan sendiri di depan anak. Altar keluarga sederhana yang dirawat konsisten, saya urai langkahnya di panduan doa keluarga. Cara bicara saat si anak gagal ujian ataupun ketahuan berbuat salah, apakah kita menghakimi atau menampung. Layar di kamar menambah persoalan tersendiri, dan saya sudah membahasnya di artikel mendidik anak di zaman digital. Detail-detail kecil itulah yang mengarahkan serat kayu ke arah yang tepat.
Amsal bukan mesin jaminan
Satu hal perlu kita jernihkan sebab ayat ini sering dipakai sebagai jimat. Amsal termasuk kitab hikmat, pola bicaranya menyajikan prinsip umum tentang cara dunia lazimnya berjalan, bukan janji otomatis yang mengikat Tuhan. Ada orang tua setia yang anaknya justru berlari ke arah lain di usia dua puluhan. Harapan dari kalimat "pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang" tetap layak kita peluk, ia hanya bukan kontrak untuk ditagihkan kepada Allah saat kenyataan berbeda. Allah menuntut kesetiaan kita menanam. Pertumbuhan serta musim panen adalah wilayah Sang Tukang Kebun.
Kembali ke gambar pembuka tadi. Sebuah rumah menunggu diresmikan; anak-anak kita adalah rumah itu. Pertanyaannya sederhana, dan saya mengajukannya juga kepada diri sendiri. Selama ini kita membangun sesuai sketsa Sang Pemilik, ataukah membangun menurut sketsa sendiri lalu memohon-Nya menandatangani?
Ayat kunci
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6, TB)
Referensi
- Alkitab Terjemahan Baru (LAI): Amsal 22:6; Mazmur 127:1-2, 127:4; Ulangan 20:5; Efesus 6:4. Verifikasi teks TB melalui YouVersion Bible App (TB), Alkitab Mobi (TB), dan Alkitab SABDA.
- Makna kata Ibrani chanak (Strong's H2596, "to train, dedicate, inaugurate"): Bible Hub, Strong's Hebrew 2596; pembahasan pemakaian lima kali dalam Alkitab termasuk peresmian rumah di Ulangan 20:5 pada artikel 1517.org.
- Penjelasan Amsal 22:6 bagi orang tua: GotQuestions Indonesia.
- Foto utama: Family Reading Story Book by Andrea Piacquadio via Pexels, lisensi Pexels.
Komentar
Posting Komentar