Langsung ke konten utama

Membangun Doa Keluarga: Menghidupkan Altar Keluarga di Rumah

Keluarga berpegangan tangan berdoa bersama di meja makan

Meja makan yang ditutup doa dulu hampir menjadi ciri rumah tangga Kristen di Indonesia. Ayah memimpin, anak-anak saling memegang tangan, doanya pendek: syukur untuk makanan, mohon berkat, amin. Kebiasaan itu sekarang pelan-pelan menguap. Makan bergantian karena jadwal berbeda-beda, doa pun kadang hanya berjalan sendiri-sendiri dalam hati. Saya menduga banyak keluarga mengalami hal serupa, dan tidak ada yang perlu malu karenanya.

Doa bersama keluarga bukan tradisi kosong. Yosua menempatkannya sebagai keputusan hidup: "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN" (Yosua 24:15). Kalimat itu ia ucapkan di depan seluruh bangsa Israel, bukan di kamar pribadi. Ibadah Yosua mencakup rumahnya. Pertanyaannya kemudian: bagaimana menghidupkan doa keluarga di rumah sibuk seperti sekarang?

Kenapa Doa Keluarga Sering Mati Sendiri

Penyebabnya jarang dramatis. Ayah pulang larut, ibu sibuk mengurus keperluan anak. Anak-anak tenggelam di layar masing-masing, dan waktu makan tidak lagi satu meja. Doa keluarga kalah bukan oleh perlawanan, melainkan oleh kesibukan biasa-biasa saja.

Banyak orang tua merasa cukup dengan doa pribadi dan ibadah Minggu. Saya dulu berpikir begitu. Tetapi ada yang tidak tumbuh kalau anak-anak hanya melihat orang tua berdoa sendiri. Anak belajar dari teladan, dan teladan terdekat adalah kehidupan sehari-hari orang tua. Doa keluarga memperlihatkan iman yang hidup, bukan pajangan di mimbar.

Musa sudah menggariskan hal ini jauh sebelumnya. "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu" (Ulangan 6:6-7). Iman tidak berhenti di pintu gereja. Ia tumbuh dalam percakapan sehari-hari, dan doa keluarga adalah salah satu wujud percakapan itu.

Mulai dari Lima Menit, Bukan Satu Jam

Kesalahan terbesar orang tua biasanya menetapkan standar terlalu tinggi. Begitu membayangkan ibadah keluarga, yang membayang sesi satu jam dengan nyanyian dan khotbah. Padahal Alkitab tidak pernah memerintahkan durasi tertentu. Yang ditekankan adalah kesetiaan dan kesederhanaan. Lima menit membaca satu ayat pendek lalu doa bergiliran sudah cukup untuk memulai. Nanti, kalau kebiasaan itu sudah hidup, waktunya bisa bertambah dengan sendirinya.

Matius 18:19-20 memberi janji yang menenangkan: "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." Kristus hadir ketika keluarga berkumpul berdoa, sekalipun hanya dua atau tiga orang. Beratnya bukan pada panjangnya doa, melainkan pada kehadiran-Nya.

Kuncinya konsistensi, bukan kesempurnaan. Jadwalkan waktu yang paling memungkinkan semua orang hadir. Keluarga dengan anak kecil biasanya cocok berdoa sebelum tidur. Untuk keluarga beranjak remaja, meja makan sering lebih realistis. Biarkan anak-anak bergiliran memimpin, dan tempel jadwal gilirannya di pintu kulkas supaya tidak ada yang lupa. Anak kecil yang memimpin doa sering lucu dan berantakan, dan justru momen itu yang membekas sampai mereka dewasa.

Saat Suasana Terasa Kaku

Jujur saja: ada masa doa keluarga terasa hambar. Remaja ikut dengan wajah datar, jawaban amin setengah hati. Jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Yang perlu dijaga adalah pintu percakapan. Kalau doa bersama berubah menjadi ajang omelan, anak-anak akan menutup diri. Paulus menyinggung hal ini dalam 1 Timotius 2:8. Ia ingin orang berdoa "dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan". Memaksakan doa dengan amarah justru menghilangkan maknanya. Selesaikan pertengkaran dulu, baru berdoa.

Jangan salah sangka. Doa keluarga bukan jaminan rumah bebas masalah. Keluarga yang rajin berdoa tetap bisa menghadapi sakit, utang, dan salah paham. Bedanya, keluarga itu tahu ke mana harus berlari ketika badai datang.

Butuh waktu berminggu-minggu sebelum suasana terasa wajar. Kalau satu malam terlewat, tidak usah mengadakan rapat keluarga untuk membahasnya. Mulai lagi besok, dan jadikan kebiasaan itu bagian dari ritme rumah, bukan agenda yang menuntut penampilan.

Mazmur 127:1 mengingatkan: "Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya." Kita bisa membangun rumah dengan renovasi, tabungan, dan pendidikan bermutu. Tetapi fondasi yang tidak kelihatan bertumpu pada hal-hal kecil: doa sebelum tidur, ayat pendek sambil makan, sampai pengakuan salah di depan anak. Artikel kami tentang membangun keluarga Kristen yang kuat membahas sisi lain dari fondasi ini.

Menutup hari dengan doa bersama juga mengajarkan sesuatu yang tidak bisa diajarkan lewat ceramah, yaitu melepaskan kendali. Ada kekhawatiran yang melebihi kuasa orang tua, dan anak-anak perlu melihat orang tua menyerahkannya kepada Tuhan. Renungan kami tentang berserah kepada Tuhan menulis pergumulan ini lebih dalam.

Mulai malam ini saja. Pilih satu ayat pendek, kumpulkan siapa saja yang ada di rumah, dan biarkan setiap orang menyebut satu permohonan. Tidak usah menunggu semua lengkap atau suasana sempurna. Konsistensi lima menit lebih berharga daripada semangat satu jam yang hanya bertahan seminggu. Dua orang sudah cukup bagi Kristus untuk hadir, dan rumah yang Ia bangun tidak akan sia-sia.

Referensi

1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). Ayat yang dipakai: Yosua 24:15; Ulangan 6:6-7; Matius 18:19-20; 1 Timotius 2:8; Mazmur 127:1. Verifikasi di Alkitab SABDA.
2. Jawaban.com, "Bangun Mezbah Doa Bareng Keluarga Rupanya Berfaedah untuk Hal Ini", 25 September 2019: baca di Jawaban.com.
3. Gambar: keluarga berpegangan tangan berdoa di meja makan, foto dari Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kesaksian Nyata Kevin Aprilio: Utang Rp17 Miliar Lunas

Kevin Aprilio berusia 25 tahun ketika hidupnya runtuh. Keyboardis Vierratale ini gagal besar di bisnis forex, dan semua yang ia miliki harus dijual: rumah, Ferrari 430, tabungan, sampai penghasilan musiknya. Yang tinggal hanyalah utang Rp17 miliar dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Kesaksian ini ia buka sendiri di Instagram pada 19 Juni 2019, empat tahun setelah kejadian itu. Pengakuannya waktu itu mengejutkan banyak orang, termasuk orang-orang yang selama ini hanya mengenalnya dari panggung. "Empat tahun yang lalu saya pernah sangat-sangat bangkrut," tulisnya. Liputan6.com mengutip unggahan itu. Ia menyebut dirinya korban kegagalan di industri forex. Orang-orang terdekatnya ikut jatuh, sebagian lalu menjauh. Ia sempat menerima ancaman. Di usia semuda itu, dengan utang sebesar itu dan tanpa modal, bunuh diri sempat tampak sebagai satu-satunya jalan keluar. Angka 17 Miliar di Usia 25 Sulit membayangkan tekanan seseorang yang harus mengembalikan 17 miliar tanpa pegan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan: "Bukan! Aku berkata ke...

Cara Mendidik Anak di Zaman Digital Menurut Alkitab

Perubahan paling senyap dalam keluarga modern terjadi di meja makan. Dulu tempat itu penuh cerita, sekarang sering sunyi karena tiga atau empat kepala menunduk ke layar masing-masing. Tidak ada resep sempurna di artikel ini, dan saya tidak akan berpura-pura ada. Yang ada hanyalah pengamatan seorang penulis yang ikut bergumul dengan pertanyaan yang sama: bagaimana mendidik anak zaman layar tanpa kehilangan hati mereka? Persoalan gadget sudah menjadi ujian iman keluarga zaman ini. Banyak orang tua bertanya berapa jam anak boleh memegang ponsel, padahal pertanyaan lebih tajam berbunyi: siapa yang membentuk hati anak ketika layar menyala? Alkitab memang tidak menyebut kata teknologi, tetapi prinsipnya melampaui zaman. Kehidupan yang kita jalani di depan mereka itulah yang membentuk anak, bukan program yang kita rancang. Rumah Adalah Sekolah Pertama Perintah paling tua tentang pendidikan anak ada di Ulangan 6:6-7. Musa menulis, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini har...