Pintu masuk godaan jarang tampak menyeramkan. Ia hadir sebagai kembalian belanja yang kelebihan lima ribu rupiah, pesan pribadi rekan kerja yang pelan-pelan melampaui batas, atau layar ponsel yang menyala sendiri di jam satu pagi. Kecil, masuk akal, gampang kita benarkan. Beberapa langkah kemudian barulah kita sadar sudah berjalan jauh di jalan yang seharusnya tidak kita lewati.
Paulus punya kalimat keras untuk orang yang merasa kebal. Kepada jemaat Korintus ia menulis: "Siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Peringatan ini ditujukan kepada orang percaya, bukan kepada orang luar. Artinya, pergumulan dengan godaan bukan tanda iman yang gagal; setiap murid harus melewatinya, dan Alkitab tidak pernah menyembunyikan hal itu.
Medan pertempuran ada di dalam
Yakobus membongkar cara kerjanya dengan jujur: "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut" (Yakobus 1:14-15). Bahasanya nyaris menyerupai bahasa kehamilan. Ada pembuahan, ada kelahiran, ada kematangan yang berujung pada maut. Dosa jarang jatuh seketika; ia tumbuh diam-diam dari sesuatu yang tadinya tampak kecil dan bisa kita benarkan.
Saya pribadi paling sukar menolak ajakan yang cocok dengan selera sendiri. Bentuk godaan berbeda pada tiap orang, yaitu konten yang merusak mata, amarah yang tinggal menunggu satu provokasi di kolom komentar, dan kebohongan kecil di kantor yang membuat pekerjaan lancar. 1 Yohanes 2:16 meringkas akarnya, yaitu keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Kalau sumber tarikannya ada di dalam hati, maka garis pertahanan pertama juga harus kita bangun di situ. Pertanyaannya bergeser dari sekadar "apakah aku melakukan", menjadi "pintu mana yang aku biarkan terbuka".
Allah tidak memasang perangkap
Banyak orang diam-diam menuduh Tuhan ketika jatuh. Padahal Yakobus sudah meluruskan sebelumnya: "Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: 'Pencobaan ini datang dari Allah!' Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun" (Yakobus 1:13). Yang datang dari Allah bukanlah jerat; Ia memberi janji ini:
"Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13)
Dua kepastian berdiri di ayat itu. Pertama, batasnya jelas; apa pun tekanannya, ia belum pernah melampaui batas yang mustahil kita tanggung. Kedua, ada jalan keluar yang Allah sediakan pada waktunya. Kita perlu mencari jalan itu lalu berani memasukinya; janji-Nya bekerja bukan sebagai tombol darurat yang otomatis menghapus situasi. Bentuknya sering kali sangat tidak dramatis. Menutup aplikasi sebelum scroll satu detik lagi. Meminta rekan sepersekutuan menanyakan perkembangan mingguan. Memilih tidur lebih awal supaya pikiran tidak berkeliaran di jam-jam sunyi. Langkah-langkah membosankan semacam ini kerap menjadi ketaatan paling nyata.
Titus 2:11-12 menambahkan sudut yang sering luput dari perhatian kita. Kasih karunia Allah "mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi". Anugerah justru tenaga untuk menjauhi dosa, bukan alasan untuk mendekati batas. Orang yang yakin Tuhan mengasihinya tidak akan menguji sampai di mana batas boleh kita geser.
Dia pernah berdiri di posisi kita
Ibrani 4:15 bicara soal Imam Besar kita; Ia "sama dengan kita, telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa". Injil mencatat bagaimana hal itu terjadi secara konkret. Di padang gurun, setelah berpuasa empat puluh hari, Yesus lapar. Tawaran pertama iblis menyasar kebutuhan paling dasar, yaitu ajakan mengubah batu menjadi roti. Yesus menjawab dengan firman, bukan argumen filosofis. Manusia hidup bukan hanya oleh roti, melainkan oleh setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4). Hati yang terisi firman tiap hari punya bekalan saat serangan datang.
Gethsemani menunjukkan sisi lain dari perjuangan yang sama. Lukas mencatat bahwa Yesus makin bersungguh-sungguh berdoa hingga peluh-Nya bertetesan ke tanah (Lukas 22:44). Kepada murid-murid-Nya Ia berpesan: "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah" (Matius 26:41). Doa, bagi Dia, bukan formalitas sebelum badai; doa adalah medan pertempuran itu sendiri. Sebab itu Ibrani 4:16 membuka pintu: "marilah dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan pertolongan pada waktunya." Orang yang baru jatuh cenderung menjauh dari Tuhan, padahal arah gerak pertolongan justru kebalikannya. Tentang pulang setelah gagal, tulisan cara mengampuni sesuai Alkitab membahas langkah-langkahnya lebih rinci.
Kekuatan kebiasaan kecil
Kemenangan atas godaan jarang lahir dari momen heroik sekali seumur hidup. Ia dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil yang membosankan untuk diceritakan. Yusuf di Mesir memberi contoh menjaga jarak sejak awal. Ketika istri tuannya menariknya berulang-ulang, ia menolak dengan alasan yang benar, "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (Kejadian 39:9). Ketika perempuan itu memaksa, Yusuf meninggalkan kainnya dan lari (ay. 12). Kabur dari medan perang kadang justru bentuk kemenangan, dan itu bukan aib.
Kebiasaan kedua, isi hati sebelum ia lapar. Firman yang kita baca tiap hari bekerja sebagai pagar yang tak tampak; panduan praktisnya ada di tulisan membiasakan diri membaca Alkitab. Kebiasaan ketiga, jangan bergumul sendirian. Dosanya tumbuh subur di tempat gelap, dan Yakobus 5:16 memberi obatnya: "hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh". Banyak orang percaya bertahan justru sejak hari mereka berani jujur kepada satu orang dewasa yang tepercaya. Lalu bila jatuh, bangkit hari itu juga. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita" (1 Yohanes 1:9).
Satu hal terakhir yang ingin saya tegas-tegaskan adalah tergoda belum berarti berdosa. Iblis bahkan berani mencobai Yesus yang tanpa cela. Dosa baru terjadi ketika kita menyambut dan memeluk tarikan itu. Jadi kalau pekan ini pikiran yang sama datang lagi dan Anda lelah, kelelahan itu wajar; jangan biarkan ia berubah menjadi vonis bahwa Anda orang yang gagal. Malam berikutnya masih akan datang membawa pintunya sendiri. Bedanya, kini kita tahu asal tarikan itu, tahu Siapa yang sudah menyediakan jalan keluar sebelum cobaan tiba, dan tahu ke arah mana harus bergerak.
Ayat kunci
"Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13)
Referensi
- Alkitab Terjemahan Baru (LAI): Yakobus 1:13-15; 1 Korintus 10:12-13; Ibrani 4:15-16; Matius 4:1-4; Matius 26:41; Lukas 22:44; Kejadian 39:7-12; Titus 2:11-12; 1 Yohanes 1:9; 1 Yohanes 2:16; Yakobus 5:16. Verifikasi teks TB melalui Wordproject (TB, Yakobus 1), Wordproject (TB, 1 Korintus 10), dan YouVersion Bible App (TB).
- Foto utama: Wooden Road Signage Under Blue Sky oleh Tibor Szabo, Pexels, lisensi Pexels.
Komentar
Posting Komentar