"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya.
Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali.
Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia. Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliakan Dia dan bersekutu dengan-Nya. Meleset dari tujuan itu, sekecil apa pun lebinya, namanya dosa. Dosa bukan pertama-tama soal pelanggaran aturan main, tapi soal penyimpangan dari Pembuat aturan sekaligus Sasaran hidup kita.
Lebih tua dari hukum Taurat
Paulus membahas panjang tema ini dalam suratnya kepada jemaat Roma. "Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa" (Roma 5:12). Dosa masuk ke dunia lewat Adam, lalu mewariskan sesuatu pada setiap anak manusia. Roma 5:13 memperjelas gambar itu. Dosa sudah bekerja di dunia jauh sebelum hukum Taurat ada, meski Allah tidak memperhitungkannya selama hukum itu belum turun.
Banyak orang membayangkan dosa sebagai pelanggaran hukum, lalu merasa aman selama tidak melanggar apa pun. Yakobus membongkar logika itu. "Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya" (Yakobus 2:10). Ia yang berkata jangan berzinah juga berkata jangan membunuh. Melanggar satu titik sama saja dengan menyerang otoritas pemberi hukum itu sendiri.
Definisi paling ringkas ada di 1 Yohanes 3:4. "Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah." Kata pelanggaran di situ menunjuk pada hukum Allah, bukan pada norma kesopanan pergaulan atau selera budaya setempat. Dosa selalu soal relasi kepada Pribadi yang berhak menuntut, dan di sanalah letak beratnya.
Intipan di depan pintu
Firman Tuhan kepada Kain sebelum ia membunuh Habel justru bicara soal dosa yang mengintai. "Dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya" (Kejadian 4:7). Gambarannya bukan hakim dengan palu di tangan. Lebih mirip predator yang berjongkok depan pintu rumah. Percakapan itu terjadi jauh sebelum Allah menurunkan hukum di gunung Sinai. Dosa tidak menunggu hukum untuk mulai bekerja.
Kalau dosa cuma urusan perbuatan, orang bisa menenangkan diri lewat perbandingan. Saya tidak sejahat dia. Saya tidak pernah membunuh siapa pun. Yohanes menutup pintu pelarian itu. "Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita" (1 Yohanes 1:8). Menipu diri sendiri. Pilihan kata itu tepat. Yang kita hadapi dalam pemeriksaan ini bukan penilaian orang lain, melainkan diagnosa atas diri kita sendiri.
Dosa mengikat manusia lewat perbuatan, dan juga lewat keadaan. Daud mengakuinya dalam Mazmur 51:5 sebagai kesalahan bawaan sejak dalam kandungan. Paulus menyebut keadaan itu dengan kalimat bahwa semua orang "telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Kata kehilangan penting di situ. Manusia bukan sekadar berbuat salah. Ia kehilangan sesuatu yang semestinya melekat pada dirinya, yaitu kemuliaan Allah sebagai tujuan penciptaannya. Anak panah yang meleset bukan cuma salah arah. Ia berhenti mengarah, dan tanpa pertolongan dari luar, ia tidak tahu harus mengarah ke mana lagi.
Dinding dan upah
Banyak orang meringkas akibat dosa dengan satu kata saja, yaitu murka. Alkitab sendiri lebih suka bahasa relasi. "Yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu" (Yesaya 59:2). Pemisah. Dosa berdiri layaknya dinding antara dua pihak yang dahulu bersekutu. Doa terasa berhenti di langit-langit, firman tak kunjung masuk ke hati. Sepi semacam itu jarang berarti Allah berpindah. Ia hanya menyembunyikan diri, kata nabi itu, dan penyembunyian itu punya nama. Dosa.
Upahnya menyusul dalam Roma 6:23. "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." Upah menuntut riwayat pekerjaan. Karunia hanya menuntut penerima. Kematian rohani adalah akibat logis dari berbalik arah dari sumber hidup. Hidup kekal tidak pernah menjadi hak kita, dan justru di situ letak nama karunianya. Kasih karunia bukan upah ketaatan, tapi pemberian bagi pelanggar.
Mengapa kita perlu memahami semua ini sebelum bicara pertobatan dan keselamatan? Ukuran diagnosis menentukan ukuran pengobatan. Kalau dosa hanya kebiasaan buruk, cukup tips memperbaiki diri. Kalau dosa hanya pelanggaran hukum, cukup denda dan pelunasan. Tetapi kalau dosa adalah keadaan manusia yang meleset dari kemuliaan Allah sekaligus memisahkannya dari Sang Pencipta, obatnya bukan perbaikan, melainkan kelahiran baru. Di titik itulah pertobatan dan keselamatan masuk ke dalam pembicaraan. Dokter yang benar tidak menyembuhkan gejala dan membiarkan penyakitnya.
Saya perlu mengakui satu hal di sini. Setiap kali membaca Roma 3:23, kata "semua" menampar kenyamanan saya. Kata itu tidak membedakan orang biasa dan orang gerejawi. Dosa bukan masalah mereka yang jahat di luar sana, tapi masalah kita yang hafal ayatnya dan tetap meleset. Iman tidak menutup fakta itu. Iman sejati justru berdiri di atas pengakuan yang jujur.
Ada kelegaan aneh dalam memahami dosa secara utuh. Selama definisi dosa sempit, saya punya zona aman sendiri, dan saya tidak pernah sungguh-sungguh datang kepada Kristus. Ketika definisinya melapangkan hingga mencakup saya juga, pintu pengampunan justru menganga. Anak yang tahu dirinya sakit datang kepada ayahnya. Anak yang merasa sehat hanya lewat di depan pintu.
Rantai di foto ini tidak berkarat sekaligus. Karat mulai dari titik kecil yang lembap, merayap pelan, lalu menggerogoti dari dalam sampai kekuatan besi tinggal nama. Dosa jarang merobohkan orang lewat satu pelanggaran besar. Ia mengunyah lewat kompromi kecil tanpa perlawanan, lewat keputusan yang tampak sepele, sampai suatu hari rantainya tidak bisa lagi dibuka dengan tangan kosong.
Kabar baiknya, rantai berkarat pun masih bisa dipotong, dan pemotongnya bukan tangan kita. Dosa memang mengintip di depan pintu. Di pintu yang sama, Bapa menunggu anak-Nya pulang.
Referensi:
Alkitab Terjemahan Baru (TB), Lembaga Alkitab Indonesia, yaitu Mazmur 51:5, Roma 3:23, Roma 5:12-13, Roma 6:23, 1 Yohanes 1:8, 1 Yohanes 3:4, Yakobus 2:10, Kejadian 4:7, Yesaya 59:2. Teks ayat diverifikasi melalui YouVersion, alkitab.mobi, dan Alkitab SABDA.
Artikel terkait di blog ini: Apa Itu Iman Menurut Alkitab, Kasih Karunia, Apa Itu Pertobatan, Apa Itu Keselamatan.
Foto utama oleh Francesco Paggiaro via Pexels, digunakan sesuai ketentuan lisensi gratis Pexels.

Komentar
Posting Komentar