Langsung ke konten utama

Apa Itu Pertobatan? Makna Metanoia yang Sering Disalahpahami

Jalan pedesaan kosong dengan cahaya matahari pagi di sela pepohonan

Satu kata dalam Alkitab sering disalahpahami orang, yaitu pertobatan. Banyak yang menyangka pertobatan sama dengan menangis di altar, mengangkat tangan saat ibadah, atau paling tidak merasa bersalah selama beberapa hari. Perasaan itu lalu hilang begitu saja, dan hidup berjalan seperti biasa. Padahal kalau kita telusuri bahasa aslinya, kata yang diterjemahkan "bertobat" dalam Perjanjian Baru memuat makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar dongkol pada diri sendiri.

Bertobat itu berbalik arah

Dalam bahasa Yunani, kata itu adalah metanoia. Akar katanya, nous, berarti pikiran, dan metanoia secara harfiah menunjuk pada perubahan pikiran. Kamus dan tafsir Alkitab menjelaskan makna itu, antara lain GotQuestions Indonesia dan Bible.org. Tetapi perubahan pikiran di sini bukan sekadar ganti pendapat soal hal sepele. Orang yang bertobat adalah orang yang menilai ulang seluruh arah hidupnya, mengakui bahwa jalannya selama ini keliru, lalu memutar badan dan berjalan ke arah yang baru.

Bayangkan seorang pengendara yang sadar sedang melaju ke kota yang salah. Ia bisa berhenti di tepi jalan, menepuk dahi, dan berkomentar betapa cerobohnya dirinya. Selama ia terus melaju ke arah yang sama, penyesalan itu tidak mengubah apa pun. Satu hal wajib ia lakukan, yaitu berputar balik. Umpama sederhana ini justru menolong kita membaca Markus 1:15. Kalimat pertama khotbah Yesus yang dicatat Injil Markus berbunyi, "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" Dua perintah itu berdampingan, dan keduanya berbicara soal arah. Bertobat berarti berbalik dari jalan lama. Percaya berarti melangkah ke jalan yang diberitakan Yesus.

Petrus pun memakai gambaran yang sama saat berbicara di Bait Allah. Menurut Kisah Para Rasul 3:19 dalam Terjemahan Baru, ia berkata, "Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan." Sadar, lalu bertobat. Kesadaran datang lebih dulu, perubahan arah menyusul setelahnya. Urutan ini penting, sebab banyak orang berhenti pada tahap pertama. Mereka tahu persis hidupnya berantakan, bahkan bisa menceritakan detail kesalahannya di depan siapa pun. Pengetahuan soal dosa belum tentu berarti pertobatan.

Menyesal sejati dan menyesal yang lain

Rasul Paulus pernah menulis pembedaan yang tajam soal dua macam kesedihan. Dalam 2 Korintus 7:10 ia menulis, "Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian." Kesedihan yang berasal dari Allah membawa orang ke pertobatan. Kesedihan jenis lain hanya berbuah keputusasaan.

Beda keduanya bisa dilihat dari arah pandangannya. Orang yang menyesal dengan dukacita dunia memandang konsekuensi. Ia sedih setelah ketahuan, setelah nama baiknya hancur, setelah kehilangan uang atau kedudukan. Begitu konsekuensi itu hilang, kesedihannya ikut hilang, dan pola hidup lama kembali berjalan. Orang yang menyesal menurut kehendak Allah memandang dosanya sendiri di hadapan Allah yang kudus. Ia gelisah bukan utamanya akibat perbuatannya, melainkan sebab perbuatannya itu melukai hati Tuhan yang mengasihi dia. Paulus melihat bukti pertobatan macam ini pada jemaat Korintus, yang kesedihannya berujung pada kesungguhan memperbaiki keadaan.

Kisah anak yang hilang dalam Lukas 15 memperlihatkan kesedihan jenis kedua ini dari dekat. Setelah hartanya habis dan perutnya kosong di negeri asing, anak itu mengingat rumah bapanya. TB mencatat kalimatnya, "Lalu sadarlah ia akan dirinya serta berkata: Berapa banyak orang gaji bapaku yang beroleh makanan dengan berlimpah-limpah, tetapi aku di sini binasa dengan kelaparan!" Lalu ia bangkit dan pulang. Ia tidak berhenti pada renunganku yang menyakitkan. Perjalanan nyata menanti dari negeri jauh itu menuju rumah. Dalam bahasa kita sehari-hari, pertobatan yang sejati selalu punya kaki.

Bukti pada buah

Yohanes Pembaptis pernah kedatangan orang banyak di tepi Sungai Yordan, dan ia melempar satu tuntutan yang membuat tidak nyaman. Menurut Matius 3:8, katanya, "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan." Tuntutan itu ditujukan kepada orang yang bersembunyi di balik keturunan Abraham, padahal hidupnya tidak berubah. Buah di sini berarti perubahan yang kelihatan, bukan pernyataan lisan belaka. Penipu yang bertobat akan terlihat jujurnya. Pemarah yang bertobat akan terlihat sabarnya. Waktu memperlihatkan buah itu, sebab pohon tidak berbuah dalam semalam.

Kalau ditanya kapan pertobatan itu selesai, jawabannya tidak pernah selesai dalam pengertian penuh. Ada belokan besar di awal, saat seseorang berpaling dari dosa kepada Kristus, dan itu sekali untuk selamanya bagi orang percaya. Sesudahnya masih ada pertobatan-pertobatan kecil sepanjang perjalanan. Daud sudah menjadi raja ketika ia berbuat dosa besar dengan Batsyeba, dan pemulihannya datang lewat doa yang dicatat dalam Mazmur 51:12, "Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!" Seorang raja, pengikut Tuhan sejak muda, tetap membutuhkan penciptaan hati yang baru. Pertobatan bukan barang sekali beli lalu disimpan di lemari.

Kalau yang sudah bertobat jatuh lagi

Di titik inilah banyak orang percaya paling mudah kehilangan semangat. Seseorang sudah meninggalkan kebiasaan lamanya, lalu suatu hari tergelincir lagi ke pola itu. Ia lalu menyimpulkan pertobatannya palsu, dan rasa berdosanya menumpuk sampai ia jera berdoa. Rasul Yohanes menulis kata penghiburan untuk keadaan seperti ini. Dalam 1 Yohanes 1:9, TB berbunyi, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Ayat ini ditulis untuk orang yang sudah berjalan dalam terang, bukan untuk orang luar. Jatuh bukan alasan untuk berhenti berjalan ke arah rumah Bapa.

Saya kira bagian tersulit dari pertobatan bukan pada awalnya, melainkan pada hari-hari sesudahnya, saat jalan lama sesekali terlihat menarik lagi. Anak yang hilang pun mungkin ingat masa-masa baik di negeri jauh itu sepanjang perjalanan pulangnya. Bertobat tidak berarti hilangnya kenangan. Bertobat berarti kenangan itu tidak lagi menentukan arah langkah.

Referensi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...