Yohanes 3 mencatat percakapan Yesus dengan Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi. Nikodemus datang pada malam hari. Ia mengenali tanda-tanda pelayanan Yesus, tetapi jawaban yang diterimanya mengarah ke persoalan lebih dalam daripada pengetahuan agama. Yesus berkata bahwa seseorang perlu dilahirkan kembali untuk melihat Kerajaan Allah.
Ungkapan itu kerap dipakai orang Kristen. Namun, maknanya bukan sekadar memulai kebiasaan baik atau memperbaiki citra diri. Percakapan dalam Yohanes 3 membawa kita pada pertanyaan tentang sumber hidup rohani dan siapa yang mengerjakannya.
Jawaban Yesus kepada Nikodemus
Nikodemus mula-mula memahami perkataan Yesus secara harfiah. Ia bertanya bagaimana orang yang sudah tua dapat masuk kembali ke rahim ibunya. Yesus lalu menjelaskan bahwa kelahiran dari daging menghasilkan kehidupan jasmani, sedangkan kelahiran dari Roh adalah perkara rohani. Ia memakai gambaran angin yang terdengar, meski asal dan arahnya tidak terlihat. Demikian pula, karya Roh tidak selalu bisa kita kendalikan atau ukur dari luar.
Dalam Yohanes 3:3-8, Yesus tidak sedang menawarkan teknik perubahan diri. Ia berbicara tentang tindakan Allah yang memberi hidup baru. Keterangan Alkitab SABDA tentang kelahiran kembali menyebut perubahan hati ini sebagai karya Roh Kudus. Gagasan itu sejalan dengan Titus 3:5, yang menghubungkan keselamatan dengan kelahiran kembali dan pembaruan oleh Roh Kudus.
Ungkapan “air dan Roh” pada Yohanes 3:5 telah dibahas dengan beragam penekanan dalam tradisi Kristen. Kita tidak perlu memaksakan satu tafsir ketika ayat itu sendiri tidak merinci semua perdebatan. Bagian berikutnya menekankan pekerjaan Roh, sementara Titus 3:5 berbicara tentang pembaruan yang dikerjakan Roh Kudus. Pusat percakapan tetap jelas, yaitu hidup baru berasal dari Allah.
Agama dan perubahan hati bukan hal yang sama
Nikodemus bukan orang yang asing terhadap ajaran agama. Ia seorang pemimpin, mengenal Kitab Suci, dan datang untuk berbicara dengan Yesus. Meski demikian, kedudukan dan pengetahuannya tidak menggantikan kebutuhan akan hidup dari Roh. Percakapan ini mengingatkan bahwa kedekatan dengan kegiatan gereja saja tidak sama dengan mengenal Allah secara pribadi.
Itu bukan alasan untuk meremehkan ibadah, pelayanan, atau belajar Alkitab. Semua itu berharga. Namun, kita bisa saja mengerjakan banyak hal rohani sambil menyimpan hati yang enggan dibentuk Tuhan. Perubahan Kristen tidak dimulai dari kesan saleh yang kita tampilkan; sumbernya adalah anugerah Allah.
Paulus menulis bahwa keselamatan datang karena rahmat Allah, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan. Titus 3:5 juga menyebut pembaruan oleh Roh Kudus. Perbuatan baik tetap penting sebagai buah kehidupan baru, tetapi bukan harga untuk membeli keselamatan. Urutannya perlu dijaga agar iman tidak berubah menjadi usaha membuktikan diri.
Hidup baru tampak lewat arah yang berubah
Dalam 2 Korintus 5:17, Paulus menyebut orang yang ada di dalam Kristus sebagai ciptaan baru. Ayat itu tidak berarti seorang percaya langsung menjadi sempurna atau tak pernah gagal. Ia berbicara tentang identitas dan arah hidup baru di dalam Kristus. Masa lalu tetap bagian dari cerita seseorang, tetapi masa lalu tidak lagi menjadi tuan yang menentukan seluruh langkahnya.
Perubahan itu dapat terlihat dalam cara seseorang menyikapi dosa. Ia belajar mengaku salah, menerima teguran, lalu mengambil langkah untuk memperbaiki kerusakan yang ia sebabkan. Ada kalanya kebiasaan lama masih menariknya kembali. Dalam keadaan demikian, ia tidak perlu berpura-pura kuat. Ia dapat mencari pertolongan Tuhan dan dukungan dari orang percaya yang matang.
Kasih kepada sesama juga menjadi bagian dari pertumbuhan ini. Orang yang menerima kemurahan Allah dipanggil untuk belajar mengampuni, berkata jujur, dan memperlakukan orang lain dengan hormat. Pertumbuhan semacam itu berlangsung sepanjang hidup. Satu kegagalan tidak otomatis membuktikan bahwa iman seseorang palsu, sama seperti satu tindakan baik tidak cukup menjadi bukti bahwa hatinya telah berubah.
Yohanes 3 kemudian mengarahkan percakapan kepada Anak Manusia yang ditinggikan dan kepada kasih Allah bagi dunia. Jadi, pusat pengharapan Kristen bukan kemampuan kita mengubah diri sendiri, melainkan karya Allah melalui Yesus dan hidup yang Ia karuniakan. Iman menerima karunia itu dan belajar hidup di dalamnya.
Jika masih ragu, mulailah dengan jujur
Istilah “lahir kembali” kadang membuat orang merasa harus menceritakan satu momen dramatis. Pengalaman orang berbeda-beda. Sebagian dapat mengingat waktu tertentu, sementara yang lain mengenali perubahan secara bertahap. Ukuran utamanya bukan seberapa mengesankan kisah pertobatan seseorang, melainkan ke mana ia berpaling dan siapa yang ia percayai.
Bacalah kembali percakapan Yesus dan Nikodemus, lalu perhatikan undangan untuk percaya kepada Kristus dalam bagian yang sama. Bila ada dosa yang perlu diakui, sampaikan dengan terus terang kepada Allah. Bila masih ada pertanyaan, bawalah ke dalam percakapan dengan pemimpin rohani yang dapat dipercaya. Anda juga dapat membaca pengantar tentang pertobatan menurut Alkitab, iman Kristen, dan keselamatan. Ketiganya telah diperiksa tersedia saat artikel ini disiapkan.
Allah tidak meminta kita menyamarkan keadaan hati. Datanglah kepada Kristus dengan iman, lalu izinkan Roh Kudus membentuk kehidupan sehari-hari. Prosesnya tidak selalu cepat, tetapi harapannya bertumpu pada Allah, bukan pada kesempurnaan kita.
Referensi
- Alkitab Terjemahan Baru, Yohanes 3:3-8, 2 Korintus 5:17, dan Titus 3:5.
- Alkitab SABDA, “Apa arti kelahiran kembali?”
- Got Questions Indonesia, “Apa artinya menjadi orang Kristen yang lahir kembali?”
- Kredit foto: Liana S, Unsplash.
Komentar
Posting Komentar