Langsung ke konten utama

Remaja Kristen dan Pacaran: Menjaga Hati Sebelum Waktunya Tiba

Grup chat kelas bisa berubah suasananya dalam semalam. Cukup satu anggota mulai pacaran, obrolan langsung bergeser dari PR ke drama siapa membalas pesan siapa dalam lima menit. Di luar layar, persoalannya lebih serius daripada kelihatannya. Anak muda Kristen bertanya apakah pacaran boleh, sampai mana batasnya, dan mengapa jawaban orang dewasa sering terasa mengambang.

Saya ingin menjawabnya lurus sejak awal supaya tidak ada yang menggantung. Alkitab tidak pernah menyebut pacaran sebagai dosa. Kitab itu bicara soal sesuatu yang lebih dalam, yaitu arah hati di balik hubungan tersebut dan cara kita memperlakukan orang lain sebelum musim yang tepat tiba. Di titik inilah remaja perlu bekaling, bukan larangan kosong.

Pasangan remaja berseragam sekolah duduk berbicara di tangga

Kidung Agung sudah memberi peringatan duluan

Buku paling romantis di Alkitab ternyata juga yang paling tegas soal waktu. Kidung Agung merayakan cinta antara pengantin dengan bahasa yang berani, sampai-sampai ada pembaca yang salah tingkah. Justru dari tengah puitis itu muncul sumpah aneh, berulang tiga kali pada pasal 2:7, 3:5, dan 8:4. “Kusumpahi kamu, puteri-puteri Yerusalem, demi kijang-kijang atau demi rusa-rusa betina di padang: jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya!” (Kidung Agung 2:7, TB).

Pengulangan dalam puisi Ibrani jarang tanpa maksud. Penulis mengunci satu peringatan di pintu masuk buku, lalu menguncinya lagi di tengah, lalu sekali lagi menjelang akhir. Cinta itu indah, dan justru karena indah ia harus menunggu waktunya sendiri. Pada pasal 8, nada sumpahnya berubah menjadi pertanyaan yang hampir menyesal, seolah penulis pernah melihat orang meremehkan peringatan itu lalu menanggung akibatnya.

Cara membaca begini menggeser pertanyaan kita. Dari boleh atau tidak, menjadi siap atau belum. Orang bisa saja memaksa pohon mangga berbuah di luar musim dengan suntik hormon, tetapi rasanya tidak akan pernah sama dengan buah yang jatuh pada waktunya. Perasaan sayang antara anak muda juga demikian. Ia baik selama tumbuh pada musimnya, dan kita memagarinya selagi menunggu.

Jagalah hatimu itu kerja aktif

Amsal memberi alamat lokasi peperangannya. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23, TB). Orang Ibrani memandang hati sebagai ruang keputusan, bukan sekadar tempat perasaan. Dari sana keluar pilihan-pilihan besar hidup. Pacaran menyentuh wilayah ini lebih dahulu, jauh sebelum menyentuh hal yang kelihatan mata, misalnya tempat duduk berdampingan atau pegangan tangan.

Bayangkan sebuah obrolan yang mulai pukul sembilan malam, santai, biasa saja. Jam menunjukkan dini hari ketika keduanya sadar belum tidur juga. Tidak ada yang jatuh dosa pada momen itu, hanya saja hati sudah berjalan jauh tanpa pagar. Pagar semacam ini bentuknya sederhana, misalnya jam istirahat untuk chat, kesepakatan agar pertemuan tetap di tempat terbuka, dan keberanian memberi tahu orang tua atau kakak rohani. Keterbukaan itu terasa memalukan bagi sebagian anak muda, padahal justru di situ perlindungannya bekerja.

Derasnya layar menambah tantangan lama dengan wajah baru. Tulisan tentang melatih mata di tengah derasnya media sosial pernah membahasnya panjang, dan prinsipnya sama untuk urusan ini. Latihan menjaga mata membantu pintu hati menolak hal-hal yang sebenarnya tidak perlu masuk.

Lari, lalu kejar

Nasihat Paulus untuk Timotius yang masih muda bergerak dua arah. “Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni” (2 Timotius 2:22, TB). Ada perintah menjauh, ada perintah mengejar. Detail yang gampang lolos justru kata kecil di ujung ayat, yaitu bersama-sama. Orang muda tidak perlu mengurus pergumulan ini sendirian.

Persekutuan yang benar bekerja sebagai rem sekaligus mesin. Sahabat yang searah iman akan bertanya soal batas yang sudah kita buat, mengingatkan tanpa menghakimi, dan menemani berdoa ketika perasaan mulai kabur. Bentuknya bisa teman satu sekolah, kakak rohani di gereja, atau komunitas pemuda. Untuk pergumulan yang lebih berat, ulasan tentang cara menghadapi godaan memuat langkah-langkahnya secara lengkap.

Satu ayat lagi menjadi penutup ukurnya. Paulus menulis kepada jemaat Korintus yang ribut soal makan daging persembahan berhala, lalu menutup pembahasan dengan prinsip yang jauh lebih luas. “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31, TB). Hal sekecil menu makan malam pun punya standar kemuliaan. Maka ukuran untuk hubungan muda hari ini bukan seberapa jauh boleh berjalan, melainkan apakah jalannya memuliakan Dia.

Jadi kembali ke pertanyaan awal. Orang dewasa yang menjawab mengambang biasanya sedang khawatir, bukan benci. Khawatirnya sah, hanya cara yang sering keliru. Anak muda tidak butuh larangan tanpa ujung. Ia butuh bekal sampai sanggup menjaga hatinya sendiri, termasuk memahami siapa ia di mata Tuhan sebelum membagikan hatinya kepada orang lain. Tulisan tentang menemukan jati diri bisa jadi langkah lanjutan di urusan itu.

Cinta yang bangun tepat pada waktunya tumbuh utuh. Ia tumbuh tanpa perlu bersembunyi dari orang tua, dan kelak tidak meninggalkan luka yang butuh bertahun-tahun untuk pulih. Menunggu bukan berarti rugi. Menunggu adalah bagian dari hadiahnya.

Ayat kunci artikel ini adalah Kidung Agung 2:7, bersama Amsal 4:23 dan 2 Timotius 2:22.

Referensi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...