Ponsel bergetar sepanjang hari. Kabar buruk masuk lewat grup keluarga dan lini masa, kadang sampai ke notifikasi jam tidur, lalu kepala ikut ramai menyusul. Justru di tengah keriuhan macam ini Kitab Mazmur menyimpan satu perintah yang bunyinya nyaris provokatif. “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” (Mazmur 46:11 TB).
Mazmur 46 tidak lahir di ruangan yang teduh. Nyanyian dari bani Korah ini membuka diri dengan pemandangan runtuh. “Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya” (Mazmur 46:2-3). Kata sekalipun diulang tiga kali berturut-turut. Penulis mazmur tidak menutup mata dari kemungkinan paling buruk. Ia menyebut bencana itu satu per satu lebih dulu, baru kemudian memutuskan untuk tidak takut.
Kunci ketegarannya ada di baris pembuka. “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (Mazmur 46:2). Rasa aman seperti itu tidak menunggu cuaca membaik. Perlindungan itu justru membuktikan dirinya di dalam kesesakan, tepat ketika orang lain kehabisan sandaran.
Sungai di Kota Tanpa Sungai
Di tengah mazmur muncul pemandangan lain. “Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai” (Mazmur 46:4-5). Masalahnya, Yerusalem memang tidak punya sungai besar. Kota kuno itu bergantung pada mata air dan kolam, maka para penafsir umumnya melihat sungai di sini sebagai lukisan kehadiran Allah yang mencukupi kotanya dari dalam. Efeknya disebut segera. “Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi” (Mazmur 46:5).
Frasa menjelang pagi itu menyimpan pengajaran tersendiri. Pertolongan Allah kerap tidak datang di jam yang nyaman. Ia datang setelah jam paling berat kita lewati, tepat sebelum fajar. Renungan tentang kasih setia Tuhan yang baru tiap pagi menyinggung hal senada, rahmat pagi menuntut kita melewati satu malam penuh lebih dulu. Mazmur 46 mengatakannya dengan bahasa benteng dan sungai.
Melepaskan Cengkeraman, Mengenal Siapa Dia
Ayat kesebelas membawa suara yang berbeda. Dua bait penuh guncangan, lalu Allah sendiri yang berbicara. “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:11). Kata diam di sini, raphah dalam bahasa Ibrani, maknanya lebih luas daripada tidak bersuara. Catatan Alkitab SABDA menerjemahkannya juga sebagai lepaskanlah, yaitu berhenti memegang hal-hal yang kita cengkeram erat. Perintah ini bukan ajakan pasrah semata, melainkan undangan membuka tangan. Renungan tentang berserah kepada Tuhan mengulas tema pelepasan ini lebih jauh.
Konteks kalimat itu lebih luas dari urusan pribadi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan goncang, lalu Allah memperdengarkan suara-Nya dan bumi pun hancur (Mazmur 46:6-7). Satu kalimat dari surga memotong kericuhan berskala dunia. Pencipta langit dan bumi tidak sedang panik membaca kabar ciptaan-Nya sendiri. Umat-Nya boleh berdiri tegar di tengah keriuhan, sebab sejarah ada di tangan-Nya.
Wujudnya dalam hidup sehari-hari bisa sederhana sekali. Lima menit tanpa ponsel sebelum tidur. Baca satu ayat pelan-pelan tanpa buru-buru mencatat. Panjatkan doa sependek satu kalimat jujur, misalnya, “Tuhan, bagian ini saya lepaskan.” Nabi Yesaya membawa janji yang searah, “dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu” (Yesaya 30:15). Renungan tentang kekuatan baru bagi orang yang lelah membahas janji itu lebih jauh.
Perintah mazmur ini mendapat wajah nyata dalam pelayanan Yesus. Di Danau Galilea, taufan menerjang perahu murid-murid sampai nyaris tenggelam. Ia bangun, menghardik angin, dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Angin langsung reda dan air menjadi teduh sekali (Markus 4:39). Kata pertama yang keluar untuk laut galak sejajar dengan perintah Mazmur 46. Dia yang membisukan danau tidak kehabisan kuasa atas badai yang sedang kita hadapi, meski jawaban-Nya kadang datang lebih lambat daripada harapan kita. Renungan tentang saat Tuhan diam menemani musim panjang macam itu.
Sejarah gereja menyimpan kesaksian soal mazmur ini. Martin Luther menulis lagu Ein feste Burg ist unser Gott antara tahun 1527 dan 1529, masa ketika wabah menyergap Eropa dan tekanan atas gerakan reformasi sedang memuncak. Dunia kemudian mengenal lagu itu sebagai A Mighty Fortress Is Our God, dan lagu ini lahir dari perenungan Mazmur 46. Orang yang hidupnya berguncang dari banyak arah menemukan nada paling tegar justru di pasal kuno ini.
Malam nanti ponsel mungkin masih bergetar dan kabar belum tentu membaik. Mazmur 46 tidak menjanjikan sebaliknya. Janjinya justru lebih dalam. Allah ada di tengah kotanya, pertolongan-Nya menjelang pagi, dan kita boleh melepaskan cengkeraman sejenak untuk mengenal Dia lebih dekat. Diamlah. Ia Allah.
Referensi
1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI). Kutipan ayat Mazmur 46:2-3, 46:4-5, 46:11; Yesaya 30:15; Markus 4:39. Verifikasi teks melalui Alkitab SABDA (Mazmur 46), YouVersion TB (Yesaya 30:15), dan YouVersion TB (Markus 4:39).
2. Makna kata Ibrani raphah pada Mazmur 46:11, catatan penjelasan Alkitab SABDA.
3. Sejarah lagu Ein feste Burg ist unser Gott (A Mighty Fortress Is Our God) karya Martin Luther, 1527-1529, lihat Wikipedia dan The Free Lutheran Chorale-Book.
4. Gambar: “Calm Body of Lake Between Mountains”, foto oleh Bri Schneiter via Pexels, lisensi Pexels.
Komentar
Posting Komentar