Langsung ke konten utama

Sekalipun Ara Tidak Berbunga: Renungan Habakuk 3:17-19

Siluet pohon-pohon gundul bersilang di bawah langit senja

Di tanah Yehuda zaman para nabi, musim panen datang dengan urutan yang hampir tak pernah gagal. Pohon ara berbunga lebih dulu, menyusul pohon anggur, dan zaitun tiba paling akhir. Tiga tanaman itu menjadi tulang punggung hidup satu keluarga sepanjang tahun. Minyak zaitun menghidupkan pelita saat malam turun. Anggur menyambut tamu. Buah ara mengganjal perut di waktu paceklik.

Kitab Habakuk justru mencatat tahun ketika seluruh urutan itu berhenti. Bunga ara tidak keluar. Ladang kosong, kandang kosong, lumbung tinggal kenangan. Nabi kecil ini melantunkan doa paling berani dalam seluruh kitabnya justru dari titik tergelap.

"Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku."

(Habakuk 3:17-19, Terjemahan Baru)

Dari protes ke menara jaga

Doa itu tidak lahir dari mulut orang beruntung. Kitab ini dibuka dengan protes nyaris kurang ajar, "Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: 'Penindasan!' tetapi tidak Kautolong?" (Habakuk 1:2) Habakuk melihat kekerasan merajalela di Yehuda sementara langit seakan bertutup rapat. Jawaban yang turun malah lebih mengerikan. Tuhan sedang membangkitkan bangsa Kasdim, tentara Babilonia yang garang, untuk menghukum umat-Nya sendiri. Protes kedua nabi itu pun meletus, dan setelah semua kata keluar, ia melakukan sesuatu yang jarang kita lakukan, yaitu berhenti berdebat dan berdiri di tempat penjagaannya.

"Aku akan berdiri di tempat penjagaanku dan bertahan di menara; aku akan meninjau untuk melihat apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku." (Habakuk 2:1) Penjaga malam menyambut gelap dengan mata terbuka, bukan dengan tidur. Dari posisi itu jawaban akhirnya turun, dan isinya ringkas saja. "Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya." (Habakuk 2:4) Kalimat pendek ini dikutip tiga kali dalam Perjanjian Baru, di Roma 1:17, Galatia 3:11, dan Ibrani 10:38. GotQuestions Indonesia membahas maknanya dalam tulisan tentang orang benar yang hidup oleh percayanya. Penantian macam ini juga pernah kita renungkan lewat tulisan tentang saat Tuhan diam.

Kata namun dan kaki rusa

Daftar kegagalan di ayat 17 menusuk lebih dalam kalau dibaca dengan kacamata keseharian Yehuda. Jika zaitun mengecewakan, pelita padam dan minyak pengurapan habis. Ladang tanpa hasil membuat roti menipis sampai panen berikutnya. Kambing domba terhalau dari kurungan, artinya musuh membawa harta berjalan itu lari. Kandang tanpa sapi paling pahit, sebab susu, anak lembu, dan tenaga pembajak lenyap dalam satu musim. Kekuatiran soal makanan esok hari memang pergumulan seumur manusia. Yesus sendiri memakai burung pipit untuk mengajar soal itu, tema yang pernah kita bahas dalam renungan tidak perlu kuatir di Matius 6.

Ada satu sisi yang sering luput dari ayat ini. Kalimatnya masih berupa hipotesis. Kata "sekalipun" berulang, pertanda bahwa musibah itu belum tentu sedang berlangsung. Habakuk berlatih menghadapi rencana terburuk sebelum rencana itu tiba, dan sukacitanya ia latih lebih dulu, bukan menunggu semuanya membaik.

Catatan kecil di akhir pasal menambah warna. Instruksi musik menutup doa itu, "Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi." Kalimat iman sekuat ini memang lahir untuk dinyanyikan bersama jemaat, bukan sekadar simpanan lemari gulungan. Ratapan yang jujur boleh naik ke pentas pujian. Jemaat di banyak gereja sampai hari ini masih melantunkan Mazmur duka tanpa malu.

Seluruh perikop itu bertumpu pada kata sambung kecil, "namun". Habakuk menuliskan kegagalan dengan mata terbuka, lalu menolak menutup doanya di situ. Kegembiraannya tidak bersandar pada hasil ladang, melainkan pada pribadi yang menyelamatkan dia. Sukacita begini tahan lama sebab akarnya menancap di tabiat Allah yang tidak berubah, bukan di tanah yang bisa gagal.

Penutup doanya mengejutkan. Habakuk tidak memohon ladang segera hijau. Ia bicara soal kaki. Rusa gunung, hewan yang melompati tebing terjal tanpa tergelincir, menjadi gambar pilihannya. Di musim paceklik jalan datar biasanya masih ada. Yang sering habis lebih dulu adalah tenaga untuk menapakinya. Kadang Tuhan mengubah keadaan. Kadang Ia mengubah kaki kita lebih dulu, supaya bukit yang tadinya mustahil menjadi tempat berjejak. Ketenangan di tengah guncangan juga menjadi tema renungan Mazmur 46 yang dulu pernah dibahas di sini.

Entah pohon ara Anda tahun ini berbunga atau gugur sebelum tua, doa Habakuk terbuka untuk siapa saja yang mau meminjamnya. Bawa daftar kegagalan apa adanya, sebut semua tanpa polesan, lalu tetap bersorak di dalam Dia yang menyelamatkan. Lumbung boleh kosong setahun penuh, penyanyinya tidak.

Referensi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...