Langsung ke konten utama

Memilih Teman: Bekal Alkitab untuk Persahabatan Remaja

Nama yang paling sering muncul di kolom komentar teman bisa berganti lebih cepat daripada sepatu sekolah. Semester lalu masih satu geng berenam, tahun ini tinggal dua yang rutin menyapa di lorong kelas. Pergeseran begini hampir tidak pernah lewat keputusan besar. Sebagian lewat hal kecil saja, misalnya pindah bangku atau grup chat yang pelan-pelan sepi.

Dampaknya menetap lebih lama daripada masa persahabatan itu sendiri. Cara bicara dan tolok ukur humor kita pelan-pelan mengikuti wajah orang-orang paling dekat, termasuk hal yang kita anggap wajar. Alkitab menempatkan urusan ini di barisan terang, “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang” (Amsal 13:20, TB). Kata bebal di ayat itu bukan soal nilai rapor. Dalam bahasa Ibrani, istilahnya menunjuk pada orang keras kepala yang menolak koreksi. Bergaul lama-lama terasa biasa saja, ibarat bau asap yang menempel di jaket tanpa sempat kita sadari.

Tiga orang remaja berteman akrab tertawa bersama di taman

Kalimat pinjaman dari panggung teater

Rasul Paulus menyimpan satu kalimat untuk jemaat Korintus yang sampai kini masih sering muncul, “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33, TB). Kalimat itu bukan karangan Paulus sendiri. Paulus meminjamnya dari Menander, penyair Yunani yang hidup ratusan tahun lebih awal, menurut penjelasan GotQuestions Indonesia soal ayat ini. Orang Korintus mengenal pepatah itu dari panggung teater. Paulus mengangkatnya untuk jemaat yang mulai goyah soal kebangkitan, dan pesannya tetap relevan untuk anak muda di sekolah mana pun.

Kata kuncinya kebiasaan, yaitu hal yang kita lakukan berulang sampai terasa otomatis. Bentuknya bisa bahasa gaul harian, bisa juga cara memperlakukan perempuan yang bukan pacar. Tidak ada teman yang datang membawa daftar aturan. Pengaruhnya bekerja diam-diam, dan biasanya baru terasa setahun kemudian saat orang tua atau guru mulai bertanya ada apa.

Yonatan, pewaris takhta yang rela mundur

Alkitab tidak berhenti pada peringatan. Ia menyimpan potret pertemanan paling jujur di Perjanjian Lama, yakni kisah Yonatan bersama Daud. Dua orang muda itu nyaris mustahil akrab. Yonatan putra raja, pewaris takhta Israel. Daud anak petani Betlehem yang namanya baru naik daun setelah Goliat tumbang. Persaingan semacam ini umumnya berujung saling menjatuhkan.

Narasi 1 Samuel 18 mencatat kejutan itu. “Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri” (1 Samuel 18:1, TB). Yonatan lalu mengikat perjanjian dengan Daud dan menyerahkan jubahnya beserta perlengkapan perang. Saat raja Saul mengincar nyawa Daud, justru putra sang raja berdiri membela, “Janganlah raja berbuat dosa terhadap Daud, hambanya, sebab ia tidak berbuat dosa terhadapmu” (1 Samuel 19:4, TB). Bertahun kemudian, saat Yonatan gugur di medan perang, ratapan Daud menutup kisah mereka dengan kalimat yang sanggup memerahkan mata siapa pun, “Merasa susah aku karena engkau, saudaraku Yonatan, engkau sangat ramah kepadaku; bagiku cintamu lebih ajaib dari pada cinta perempuan” (2 Samuel 1:26, TB).

Kokohnya ikatan itu bersumber dari satu titik, yaitu kesediaan Yonatan menerima pilihan Allah atas Daud sebagai raja berikutnya tanpa rasa iri. Catatan Alkitab SABDA menyoroti hal ini pada ayat ratapan tadi. Pewaris takhta rela mundur demi sahabatnya. Remaja hari ini jarang menghadapi pilihan sebesar itu. Versi kecilnya ada di mana-mana, misalnya memberi kesempatan teman tampil lebih dulu, atau ikut senang saat kawan menerima pujian yang sebenarnya kita harapkan untuk diri sendiri.

Tajam lewat gesekan sehat

Kitab Amsal punya gambaran ringkas untuk pekerjaan seorang sahabat, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 27:17, TB). Dua bilah saling mengasah dan keduanya keluar lebih tajam. Dalam praktik, pengasahan tidak selalu nyaman. Mengasah pisau memang menimbulkan gesekan. Sahabat sungguhan kadang berkata tidak. “Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium secara berlimpah-limpah” (Amsal 27:6, TB). Teguran kawan memang perih sekejap, jauh lebih berharga daripada pelukan orang yang hanya ingin kita menyukainya.

Amsal menyebut satu tipe teman yang perlu kita jauhi, yaitu si pemarah. “Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah” (Amsal 22:24, TB). Sebab, lanjut ayat berikutnya, lama-lama tingkah lakunya menjadi biasa dan kita memasang jerat bagi diri sendiri. Peringatan ini bukan ajakan memusuhi siapa pun. Soalnya letak jarak. Teman ada yang cocok jadi kenalan hangat di kelas, ada pula yang layak kita percaya urusan hati. Mengenali dua jenis kedekatan itu menyelamatkan banyak perkara di kemudian hari.

Untuk menimbang, coba ajukan beberapa pertanyaan kecil pada diri sendiri. Apakah aku jadi lebih berani berkata benar sejak akrab dengannya, atau justru lebih sering menyembunyikan sesuatu. Apakah dia kuat menerima kabar buruk dariku tanpa menjadikannya bahan ledekan. Persahabatan sehat juga menyediakan ruang bagi pergumulan iman yang berat, tema yang pernah kita angkat dalam tulisan tentang musim pertanyaan iman. Satu arah kerja lagi penting sebelum kamu memakai daftar itu pada orang lain. Untuk mendapat teman baik, mulailah lebih dulu menjadi teman yang baik, demikian pesan GotQuestions Indonesia.

Semua penimbangan itu pelan-pelan menemukan satu pokok, yaitu siapa aku di mata Tuhan lebih dulu sebelum aku di mata siapa pun. Pertemanan erat kaitannya dengan pembentukan jati diri. Tulisan tentang menemukan jati diri menurut Alkitab mengupasnya lebih jauh. Anak muda yang mantap di titik ini tidak gampang membeli penerimaan dengan harga berapa pun, dan tidak gampang pula memperjualbelikan teman demi popularitas.

Dua cukup, asal kuat

Kitab Pengkhotbah menambahkan nada yang menenangkan. “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka” (Pengkhotbah 4:9, TB). Ayat sesudahnya bicara soal teman yang mengangkat kita saat jatuh. Rangkaian itu berpuncak pada satu baris yang sampai kini banyak orang hafal, “Tali tiga lembar tak mudah diputuskan” (Pengkhotbah 4:12, TB).

Angka tidak pernah muncul di sana. Pengkhotbah hanya membeberkan arahnya, bahwa Allah tidak merancang manusia untuk menang sendirian. Dua sahabat setia lebih berharga daripada dua puluh kenalan yang menguap saat kita mulai bercerita. Sementara itu, tidak satu ayat pun menyuruh menutup diri dari semua orang. Soalnya bukan jumlah, melainkan siapa yang paling sering mendengarkan kita.

Persahabatan remaja memang berubah-ubah musim. Nama paling dekat hari ini bisa berjarak tahun depan, dan itu bukan kegagalan. Musim berganti boleh datang lagi, asal kita belajar memilih dengan siapa paling sering berjalan. Siapa yang bergaul menentukan arah kita bergerak. Amsal 13:20 sudah mengatakannya lebih dulu, dan sepuluh tahun ke depan akan menghitungnya ulang.

Ayat kunci untuk tema ini adalah Amsal 13:20, bersama 1 Korintus 15:33 dan Amsal 27:17.

Referensi

  • Alkitab Terjemahan Baru (TB), LAI: Amsal 13:20; 22:24; 27:6; 27:17; 1 Korintus 15:33; Pengkhotbah 4:9 dan 4:12; 1 Samuel 18:1 dan 19:4; 2 Samuel 1:26. Teks dicek lewat YouVersion Bible App serta Alkitab SABDA.
  • Artikel GotQuestions Indonesia “Bagaimana pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik?” serta artikel GotQuestions Indonesia “Menurut Alkitab, seperti apakah persahabatan sejati itu?”
  • Catatan Alkitab Full Life pada 2 Samuel 1:26, Alkitab SABDA.
  • Foto utama oleh Keira Burton via Pexels, lisensi Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...