Langsung ke konten utama

Renungan Mazmur 23: Tuhan Gembalaku di Padang dan di Lembah

Kawanan domba merumput di padang hijau di lereng bukit

Di banyak rumah Kristen di Indonesia, Mazmur 23 menghiasi bingkai dan dinding ruang tamu. Orang membacakannya di pemakaman, menghafalkannya di kelas sekolah minggu, menyalinnya ke kartu ucapan. Akrabnya sampai kita bisa membacanya tanpa mendengar apa yang kita ucapkan.

Daud menulisnya dari posisi jauh dari tenang. Sebagian penafsir mengaitkan suasana mazmur ini dengan tahun-tahun Saul memburunya, masa gua dan rute malam, ketika hidupnya bergantung pada satu langkah di depan. Kalau kita baca dari titik itu, pembukaannya jadi terdengar lebih berat. Pengucap kalimat itu bukan orang dengan hidup yang sedang enak.

Bunyi awalnya begini, "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang" (Mazmur 23:1-2). Padang dan air seperti itu tidak muncul sendirinya. Phillip Keller, mantan peternak domba yang menulis buku A Shepherd Looks at Psalm 23, menunjukkan bahwa lahan layak untuk domba adalah hasil kerja pemiliknya. Pemiliknya mencabut gulma beracun, merawat sumber air, dan menyiapkan jalur lebih dulu sebelum kawanan tiba. Ketika Daud menyanyikan padang hijau itu, ia memuji pekerjaan diam-diam Sang Gembala jauh sebelum dombanya sadar membutuhkannya.

Lembah Termasuk Rutenya

Bagian tengahnya paling sering dikutip. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku" (Mazmur 23:4). Kata sekalipun membuat baris ini jujur. Janji mazmur ini bukan rute tanpa lembah. Jaminannya justru siapa yang berjalan bersama kita di dalamnya.

Penggembala di tanah Israel mengenal lembah macam ini sebagai jalan lintas menuju padang lebih tinggi, bukan tempat untuk menetap. Gembala memuterus kawanannya lewat ngarai gelap justru karena di seberangnya ada rumput baru. Lembah dalam pengalaman Daud punya tujuan. Penghiburan di tengahnya datang dari kehadiran Gembala, bukan dari membaiknya cuaca.

Saya sendiri sering membaca mazmur ini urutan kebalik waktu hari berat datang. Padang hijau berubah jadi janji yang belum tampak, lembah jadi alamat sekarang. Renungan sebelumnya tentang kekuatan bagi orang yang lelah cocok kita baca berdampingan, karena keduanya berbicara kepada orang yang tenaganya sudah habis.

Mazmur ini juga tidak berhenti sebagai puisi zaman dulu. Ketika Yesus menyatakan, "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yohanes 10:11), orang Yahudi yang mendengarnya langsung mengingat baris Daud. Dua ayat sesudahnya membandingkan Dia dengan upahan yang kabur begitu serigala muncul (Yohanes 10:12). Gembala sungguhan tidak punya opsi mundur, dan Ia membuktikan kesetiaan itu sampai ke nyawa-Nya di kayu salib.

Saat Kebaikan Mengejar Kita

Ayat penutupnya paling sering saya ulangi akhir-akhir ini. "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa" (Mazmur 23:6). Kata Ibrani di balik kata mengikuti adalah radaph, kata yang biasa berarti mengejar. Kata sama muncul saat pasukan Firaun mengejar Israel sampai ke tepi laut. Gambarannya jadi lain. Kebaikan Tuhan tidak berjalan santai beberapa langkah di belakang kita. Ia mengejar kita di sepanjang rute, termasuk di bagian rute yang paling kita benci.

Ukur ulang pekan yang baru lewat dengan ukuran itu. Rapat yang melelahkan, saldo yang menipis, kabar keluarga yang membuat gelisah, dan di sela semuanya Gembala sedang mengirim kebaikan ke arah kita. Sebagian sampai lebih dulu lewat makanan yang cukup atau teman yang repot-repot menelfon. Manfaat sebagiannya baru tampak setahun kemudian. Renungan ini tidak menjanjikan pekan depan jadi ringan. Ayat itu hanya menjamin satu hal, yaitu kita tidak berjalan sendirian di sana.

Untuk yang sedang berusaha mengatur segala hal sendirian, renungan tentang berserah kepada Tuhan jadi teman baca yang pas. Keduanya bicara soal rasa aman yang tidak bergantung pada kendali penuh di tangan kita.

Malam ini mazmur tua itu masih bisa jadi percakapan singkat dengan Sang Gembala. Ambil satu kalimatnya saja. Takkan kekurangan aku. Ucapkan pelan-pelan sampai kalimat itu turun dari kepala ke hati, lalu beristirahatlah. Padang hijau dan lembah sama-sama masuk daftar rute-Nya, dan kita menempuhnya bersama Dia.

Referensi

1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI), kutipan ayat: Mazmur 23:1-2, 23:4, 23:6; Yohanes 10:11-12. Verifikasi teks melalui YouVersion TB (Mazmur 23:1-6) dan YouVersion TB (Yohanes 10:11).
2. W. Phillip Keller, A Shepherd Looks at Psalm 23, Zondervan, pengamatan penggembalaan domba (padang, air, lembah) dari pengalaman penulis sebagai peternak domba.
3. Makna kata Ibrani radaph (mengejar/pursue) pada Mazmur 23:6, lihat Bible Hub.
4. Gambar: "Flock of Sheep Grazing in a Pasture on a Mountain Slope", foto oleh Im_malikbasit via Pexels, lisensi Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...