Langsung ke konten utama

Remaja dan Rasa Malu Mengaku Kristen di Sekolah

Remaja membaca Alkitab

Adegan ini berulang di banyak sekolah dengan variasi kecil. Teman sekelas bertanya soal rencana akhir pekan. Jawaban futsal dan nongkrong keluar dengan suara normal. Begitu sampai pada kebaktian pemuda, nada bicara turun, lalu muncul kalimat penyelamat, "ada acara keluarga." Padahal yang ditunda itu cuma ibadah rutin, kegiatan yang sebenarnya ia sukai.

Pola ini mudah ditemui, baik di sekolah maupun kampus. Tak seorang pun guru melarang siswa membawa Alkitab. Tak seorang pun teman menghukum kawan karena rajin ke gereja. Tekanan yang bekerja justru lebih halus. Banyak remaja menghitung cepat di kepala, label anak gereja kurang menjual, lalu acara rohani mereka bungkus dengan kata lain. Sebagian menolak menyebutnya gengsi dan memilih kata privasi.

Saya memilih jujur dari awal. Menurut saya, menyembunyikan semuanya di balik kata privasi rasanya seperti pelarian rapi. Setiap orang memang berhak menjaga hal pribadinya, dan iman seseorang bukan milik umum. Tetapi kalau kita rela mengubah satu kata, kebaktian jadi "acara keluarga", demi menjaga penilaian teman, yang sedang kita rawat bukan privasi. Citra itu namanya.

Dua Orang yang Lebih Dulu Disuruh Diam

Bandingkan saja dengan Petrus dan Yohanes. Keduanya baru saja menyembuhkan orang lumpuh, lalu orang-orang kuil menangkap mereka dan menyeretnya ke hadapan Mahkamah Tinggi Yahudi. Ancamannya jelas bunyinya, "supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus" (Kisah Para Rasul 4:18). Tekanan yang mereka hadapi bukan sekadar tatapan sinis teman sekelas, melainkan badan resmi yang berkuasa menentukan nasib hidup seseorang.

Jawaban keduanya masuk daftar kalimat paling berani di Alkitab. "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar" (Kisah Para Rasul 4:19-20). Keberanian ini dimiliki dua orang yang beberapa minggu sebelumnya justru kabur meninggalkan Yesus ketika tentara datang menangkap-Nya. Sesuatu berubah di dalam diri mereka, dan perubahan itu terbukti lebih besar daripada rasa takut pada mahkamah.

Injil di Kota yang Bangga pada Kekuasaan

Paulus menulis suratnya kepada jemaat di Roma dari posisi yang tak kalah sulit. Roma adalah pusat kekaisaran. Kekuasaannya bertumpu pada pasukan, jalan raya, dan kuil-kuil berhala. Pesan Paulus berpusat pada pemimpin yang berakhir hidupnya di kayu salib, hukuman paling memalukan zamannya. Di kota macam itu, mengaku percaya pada juru selamat semacam itu terkesan bodoh.

Justru dalam suasana beginilah Paulus menulis, "Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani" (Roma 1:16). Ia tidak minta maaf atas isi pesannya. Keyakinan itu berdiri di atas pemahaman soal apa Injil itu, yakni kuasa Allah, dan bukan pandangan hidup pribadi yang pantas kita simpan dari ejekan orang.

Dari sini saya menarik kesimpulan pribadi. Rasa malu mengaku Kristen jarang berakar pada teologi. Akarnya lebih sering ada di perkiraan nilai, misalnya anggapan bahwa iman itu membosankan atau kampungan. Semakin kita lupa isi Injil sebenarnya apa, semakin berat rasa malunya. Orang yang makin mengenal siapa Yesus biasanya makin sulit mengucapkan kata malu.

Yesus sendiri tidak memperingankan hal ini. Ia berkata, "Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus" (Markus 8:38). Ayat ini berat, dan saya tidak berniat memperhalus bunyinya. Satu catatan penting, beberapa ayat sebelumnya Petrus baru saja menegur Yesus yang mau berjalan menuju penderitaan dan salib. Jadi konteks peringatan ini bukan soal sopan santun, melainkan soal pilihan menyangkal atau tidak menyangkal.

Sisi menghiburnya ada di janji yang berpasangan dengan peringatan itu. "Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 10:32). Yesus tidak menunggu pengikut sempurna. Ia memulihkan Petrus yang menyangkal-Nya tiga kali, dan orang itu kelak memberitakan Injil di depan orang banyak. Standarnya bukan keteguhan tanpa goyah. Hati yang mau pulang sudah cukup bagi-Nya.

Bentuk Mengaku yang Ukurannya Masuk Akal

Mengaku iman di usia sekolah tidak wajib berarti berdiri di tengah kelas dan berpidato lima menit. Bentuknya sering jauh lebih kecil. Menyebut kebaktian sebagai kebaktian, tanpa bungkus cadangan. Tidak ikut menyambut lelucon yang merendahkan iman. Menjawab dengan jujur saat ada yang bertanya, termasuk mengatakan "saya belum tahu" kalau memang belum tahu.

Paulus punya nasihat khusus untuk orang muda yang bekerja bersamanya. "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu" (1 Timotius 4:12). Perintahnya bukan "tunggu kamu dewasa dulu". Paulus langsung memberinya tanggung jawab nyata. Usia bukan izin untuk diam.

Satu hal lagi yang menurut saya perlu diakui dengan jujur. Kadang kita, orang-orang dewasa di gereja, ikut membuat iman terasa canggung untuk diceritakan. Kemasannya kaku, pertanyaan remaja kita perlakukan sebagai tanda bermasalah, dan diskusi berhenti sebelum sempat jalan. Remaja yang tengah bergumul ingin didengar dulu, bukan langsung menerima nasihat. Tulisan soal remaja Kristen dan keraguan membahas musim itu lebih dalam. Untuk medan uji harian yang nyaris sama beratnya, yaitu menjaga mata dan hati di tengah layar, ada catatan soal remaja Kristen dan media sosial.

Minggu depan pertanyaan itu kemungkinan besar datang lagi di sela jam pelajaran. Tidak perlu pidato. Satu kalimat jujur saja, "nanti malam saya ada kebaktian pemuda", sudah cukup untuk melatih hati yang tidak bersembunyi. Siapa tahu teman di kursi sebelah justru sedang menunggu ada yang bicara lebih dulu.

Referensi

1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI), kutipan ayat: Kisah Para Rasul 4:18-20; Roma 1:16; Markus 8:38; Matius 10:32; 1 Timotius 4:12. Verifikasi teks melalui Alkitab SABDA, YouVersion TB (Markus 8:38), dan YouVersion TB (1 Timotius 4:12).
2. Gambar: "A teenager reading the Bible", foto oleh SharonDawn via Wikimedia Commons, lisensi Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 (CC BY-SA 4.0).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...