Rumah nenek di Nias menjadi sunyi begitu matahari tenggelam, dan di sanalah Fellisia Ilona Zamasi melewati sebagian masa kanak-kanaknya sementara orang tuanya merantau mencari nafkah. Orang-orang melihatnya sebagai anak sekolah minggu yang tenang dan rajin. Nyaris tak ada yang tahu bahwa setiap kali suasana gelap, pikiran anak dua belas tahun ini sibuk membentuk bayangan-bayangan yang membuat jantungnya berdebar.
"Benar kak, dulu aku takut dan malu sekali," jawab Fellisia ketika ditanya apakah ia memang dulu anak yang penakut. Kesaksian ini dimuat Jawaban.com pada 24 Agustus 2026 dalam liputan pelayanan anak Superbook. Rasa minder ia rasakan begitu dekat sampai-sampai dianggapnya bagian dari dirinya. "Emang kayak gitu sifatku waktu itu," tambahnya jujur.
Ketakutannya hadir dalam bentuk-bentuk sederhana. Rumah yang ditinggal orang tua. Ruangan tanpa cahaya. "Aku takutnya setan atau ada apa yang mungkin terjadi," ceritanya. Ia tidak menangis ataupun berteriak. Yang ia alami lebih diam, yaitu hati yang tak kunjung tenang. Bayangan itu lahir dari kepala sendiri dan tumbuh makin besar saat ia memikirkannya terus.
Layar animasi yang membawa kisah Daud mendekat
Jalan keluar datang dari arah yang mungkin tak terbayangkan banyak orang dewasa. Superbook, seri animasi Alkitab pelayanan CBN Indonesia, menghidupkan kisah-kisah Kitab Suci untuk anak-anak. Lewat salah satu episodenya, Fellisia menyaksikan Daud si gembala muda berdiri di hadapan Goliat. Tubuh bocah itu kecil. Perlengkapan miliknya cuma umban dan lima batu licin dari sungai. Kemenangannya tidak bersandar pada otot. Ia maju atas nama Allah yang hidup, yang dicemooh barisan Filistin itu.
Hal yang paling menguatkan Fellisia justru alasan Daud berani maju. Ketika Saul ragu membiarkan anak termuda Yishai turun ke lapangan perang, Daud menjawab dengan kisah masa lalunya. Singa dan beruang pernah menerkam domba milik ayahnya, dan TUHAN melepaskannya dari cakar keduanya. Kalau Tuhan itu setia kemarin, Dia pun setia hari ini. Begitulah inti jawaban Daud ketika ditanya alasan keberaniannya (1 Samuel 17:34-37, TB).
Prinsip itu jatuh ke hati anak itu. "Aku itu kemarin cuma hatiku aja yang takut-takutin aku, makanya aku jadi takut. Tapi sekarang enggak lagi lah, karena Tuhan bersamaku," kata Fellisia. Bahasa sederhananya justru tajam. Musuh yang paling suka menakuti kita ternyata tinggal di dalam dada sendiri.
Bukan roh ketakutan
Ada satu ayat yang layak diletakkan di samping kesaksian ini. Paulus menulis kepada Timotius, gembala muda di Efesus, "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban" (2 Timotius 1:7, TB). Ketakutan bukan identitas yang Allah berikan kepada anak-anak-Nya. Roh dari Dia menghasilkan keberanian yang tertata, bukan nekat yang membabi buta.
Bertahun-tahun setelah masa gembalanya, Daud menuliskan pengakuan yang senada. "TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?" (Mazmur 27:1, TB). Pertanyaan ganda itu bukan penolakan atas realita bahaya. Ia pernah menghadapi singa sungguhan dan raksasa sungguhan. Pernyataannya lugas, selama TUHAN menjadi terang serta bentengnya, ancaman mana pun tidak berhak menempati hatinya.
Orang tua tidak melihat seluruh cerita
Banyak orang dewasa membaca kisah ini dan langsung teringat anak-anak mereka. Sekolah minggu, ibadah keluarga, ataupun video animasi bisa tampak rutinitas biasa. Ternyata di dalamnya firman bekerja diam-diam. Fellisia tidak mendapat mukjizat dramatis. Pengalamannya lebih sederhana sekaligus lebih mendasar, yaitu hati yang diajarkan memilih percaya.
Kalau Bapak/Ibu punya anak yang takut tidur sendirian atau minder di sekolah, jangan buru-buru memberi label manja ataupun lemah. Duduki, dengarkan, lalu bantu ia menamai ketakutannya. Ceritakan kembali kisah Daud dengan pertanyaan sederhana, misalnya batu apa yang dipungut Daud dan siapa yang sesungguhnya berperang. Doakan anak secara spesifik malam itu juga. Renungan tentang kekuatan baru bagi yang lelah bisa menjadi teman bacaan orang tua, sementara kisah remaja lain yang belajar berani mengaku Kristen di sekolah cocok untuk anak yang sudah remaja.
Perubahan Fellisia tidak berhenti sebagai cerita manis. "Tuhan Yesus menolong Fellisia, merubahkan hatiku jadi pemberani," ucapnya. Sumber aslinya mencatat bahwa anak ini kini bertumbuh menjadi lebih berani, termasuk saat ia sendirian ataupun berada di tempat gelap. Goliat-goliat kecilnya belum tentu lenyap dalam semalam. Bedanya, ia kini tahu nama Tuhan yang berperang untuknya.
Tuhan Yesus, terima kasih untuk kesaksian Fellisia. Kami doakan setiap anak yang malam ini ketakutan, sentuhlah hati mereka seperti Engkau menyentuh hatinya. Amin.
Ayat kunci kesaksian ini adalah 2 Timotius 1:7, didampingi 1 Samuel 17:34-37 dan Mazmur 27:1.
Referensi
- Sumber kesaksian: Jawaban.com, "Tumbuh Minder dan Penuh Ketakutan, Fellisia Temukan Kekuatan dalam Tuhan Lewat Superbook", 24 Agustus 2026. Kutipan-kutipan Fellisia Ilona Zamasi diparafrasekan setia pada artikel asli.
- Alkitab Terjemahan Baru (TB), LAI: 2 Timotius 1:7; 1 Samuel 17:34-40; Mazmur 27:1. Teks TB diverifikasi melalui Alkitab SABDA dan YouVersion Bible App.
- Foto utama oleh Natalie Bond via Pexels, lisensi Pexels.
Komentar
Posting Komentar