Langsung ke konten utama

Iman kepada Tritunggal: Satu Allah, Tiga Pribadi

Cahaya matahari dramatis menembus celah awan badai

Tritunggal barangkali doktrin Kristen yang paling sering membuat orang bingung. Katolik, Protestan, Pantekosta, dan aliran besar lainnya memegangnya bersama-sama, meski jarang ada yang berani menjelaskannya secara utuh. Hampir semua ibadah pembaptisan memakai kalimat dengan bentuk sama, dan kalimat itu keluar dari mulut Yesus sendiri sesaat sebelum Ia naik ke surga.

Tak satu pun halaman Alkitab memuat kata "Tritunggal". Alkitab justru merekam kenyataannya, lalu gereja perdana mencetuskan istilah itu belakangan. Setelah bangkit, Yesus memberi perintah besar kepada murid-murid-Nya, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Matius 28:19). Satu kata "nama" untuk tiga pribadi yang berdiri berdampingan. Bukan "nama-nama", melainkan satu nama tunggal untuk ketiganya, tanpa jenjang.

Soal jumlah Allah, Alkitab juga tak goyah. Ulangan 6:4 berbunyi, "Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!" Umat Israel mengucapkan pengakuan itu, Syema namanya, dari generasi ke generasi. Ruang bagi dewa kedua atau ketiga tidak pernah ada. Ketika murid-murid Yesus, semuanya lahir dari lingkungan yang keras kepala soal satu Allah itu, mengaku Yesus sebagai Tuhan, mereka sadar sedang berhadapan dengan kenyataan yang tak muat lagi dalam rumus lama mereka.

Yesus sendiri tidak menepis pengakuan tersebut. Ia berkata, "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30). Orang yang mendengarnya langsung memungut batu, sebab mereka paham isi klaim kalimat itu. Menutup suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus berucap, "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian" (2 Korintus 13:13). Tiga pribadi berdiri sejajar dalam satu napas berkat, dan berkat ini masih hidup dalam liturgi banyak gereja sampai hari ini.

Ketiganya pun tidak melebur menjadi satu tokoh. Yesus berdoa kepada Bapa, layaknya Anak yang berbicara kepada ayah-Nya, lalu Ia menjanjikan Penolong yang lain, yaitu Roh Kudus, janji yang genap pada hari Pentakosta. Gereja perdana merumuskan semua ini dengan hati-hati lewat surat-surat rasul, kemudian mewarisinya kepada kita.

Kenapa Analogi Air Selalu Gagal

Orang suka meminjam gambar sederhana untuk menjelaskan ajaran ini. Air misalnya, zat yang sama namun bisa menjadi es ketika beku dan uap ketika mendidih. Ada pula telur beserta kulit dan kuningnya.

Gambar-gambar itu membantu sampai titik tertentu, lalu jebol pada tempat yang sama. Air yang berganti wujud justru menggambarkan ajaran lama bernama modalisme, yang menyatakan Allah hanya satu pribadi dengan tiga mode penampilan. Telur jatuh ke jebakan sebelahnya karena menampilkan Allah seperti gabungan tiga bagian, padahal tiap pribadi-Nya utuh sepenuhnya sebagai Allah. Menurut saya lebih jujur mengaku dari awal bahwa Tritunggal melebihi semua perbandingan manusia. Pengakuan itu bukan tanda iman gagal, melainkan tanda kita sedang berhadapan dengan Allah yang nyata, bukan gagasan rekayasa manusia.

Apa Untungnya bagi Hidup Sehari-hari?

Doktrin sering kedengaran seperti urusan seminar teologi saja. Bentuk Allah yang kita sembah ternyata ikut menentukan cara kita berdoa dan cara kita mencintai orang lain. Yohanes menulis, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). Kasih selalu butuh lawan bicara; ia mengalir dari pemberi menuju penerima. Kalau Allah hanya pribadi soliter, Dia baru sanggup mengasihi setelah ada ciptaan-Nya. Dalam Tritunggal, kasih sudah mengalir penuh antara ketiga pribadi itu jauh sebelum dunia ada. Cinta kita kepada sesama jadi limpahan dari kasih yang telah berlangsung, dan bukan usaha Allah mencari teman.

Gereja tidak merumuskan semua ini dalam semalam. Perdebatannya panjang dan kadang panas. Dari Iskandariah, seorang guru bernama Arius mengajarkan bahwa Anak adalah ciptaan pertama, makhluk agung yang dahulu belum ada. Persoalan itu mengguncang kekaisaran sampai Konstantinus memanggil konsili gereja ke Nikea pada tahun 325. Rumusannya tegas. Nikea menyebut Yesus sehakikat dengan Bapa, bukan makhluk ciptaan. Pengakuan iman Nikea yang sebagian gereja baca sampai sekarang lahir dari forum itu.

Buat kehidupan sehari-hari, iman kepada Tritunggal memberi arah pada doa. Kita berdoa kepada Bapa, atas nama Anak, bersama Roh yang menolong kelemahan kita. Blog ini sudah punya panduan membangun doa keluarga yang bisa langsung Anda praktikkan malam ini juga. Kita tidak sedang berbicara kepada patung atau kekuatan gaib tanpa pribadi. Lawan bicara kita adalah Allah yang hidup dalam hubungan pribadi sejak sebelum segala zaman.

Kalau Anda masih membangun fondasi, tulisan tentang apa itu iman menurut Alkitab enak jadi pintu masuk lebih dulu. Adapun Tritunggal, saya akui tidak pernah selesai saya pahami sampai ke dasarnya, dan rasanya memang begitu. Otak manusia punya plafon. Titik itu justru tempat iman bekerja. Mata tetap jujur pada pertanyaan-pertanyaan yang menggantung, hati memilih percaya bahwa Allah yang berbicara dalam Kitab Suci tidak berbohong tentang siapa Dia. Satu Allah yang hidup, Bapa, Anak, dan Roh Kudus, tetap objek penyembahan gereja selama dua ribu tahun, dan belum ada kabar pemanggilan rapat untuk mengubahnya.

Referensi

1. Alkitab Terjemahan Baru (LAI), ayat yang dikutip: Matius 28:19; Ulangan 6:4; Yohanes 10:30; 1 Yohanes 4:8; 2 Korintus 13:13. Verifikasi teks melalui Alkitab SABDA dan YouVersion TB.
2. Wikipedia Indonesia, "Konsili Nikea Pertama": baca artikelnya.
3. Gambar: "Dramatic Sun Rays Breaking Through Stormy Clouds", foto oleh Maximilian Orlowsky via Pexels, lisensi bebas Pexels.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...