Tanyakan kepada anak-anak sekolah minggu apa itu gereja. Jawabannya biasanya satu, rumah Tuhan. Gedung dengan menara dan salib di puncaknya, deretan bangku kayu, papan nama besar di muka pintu. Orang dewasa menjawab dengan cara serupa, cuma bahasanya lebih panjang. Persoalan muncul saat kita ingat bahwa gedung boleh berganti pemilik, boleh dibongkar, bahkan habis terbakar. Kalau temboknya runtuh dan papan namanya turun, apakah gereja ikut lenyap bersamanya?
Alkitab memberi jawaban dari arah lain, dan petunjuknya ada pada sebuah kata Yunani.
Ekklesia, nama untuk orang-orang
Perjanjian Baru memakai kata ekklesia untuk gereja. Preposisi ek berarti keluar, kata kerja kaleo berarti memanggil. Gabungan keduanya bermakna jemaat, sekumpulan orang yang dipanggil keluar (SarapanPagi Biblika). Situs tanya jawab teologi GotQuestions Indonesia merumuskannya hampir sama, perkumpulan atau jemaat yang dipanggil keluar dan dikhususkan. Dari mana pun kita memulai, kata itu menunjuk manusia. Tembok dan menara tidak masuk definisinya.
Istilah itu keluar dari mulut Yesus sendiri. Setelah Petrus mengaku bahwa Guru-Nya adalah Mesias, Anak Allah yang hidup, Yesus menjawab, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Matius 16:18, TB). Kristus menyebutnya jemaat-Ku, milik-Nya sendiri, bukan proyek komunitas yang berdiri di atas popularitas seorang pemimpin. Janji yang menyertainya sama tegas, alam maut tidak akan menguasainya.
Orang berbeda pendapat soal makna “batu karang” dalam ayat itu selama berabad-abad antar tradisi, dan artikel ini tidak perlu ikut memihak. Yang jelas, subjek kalimatnya adalah Kristus sendiri. Organisasi buatan manusia bisa gulung tikar. Jemaat-Nya sendiri mendapat jaminan untuk tetap berdiri sampai akhir zaman.
Sang Kepala dan tubuh-Nya
Paulus memakai gambar lain, tubuh. “Dan segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu” (Efesus 1:22-23, TB). Kepada jemaat di Kolose ia mengulanginya lebih ringkas, “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat” (Kolose 1:18, TB).
Arah gerak tubuh mengikuti kepala. Begitu pula gereja. Saat persekutuan berjalan mengikuti selera orang-orang paling berpengaruh di dalamnya, urutan sudah kacau, Sang Kepala tinggal jadi pajangan. Gambar tubuh juga bicara soal ketergantungan bersama. Bagian sekecil apa pun tetap berarti, dan tidak satu pun anggota sanggup hidup sendiri. “Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1 Korintus 12:27, TB). Paulus menambahkan catatan yang senada di surat kepada jemaat Roma, banyaknya kita tidak memecah tubuh itu, malah menjadikan kita anggota satu sama lain (Roma 12:5, TB).
Petrus memberi warna lain pada identitas ini. Kepada umat yang hidup berpencar serta sering diremehkan, ia menulis, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib” (1 Petrus 2:9, TB). Panggilan itulah titik tolak identitas mereka. Status sosial maupun kelengkapan gedung tidak ikut menentukan.
Wujudnya paling jelas saat berkumpul
Kalau gereja kumpulan orang, wujudnya paling gampang kita temui saat mereka berkumpul. Kisah Para Rasul mencatat kebiasaan jemaat mula-mula, “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kisah Para Rasul 2:42, TB). Semua kegiatannya sederhana. Belajar bersama, berbagi hidup, makan roti, berdoa. Tidak ada panggung megah maupun sorotan. Justru di situlah kita paling jelas melihat wujudnya.
Zaman sekarang orang bisa mengikuti ibadah dari layar ponsel. Orang sakit ataupun yang jauh dari gereja mana pun tentu bersyukur atas kemudahan ini. Meski begitu, saya ragu layar sanggup menggantikan pertemuan muka demi muka. Sebut saja sebuah tubuh yang tidak pernah berkumpul, aneh juga bunyinya. Alkitab sudah memberi peringatan soal ini sejak lama, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibrani 10:25, TB).
Mungkin Anda sedang berhenti berkumpul, kecewa pada orang-orang di gereja, atau sekadar lelah. Kecewa itu nyata dan wajar. Memutuskan hubungan dengan jemaat beda urgensinya dengan beristirahat sejenak dari jadwal pelayanan. Pulihkan pelan-pelan, mulai dari altar doa di rumah lewat artikel membangun doa keluarga, lalu cari satu persekutuan untuk hadir lagi. Kalau dasar iman sedang goyah, bacaan tentang apa itu iman menurut Alkitab bisa membantu merapikannya.
Kembali ke gedung yang terbakar di awal tadi. Orang-orangnya keluar membawa apa saja yang kebetulan berada dalam genggaman, dan gereja itu pindah bersama mereka. Minggu berikutnya mereka berkumpul lagi, entah di aula sekolah, entah di ruang tamu sempit. Tembok boleh roboh. Gereja tetap berdiri, sebab jaminannya bukan pada beton, melainkan pada janji Sang Kepala.
Ayat kunci artikel ini adalah Matius 16:18, bersama Efesus 1:22-23 dan Ibrani 10:25.
Referensi
- Alkitab Terjemahan Baru (TB), LAI: Matius 16:18; Kisah Para Rasul 2:42; Efesus 1:22-23; Kolose 1:18; Roma 12:5; 1 Korintus 12:27; 1 Petrus 2:9; Ibrani 10:25. Teks diverifikasi melalui Alkitab SABDA dan YouVersion Bible App.
- Definisi kata ekklesia: GotQuestions Indonesia serta SarapanPagi Biblika Ministry, “Gereja: Arti dan Perannya”.
- Foto utama oleh RDNE Stock project via Pexels, lisensi Pexels.
Komentar
Posting Komentar