Langsung ke konten utama

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita.

Api kecil menyala di antara batu kaca, melambangkan lidah yang kecil tetapi berdaya besar

"Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5)

Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun.

Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya

Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya.

"Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya." (Yakobus 1:26)

Kalimat itu menohok. Kita bisa hadir di setiap kebaktian, ikut semua program gereja, lalu pulang dan membombardir anak dengan kata-kata menyakitkan. Menurut Yakobus, ibadah macam itu sia-sia. Kebaktian kita tetap bernilai di hadapan Tuhan, tetapi Tuhan juga menghitung perkataan kita.

Salomo menarasikannya lebih tajam lagi. "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21) Lidahlah penguasanya, bukan senjata atau kekayaan. Alat kecil ini kita pakai setiap hari, entah untuk menyapa penjual sayur atau menolak tawaran sales.

Kita sering merasa perlu mengeluarkan kalimat pedas supaya orang sadar. Amsal mencatat hasilnya dengan dingin. "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah." (Amsal 15:1) Saksikan saja di rumah mana pun. Suami istri yang saling melempar sarkasme sampai larut jarang menyelesaikan apa pun. Penyelesaiannya biasanya satu pihak memilih bicara pelan lebih dulu, atau menunda bicara sampai kepala dingin.

Perbandingan Salomo yang lain bahkan lebih mirip kejadian dapur. "Ada orang yang lancang mulutnya seperti tikaman pedang, tetapi lidah orang bijak mendatangkan kesembuhan." (Amsal 12:18) Ucapan lancang menusuk lalu pergi. Lidah bijak menutup lukanya. Hampir semua orang pernah mencicipi keduanya di rumah masing-masing.

Komentar kecil, luka panjang

Bagian tersulit dari urusan lidah bukanlah saat kita marah besar. Ketika marah besar kita sadar sedang berbahaya, sehingga masih bisa menahan diri. Tersulit adalah percakapan sehari-hari yang terasa lumrah, padahal menusuk perlahan.

Coba ingat ucapan yang menempel di kepala Anda bertahun-tahun. Biasanya bukan makian keras di depan umum, melainkan komentar kecil dari orang terdekat. "Kamu memang begitu dari dulu." Atau, "Namamu juga tidak seberapa." Kalimat macam itu tidak pernah masuk berita, namun diam-diam mengubah cara seseorang menilai dirinya.

Yesus memperingatkan bahwa tidak satu pun lolos dari pencatatan ini. "Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman." (Matius 12:36) Kata sia-sia di sini bukan dosa besar mencolok. Justru perkataan asal keluar karena kita merasa bercanda atau sedang tidak enak hati.

Niat tidak cukup, ini urusan kebiasaan

Nasihat soal lidah sering berhenti pada imbauan untuk bicara lebih sedikit, dan di situ masalahnya tidak selesai. Lidah tidak bisa kita jinakkan langsung. Yang bisa kita latih adalah kebiasaan-kebiasaan kecil di sekelilingnya.

Pertama, beri jeda sebelum menjawab kalimat yang panas. Yakobus menyarankan hal serupa, "hendaklah kamu cepat untuk mendengar dan lambat untuk berbicara" (Yakobus 1:19). Jeda tiga detik saja cukup membedakan respons dan reaksi. Dalam percakapan lewat ponsel, jeda itu makin mudah, cukup taruh ponsel sebentar sebelum membalas.

Kedua, tahan jempol saat hati sedang panas. Pesan singkat berisi kejengkelan punya daya tahan aneh. Ia menetap di layar lawan bicara dan siap dibuka ulang kapan saja. Sebelum menekan tombol kirim, tulis ulang dulu balasan itu. Versi kedua biasanya lebih pendek dan lebih tenang daripada versi pertama.

Satu lagi, ganti kebiasaan mengkritik dengan kebiasaan menyebut hal baik. Paulus memberi arah konkret, "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia." (Efesus 4:29) Frasa di mana perlu itu penting. Perkataan yang membangun bukan pujian rutin, melainkan kata yang muncul di saat orang membutuhkannya.

Dari mana air itu mengalir

Di titik ini biasanya muncul keberatan yang wajar. Kalau lidah seburuk itu, apakah kita harus diam seumur hidup? Tidak. Yakobus tidak menyuruh kita menutup mulut selamanya. Dia hanya menolak kemunafikan. "Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." (Yakobus 3:9-10)

Mata air yang sama tidak mengeluarkan air asin dan air tawar bersamaan, lanjutnya. Perkaranya memang tidak berhenti di mulut. Saat menegur orang Farisi, Yesus berkata bahwa mulut hanya mengeluarkan apa yang dipenuhi hati (Matius 12:34). Perkataan pahit berulang biasanya menandakan luka lama di dalam, bisa berupa kekecewaan, bisa berupa kelelahan yang tak pernah diurus.

Menutup pancuran mampat hanya memindahkan tekanan ke pipa lain. Rawat sumbernya, alirannya ikut berubah.

Saya sendiri masih belajar memilih kata, terutama saat lelah. Pegangan saya sederhana. Sebelum bicara tentang orang lain, saya bertanya dalam hati, apakah ini benar, perlu, dan menolong. Kalau jawabannya cuma satu dari tiga, kalimat itu lebih baik ditunda.

Besok pagi, sebelum ponsel menyala dan hari bermula, mungkin ada baiknya kita mohon satu hal saja. Tuhan, tolong jaga mulut saya hari ini. Doa pendek itu bukan sulap. Ia hanya mengingatkan bahwa Tuhan mencatat setiap kalimat kita, dan bahwa orang di seberang kita mungkin sedang memikul beban yang tak kita lihat.

Referensi

Ayat-ayat dikutip dari Alkitab Terjemahan Baru (TB), Lembaga Alkitab Indonesia. Kutipan lengkap dapat dibaca di Yakobus 3:5, Yakobus 1:26, Amsal 18:21, Amsal 15:1, Amsal 12:18, Matius 12:36, Efesus 4:29, Yakobus 3:9-10, dan Yakobus 3:9 versi alkitab.mobi, semuanya di YouVersion dan Alkitab SABDA.

Gambar utama: foto api kecil di antara batu kaca oleh Pexels.

Artikel terkait di blog ini: Mengendalikan Amarah Menurut Alkitab, Cara Bicara saat Rumah Sedang Panas, dan Cara Mengampuni Menurut Alkitab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...