Dari semua perkara dalam Alkitab, amarah mungkin mendapat perlakuan paling jujur. Kitab ini tidak meminta kita berpura-pura kebal ledakan. Api itu memang akan naik; Alkitab justru mengajari cara mengurusnya sebelum nyala ini menjilat orang-orang yang kita sayangi.
Dalam suratnya kepada jemaat Efesus, Paulus menulis, "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis" (Efesus 4:26-27). Di sini rasul memperlakukan marah sebagai gejolak nyata, sesuatu yang memang bisa menimpa siapa pun termasuk orang percaya. Larangannya menyasar hal lain, yaitu membiarkannya bermalam. Bara itu, kalau ikut naik ke tempat tidur, akan menyala lagi besok pagi dengan bahan bakar lebih banyak.
Bahasa Paulus rupanya berakar pada Mazmur 4:4, "Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam." Mazmur menunjuk tempat tidur sebagai ruang merenung, sementara rasul meminta amarah selesai sebelum kita sampai ke sana. Peringatan ayat 27 juga serius. Kemarahan bermalam membuka pintu bagi sang pencaci. Perselisihan antarsaudara yang berkecamuk berminggu-minggu adalah contoh klasiknya. Iblis tidak perlu menciptakan konflik baru; ia cukup memberi pupuk pada yang lama.
Lambat untuk marah bisa kita latih
Yakobus menulis kepada jemaat yang sedang bertengkar, dan nasihatnya mirip urutan latihan fisik. "Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata" (Yakobus 1:19). Baris sesudahnya memberi perintah yang paling sulit, yakni lambat untuk marah, sebab "amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah" (ay. 20). Telinga bekerja lebih dulu, mulut belakangan, amarah paling akhir. Orang yang membalik urutan ini, bicara dulu dan mendengar kemudian, biasanya menyesal pada sore harinya.
Alasannya sederhana. Keputusan yang lahir saat darah panas jarang adil. Balasan pesan yang kita ketik dalam tiga detik biasanya memuat kata-kata yang tak akan kita ucapkan tatap muka. Bayangkan seorang ayah membaca chat dari anaknya. Nada pesan itu sebenarnya netral; karena hari kerjanya jelek, telinga batinnya membacanya dengan nada tajam. Satu balasan pedas, dan hubungan retak gara-gara isi yang sebenarnya remeh.
Melatih kelambatan ini tidak butuh teknik rumit. Tunda balasan selama mungkin, walau hanya sepuluh menit. Saat marah memuncak, jangan kirim apa pun. Tulis dulu di catatan ponsel; biarkan kalimat-kalimat panas mendingin di sana tanpa alamat tujuan. Keluar dari ruangan beberapa saat juga sah. Berjalan ke dapur minum air saja memberi tubuh waktu menurunkan suhu sebelum mulut bekerja.
Jawaban lembut mengubah suhu pertengkaran
Amsal 15:1 menyoroti sisi lain dari pertarungan yang sama. "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah." Setiap sengketa punya suhu, dan pilihan kata kita menentukan arah panas itu. Menaikkan volume suara lawan bicara bukan tugas kita. Beberapa kalimat pembuka ampuh menurunkan tekanan tanpa menyerahkan kebenaran, misalnya "mungkin saya salah dengar, coba jelaskan lagi maksudmu" atau "maaf, aku tidak enak hati, bisakah kita bicara baik-baik".
Satu ayat lagi layak kita tempel di kaca spion. "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota" (Amsal 16:32). Alkitab membalik standar kepahlawanan. Gelar paling mulia jatuh bukan pada penakluk kota, melainkan pada orang yang kuasa menahan diri saat semua orang menunggunya meledak. Kemenangan semacam ini tak tampak di feed; tak ada video viral bagi orang yang memilih diam.
Berdamai dulu, ibadah boleh menunggu
Yesus menambahkan bobot yang jarang kita pikirkan. Dalam Matius 5:23-24, seseorang sedang mempersembahkan persembahan di atas mezbah ketika teringat bahwa saudaranya simpan hati kepadanya. Perintah-Nya jelas. Tinggalkan persembahan itu, pergilah berdamai dahulu, baru kembali. Rekonsiliasi mendahului ritual. Persembahan boleh menunggu di depan mezbah; permusuhan tidak boleh menunggu sampai esok.
Perselisihan tidak selalu selesai dalam satu percakapan; sebagian luka butuh proses panjang sebelum lepas. Untuk tahapan melepaskan dendam ketika hati masih menyimpan sakit, tulisan tentang cara mengampuni menurut Alkitab membahasnya lebih rinci.
Malam ini, sebelum matahari benar-benar hilang, mungkin ada satu nama muncul saat kita berdoa. Nama itu bisa jadi alamat pekerjaan rumah yang belum tuntas. Kirim pesannya. Datang. Telepon. Kalau hati masih keras untuk melangkah, ingatlah bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah ketinggalan fajar; setiap pagi Ia menyodorkan yang baru, sebagaimana kita renungkan dalam tulisan tentang kasih setia Tuhan yang baru tiap pagi.
Ayat kunci
"Janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu." (Efesus 4:26)
Referensi
- Alkitab Terjemahan Baru (LAI): Efesus 4:26-27; Mazmur 4:4; Yakobus 1:19-20; Amsal 15:1; Amsal 16:32; Matius 5:23-24. Verifikasi teks TB melalui Wordproject (TB, Efesus 4), Wordproject (TB, Mazmur 4), Wordproject (TB, Yakobus 1), Wordproject (TB, Amsal 15), Wordproject (TB, Amsal 16), Wordproject (TB, Matius 5), dan YouVersion Bible App (TB).
- Artikel Boleh Marah, Tetapi Jangan Berbuat Dosa (Suara Kristen) menghubungkan Efesus 4:26 dengan Mazmur 4:4.
- Foto utama: Man Sitting on Bench oleh Tomé Louro, Pexels, lisensi Pexels.
Komentar
Posting Komentar