Langsung ke konten utama

Kesaksian Rifka: Dari Dunia Malam ke Hidup Baru dalam Kristus

Seekor rajawali kepala botak terbang melebarkan sayap di tengah langit

Solusi TV baru saja menyiarkan episode Solusi Talk dengan judul panjang dan jujur, "Bertahun-tahun Hidup di Dunia Malam, Aku Akhirnya Merasa Sudah Tidak Sanggup". Tokohnya perempuan muda. Ayahnya pergi saat ia kecil, ia pun terjerumus ke kehidupan malam Jakarta, hamil di luar nikah, lalu rela melepas anaknya supaya anak itu mendapat hidup lebih layak. Jawaban.com menuliskan namanya Rifka, sedangkan keterangan tayangan Solusi TV menyebut Ribka Rahayu. Di tulisan ini saya pakai nama Rifka saja.

Luka Lama dari Rumah Sendiri

Kesaksian ini tidak dimulai di dunia malam, melainkan di sebuah rumah yang sepi. Ayah pergi ketika ia masih balita, dan ibunya bekerja keras mencari nafkah. Rifka ikut membantu keluarga sampai larut malam, sering jadi sasaran amarah, dan merasa orang serumah tak pernah menerima dirinya apa adanya. Luka semacam ini jarang orang ceritakan secara terbuka. Ia tumbuh diam-diam sampai pemiliknya dewasa.

Pindah ke Jakarta untuk sekolah tampak seperti awal baru, setidaknya begitu rasanya waktu itu. Akhirnya ia menemukan penerimaan. Sayangnya, tempatnya keliru. Lingkungan pergaulan barunya memperkenalkannya pada rokok, alkohol, dan hiburan malam. Di sana tak ada yang menghakimi masa lalunya, dan justru itu membuatnya betah. Kebebasan semacam itu perlahan menyeretnya lebih jauh dari bayangannya sendiri, sampai ia hamil di luar nikah saat masih muda.

Dalam ketakutan ia meninggalkan rumah dan menjalani kehamilan seorang diri, tanpa satu pun cerita kepada ibunya. Setelah bayi lahir, datang keputusan yang lebih menyakitkan lagi. Sebuah keluarga lain mengasuh anak itu, dan mereka bertahun-tahun mendambakan hadirnya seorang anak. Hidup Rifka sendiri kemudian berjalan lagi di jalur lama. Dunia malam, kerja sampai larut, kelelahan tanpa akhir.

Pertanyaan di Tengah Kelelahan

Suatu titik ia mulai jujur pada dirinya sendiri. "Apakah hidupku akan seperti ini terus?" Kalimat sederhana, dan bunyinya berat bagi siapa pun yang pernah berputar di lingkaran serupa. Banyak dari kita kenal rasa lelah yang tak hilang setelah tidur. Besok paginya, rasa jenuh menunggu lagi. Pertanyaan Rifka mungkin juga pernah muncul di kepala kita, hanya bentuknya sedikit beda.

Jalan keluarnya datang lewat orang, bukan lewat peristiwa dramatis. Lewat pertemuan dengan pria yang kelak menjadi suaminya, Rifka berkenalan dengan sebuah komunitas percaya. Pria itu tidak pernah memaksa. Ia mendampingi, dan Rifka perlahan-lahan mulai penasaran serta mencari sendiri tentang iman Kristen. Kasih tanpa tekanan itu lebih kuat daripada seribu nasihat.

Rajawali di Ibadah Natal 2008

Puncak kisah ini tiba pada sebuah ibadah Natal tahun 2008. Pembicara malam itu menyampaikan firman tentang rajawali yang sanggup terbang melewati badai. Sudah bertahun-tahun Rifka tidak melihat harapan. Malam itu, untuk pertama kalinya, harapan hadir kembali bagi hidupnya. Pada hari itu juga ia memutuskan menerima Yesus secara pribadi.

Gambar rajawali itu memang bukan karangan khotbah mana pun. Ia berasal dari Yesaya 40:31, "tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." Menanti-nantikan TUHAN bukan sikap pasif. Orang begitu senantiasa mendekat kepada Dia dan berpegang pada janji-Nya, lalu kekuatan baru itu memenuhi dirinya dari luar kemampuannya sendiri.

Setelah keputusan itu, perubahan berjalan nyata. Rifka meninggalkan dunia malam, berhenti dari kebiasaan-kebiasaan lamanya, dan belajar mengampuni masa lalunya. Paulus menyebut kondisi semacam ini ciptaan baru. "Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru," tulisnya dalam 2 Korintus 5:17. Hal-hal lama berlalu, dan hal baru datang menggantikannya. Proses pada Rifka memang berjalan pelan-pelan, tidak dalam semalam. Namun arah hidupnya berbalik total. Kini bersama suaminya ia melayani warga binaan beserta keluarga mereka, orang-orang yang nyaris putus asa karena merasa hidupnya tak mungkin pulih lagi.

Bagian Paling Mengena bagi Saya

Saya kurang tertarik pada sisi dramatis kisah ini. Cara Tuhan menjawab kerinduan paling dasar Rifka lebih mengena bagi saya. Selama bertahun-tahun ia mencari penerimaan dan menemukannya di tempat yang merusaknya. Ketika sebuah komunitas percaya menerima dia tanpa menghakimi, kebutuhan itu akhirnya mendapat jawaban di tempat yang benar. Gereja yang ramah kepada orang rusak bukan bonus. Bagi banyak orang, gereja beginilah pintu pertama pulang.

Kesaksian ini juga mengingatkan saya bahwa pemulihan jarang instan. Rifka bertemu Tuhan pada 2008, dan Tuhan menyembuhkan luka masa kecilnya lewat proses bertahun-tahun. Mazmur 147:3 berkata demikian tentang-Nya, "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka." Kata "membalut" tepat sekali. Tuhan membalut satu lapis demi satu lapis, butuh waktu, kadang gatal di tengah jalan, sampai lukanya benar-benar sembuh.

Kalau Anda sedang berjalan di lembah serupa, perjalanan Rifka meninggalkan pesan sederhana. Mulailah jujur kepada Tuhan dari titik Anda sekarang, tanpa harus merapikan hidup lebih dulu. Carilah satu komunitas percaya yang mau menerima Anda apa adanya, sebab pertobatan dan pemulihan hampir tidak pernah jalan sendirian. Renungan tentang kekuatan baru untuk orang yang lelah bisa menemani Anda di sana, dan renungan tentang kasih setia Tuhan tiap pagi mengingatkan bahwa pengampunan-Nya tak habis oleh masa lalu kita.

Tidak ada masa lalu yang terlalu gelap bagi Tuhan. Rifka membuktikannya dengan hidupnya. Kalimat itu bisa menjadi milik siapa pun yang hari ini memutuskan menoleh kepada Dia.

Referensi

1. Redaksi Jawaban.com, "Ditinggal Ayah, Terjebak Dunia Malam, hingga Menemukan Hidup Baru dalam Kristus", 19 Agustus 2026: baca artikel aslinya.
2. Solusi TV, "Bertahun-tahun Hidup di Dunia Malam, Aku Akhirnya Merasa Sudah Tidak Sanggup", episode Solusi Talk, kanal YouTube resmi: tonton episodenya.
3. Alkitab Terjemahan Baru (LAI), ayat: Yesaya 40:31; 2 Korintus 5:17; Mazmur 147:3. Semua ayat dicek via API Alkitab SABDA.
4. Gambar: rajawali kepala botak terbang di langit, foto oleh Virginia State Parks via Wikimedia Commons, lisensi CC BY 2.0.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...