Langsung ke konten utama

Kesaksian Jemaat GKPI Rajeg Tetap Beribadah Setelah Gangguan

Ilustrasi jemaat sedang beribadah di dalam gereja, bukan foto ibadah GKPI Rajeg

Kesaksian jemaat GKPI Rajeg berlanjut pada Minggu, 4 Oktober 2026, saat mereka kembali beribadah di tempat baru di Kota Sutera, Pasar Kemis. Ibadah perdana berlangsung kondusif, menurut penatua jemaat Surya Sarjono Lumban Gaol dalam laporan Kompas.com. Kabar itu memberi kelegaan, tetapi tidak menghapus peristiwa yang membuat mereka harus pindah.

Ibadah yang sempat terhenti

Pada 20 September, sejumlah warga mendatangi sebuah rumah di Desa Mekarsari, Kecamatan Rajeg, saat jemaat berkumpul untuk beribadah. Mereka meminta jemaat menghentikan kegiatan itu. Media juga melaporkan dugaan ancaman dengan senjata tajam. Polisi menerima laporan terkait kejadian tersebut. Kita perlu menyebutnya sebagai dugaan, sebab proses hukum belum selesai dan setiap orang berhak mendapat pemeriksaan yang adil.

Setelah bermusyawarah dengan pemerintah setempat, pengurus jemaat menyepakati pemindahan kegiatan ibadah ke Kota Sutera. Wilayah itu secara administratif masuk Kecamatan Pasar Kemis, tetapi jaraknya hanya sekitar lima menit dari tempat semula, menurut Sarjono kepada Kompas.com. Pemerintah Kabupaten Tangerang memfasilitasi tempat agar jemaat dapat berkumpul lagi. Relokasi ini membantu mereka beribadah, meski belum menyelesaikan persoalan tentang hak beribadah.

Jemaat mengadakan ibadah perdana di sana pada 4 Oktober, dari pukul 10.00 sampai 12.00 WIB, menurut laporan FixsNews. Camat Rajeg, Kapolsek, dan personel Bhabinkamtibmas datang mendampingi jemaat, tulis Kompas.com. Sarjono mengatakan warga sekitar menyambut baik pertemuan awal itu. Ini kabar yang patut disyukuri, tanpa perlu berpura-pura seolah luka sebelumnya lenyap dalam satu Minggu.

Damai tidak meminta orang menutup mata

Banyak orang dapat salah paham terhadap ajakan berdamai, seolah jemaat harus diam. Saya tidak membaca Roma 12:18 sebagai tuntutan seperti itu. Ayat TB berbunyi, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” Frasa “kalau hal itu bergantung padamu” mengingatkan kita bahwa tindakan orang lain tidak selalu berada dalam kendali kita. Paulus kemudian meminta pembaca tidak membalas kejahatan, melainkan mengalahkannya dengan kebaikan dalam Roma 12:19–21. Damai tidak membenarkan intimidasi terhadap orang yang sedang beribadah.

Jemaat dapat meminta perlindungan dan menyampaikan keberatan melalui jalur resmi. Masyarakat luas perlu memeriksa kabar sebelum membagikannya serta menghindari tuduhan terhadap seluruh kelompok atas tindakan segelintir orang. Kepolisian perlu memeriksa perkara ini dengan cermat. Kerukunan tumbuh saat kita menghormati hak orang lain untuk beribadah dan berani membicarakan persoalan dengan jernih.

Proses hukum masih berjalan. Pada 12 Oktober, Polresta Tangerang menetapkan seorang berinisial AC sebagai tersangka atas dugaan gangguan terhadap kegiatan ibadah. Polisi tidak menahannya, tetapi mewajibkannya melapor setiap dua hari sekali, menurut Tirto.id yang mengutip ANTARA. Status tersangka bukan putusan pengadilan. Sehari kemudian, Sekretaris FKUB Kabupaten Tangerang meminta masyarakat menjaga ketenangan selama proses hukum berjalan, lapor Tribun Tangerang.

Pengharapan yang tetap berpijak

Mazmur 27:1 menyebut Tuhan sebagai terang, keselamatan, dan benteng hidup. Daud mengucapkan keyakinan itu saat menghadapi lawan, bukan setelah ancaman menghilang. Iman tidak menjanjikan keadaan langsung aman. Kadang iman memberi keberanian untuk melangkah sambil tetap meminta perlindungan dan keadilan.

Jemaat GKPI kembali berkumpul untuk beribadah di tempat baru. Kesaksian itu bukan tanda bahwa seluruh persoalan sudah selesai. Saya bersyukur mereka dapat beribadah lagi, sambil berharap warga menjaga hak jemaat dan polisi menuntaskan pemeriksaan. Doakan agar mereka dapat beribadah dengan aman dan masyarakat setempat terus membangun hubungan tanpa intimidasi.

Referensi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...