Langsung ke konten utama

Tidak Perlu Kuatir: Pelajaran dari Burung Pipit di Matius 6

Burung pipit itu tidak membawa tas kerja

Setiap pagi di halaman rumah-rumah yang saya lewati, burung pipit mulai sibuk. Mereka mencari biji-bijian, terbang dari pagar ke atap, lalu kembali lagi. Tak seorang pun menugasi mereka. Tak seorang pun membekali mereka peta tempat makan. Sampai sore hari mereka tetap makan.

Yesus menunjuk pemandangan sederhana ini ketika berbicara tentang kekuatiran. "Lihatlah burung-burung di udara, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, tetapi diberi makan oleh Bapamu. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada mereka?" (Matius 6:26 TB). Perbandingan ini menusuk. Burung pipit tidak pernah belajar asuransi jiwa. Mereka tidak menyimpan uang. Mereka hidup dari tangan Bapanya, hari demi hari.

Kita tidak. Kita menghitung gaji bulan depan sambil mengingat cicilan bulan lalu. Kita buka ponsel di tengah malam untuk mengecek kabar yang tidak membuat kita lebih tidur nyenyak. Kekuatiran menjadi pekerjaan sampingan tanpa upah, dan hampir semua orang mengambil pekerjaan itu.

Kekuatiran meminjam beban yang bukan miliknya

Yesus tidak berhenti di burung. Ia menyentuh soal esok hari, tempat kekuatiran paling rakus bekerja. "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari" (Matius 6:34 TB).

Ayat ini tidak melarang kita merencanakan. Menyusun anggaran, menyiapkan dokumen, datang tepat waktu, semua itu tanggung jawab. Larangannya satu, yakni membawa kesusahan hari besok ke dalam hari ini sebelum hari itu benar-benar tiba. Kekuatiran bekerja seperti orang yang menyewa barang dari hari depan, membayarnya hari ini, padahal barang itu belum tentu dikirim. Sebagian besar hal yang kita takuti tidak pernah terjadi. Sisanya ternyata bisa dipikul ketika datangnya tiba.

Meletakkan, bukan menanggung sendiri

Petrus, yang mengenal tekanan hidup lebih dari kebanyakan orang, memberi perintah yang sekaligus bisa dibaca sebagai tawaran. "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu" (1 Petrus 5:7 TB). Kata "serahkan" di ayat itu berarti melemparkan. Bukan disimpan pelan-pelan dalam hati. Justru dilemparkan seluruhnya, seperti tas berat yang diangkat dari pundak dan dibuang jauh.

Alasannya tertulis jelas, "sebab Ia yang memelihara kamu". Ayat itu tidak mengatakan masalah kita pasti lenyap besok pagi. Allah memelihara. Artinya Ia menanggung, menumbuhkan, menjaga kita tetap hidup di dalam masalah sekalipun. Gembala yang baik tidak selalu menghilangkan lembah, tetapi Ia berjalan melewatinya bersama domba-domba-Nya.

Paulus menambahkan satu bagian yang sering terlewat. "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur" (Filipi 4:6 TB). Doa itu bagian yang sudah kita tahu. Syukurnya yang sering tertinggal. Syukur bukan formalitas. Ia cara mengingat kembali bahwa sampai hari ini juga kita dipelihara. Mengingat pemeliharaan masa lalu membuat kita lebih ringan menyerahkan hari-hari yang belum datang.

Hari ini cukup

Saya tidak menulis ini sebagai orang yang sudah bebas mengkhawatirkan apa pun. Ada malam-malam ketika pikiran berputar tanpa ke mana-mana. Dan setiap kali saya mengingat burung pipit di pagar itu, satu hal kembali jelas. Allah tidak pernah meminta saya mengurus seluruh hidup saya sekaligus. Ia memberi kecukupan untuk hari ini. Besok, rekening itu dibuka lagi.

Kalau malam ini pikiranmu kembali berputar, coba mulai dari yang paling kecil. Sebutkan satu kekuatiran, satu saja, lalu serahkan. Tidak perlu kalimat yang indah. "Tuhan, soal ini aku tidak bisa. Aku lepaskan." Kalimat sesederhana itu cukup. Jaminannya sudah tertulis di 1 Petrus 5:7, Ia yang memelihara kamu.

Ayat Kunci

"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih daripada makanan dan tubuh itu lebih daripada pakaian?" (Matius 6:25 TB)

Referensi

Matius 6:25, 6:26, 6:34; 1 Petrus 5:7; Filipi 4:6, Terjemahan Baru (LAI), verifikasi via YouVersion dan Alkitab SABDA; renungan "Hal Kekuatiran, Matius 6:25-34" SarapanPagi Biblika. Gambar oleh Odd Rune Falch via Pexels.

Burung pipit terbang

Komentar

  1. Kemah memang seru, tidur dengan ditemani cahaya langit. Seperti lirik lagu Bermalam Bintang punya Rebellion Rose

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa Itu Dosa Menurut Alkitab? Lebih Dari Sekadar Daftar Larangan

"Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku." (Mazmur 51:5) Kalimat pengakuan Daud ini lama saya anggap terlalu keras. Lahir dalam kesalahan? Apa hubungannya bayi sepersalinan dengan pelanggaran? Lama kemudian saya paham arah pengakuannya. Daud sedang bicara tentang keadaan dirinya, bukan sekadar tentang isi riwayat hidupnya. Gereja sering mengucapkan kata dosa, namun jarang menjelaskan isinya. Kita hafal rumusnya, bahwa semua orang berdosa, tapi begitu ditanya apa sebenarnya dosa itu, jawaban sering berhenti pada contoh. Mabuk. Berzinah. Mencuri. Daftar semacam itu cuma menyentuh tepian. Orang Farisi punya daftar juga, dan daftar mereka rapi sekali. Dalam bahasa Yunani Perjanjian Baru, dosa paling sering muncul sebagai kata hamartia . Para pemanah Yunani memakai kata ini untuk anak panah yang meleset dari sasaran, dan Suara Injil menjelaskan arti dasarnya sebagai melenceng dari target sasaran. Allah menciptakan manusia untuk memuliaka...

Menjaga Lidah: Mengapa Satu Kalimat Bisa Membara

Sebatang korek api panjangnya sekitar lima sentimeter, kepalanya tidak lebih besar dari biji jagung. Satu percikan dari ujungnya sanggup menghabiskan sebidang hutan. Dalam suratnya, Yakobus menunjuk benda yang jauh lebih kecil dari korek api itu dan menyebutnya api. Lidah kita. "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5) Saya tidak sedang menyampaikan khotbah sopan santun. Banyak hubungan di sekitar kita retak gara-gara satu kalimat pedas, kalimat yang sebenarnya bisa kita telan dulu. Kalimat itu keluar dalam lima detik. Orang yang mendengarnya membawanya bertahun-tahun. Betapa kecilnya lidah, betapa besarnya dampaknya Yakobus menulis suratnya untuk jemaat yang sudah lama beribadah, bukan untuk pendatang baru. Justru kepada mereka itulah dia menyampaikan tegasan paling tajamnya. "Jikalau ada seorang mengan...

Cara Mengampuni Menurut Alkitab: Langkah Praktis Melepaskan Dendam

Dendam tidak pernah datang sendirian. Ia membawa kenangan yang kita putar berulang, rasa sakit yang kita rawat rapi, dan alasan-alasan yang kita susun sampai kedengarannya masuk akal. Kebanyakan orang Kristen tahu bahwa Alkitab menyuruh kita mengampuni. Yang jarang kita bahas adalah betapa berat langkah itu ketika lukanya masih terbuka, apalagi kalau orang yang menyakiti kita tidak pernah mengakui kesalahan. Saya menulis ini bukan dari posisi orang yang mahir mengampuni. Justru sebaliknya. Saya kenal betul perasaan membaca ayat-ayat tentang pengampunan lalu berpikir, "Tuhan, Engkau tidak tahu sedalam apa lukanya." Saya kira Anda juga pernah singgah di titik itu. Perasaan bisa menunggu, keputusan tidak Pertanyaan Petrus kepada Yesus dulu mengubah cara saya memahami pengampunan. Petrus bertanya, "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Jawaban Yesus mengejutkan adalah "Bukan! Aku berk...